4 Comeback Gemilang di Liga Champions

4 Comeback Gemilang di Liga Champions

- Sepakbola
Rabu, 13 Mar 2013 12:48 WIB
4 Comeback Gemilang di Liga Champions
Getty Images
Jakarta -

Deportivo La Coruna, perempatfinal 2003/04

Kalah 1-4 dari Milan di pertandingan pertama, Deportivo memikul beban berat saat melakoni laga kedua di kandangnya di Estadio Riazor. Modal "terbesar" mereka adalah sebuah gol buatan Walter Pandiani di San Siro.

Pandiani pula yang mulai meringankan beban berat itu di leg kedua. Ia sudah membuka skor di menit kelima, yang membuat Deportivo langsung bersemangat. Setengah jam kemudian, Juan Carlos Valeron kembali membobol gawang Milan.

"Tiba-tiba" tuan rumah unggul 3-0 dan kedudukan menjadi 4-4 setelah Albert Luque mencetak gol ketiga di menit 44. Misi Deportivo tuntas setuntas-tuntasnya setelah Fran membungkam Milan lewat golnya di menit ke-76. "Super Depor" berbalik menang 5-4 dan lolos ke semifinal.

Pelatih Deportivo kala itu, Javier Irureta, pun menunaikan haulnya. Sebelum pertandingan ia berjanji akan jalan kaki ke sebuah tempat ziarah di kota Santiago de Compostela. "Janji adalah janji," katanya.

AS Monaco, perempatfinal 2003/2004

Pada 24 Maret 2004, Monaco yang menjadi underdog harus menelan kekalahan 2-4 dari Real Madrid di Santiago Bernabeu. Sebastien Squillaci dan Fernando Morientes memberi sedikit harapan lewat gol-golnya. Sedangkan keempat gol Madrid dibuat Ivan Helguera. Luis Figo, Zinedine Zidane, dan Ronaldo.

Menjamu klub raksasa Spanyol itu di leg kedua di Stade Louis II, kans Monaco makin kecil setelah Raul Gonzalez menjebol gawang mereka di menit 36. Skor agregat menjadi 5-2 untuk Madrid.

Kekhawatiran agak mereda setelah Ludovic Giuly menyamakan kedudukan di akhir babak pertama. Morientes yang kala itu berstatus sebagai pemain Monaco pinjaman dari Madrid, memulihkan asa tim tuan rumah setelah menaklukkan Iker Casillas, tiga menit setelah restart.

Stadion terasa "pecah" setelah Giuly kembali mencetak gol di menit 76, yang membuat Monaco berbalik memimpin 3-1, dan mereka unggul gol tandang dari skor agregat 5-5! Madrid cuma nyaris membuat Monaco menangis ketika Raul dalam posisi bebas membuang kesempatan besar, ketika tembakannya melambung di menit-menit terakhir.

Comeback itu membuat Monaco lolos ke babak semifinal dan mereka sukses pula mengalahkan Chelsea. Baru di final mereka terhenti, oleh FC Porto.

Barcelona, perempatfinal 1999/2000

Leg II melawan Chelsea di Camp Nou boleh jadi merupakan salah satu pertandingan paling dramatis Barceloan di Liga Champions. Sebabnya, mereka kalah 1-3 di kandang lawan, dan berbalik menghancurkan tim Inggris itu dengan skor 5-1 di Catalan, melalui extra time.

Di Stamford Bridge, Barca kalah oleh gol Gianfranco Zola dan Tore Andre Flo (2) -- semuanya tercipta dalam selang delapan menit di babak pertama -- dan hanya membalas satu kali melalui Luis Figo.

Di Catalan, pasukan Louis van Gaal mulai membalas melalui gol Ronaldo (menit 29) dan Figo (45). Skor agregat sama, dan mereka bahkan unggul gol tandang.

Namun itu tidak cukup karena di menit 60 Flo menjebol gawang Barca. Tuan rumah kembali tertinggal. Dalam keadaan kritis, Dani Garcia menjadi pahlawan Los Cules lewat golnya di sisa tujuh menit babak kedua. Skor 3-1, agregat 4-4, kedua tim sama-sama punya satu gol tandang. Maka pertandingan pun dilanjutkan dengan babak tambahan.

Di fase menentukan ini Barca akhirnya tak terbendung. Gol penalti Ronaldo di menit 99, dan satu tambahkan lagi dari Patrick Kluivert di menit 104, membuat mereka menang 5-1 dan unggul agregat 6-4.

"Itulah malam terindah dalam hidupku," cetus bek sayap Barca kala itu, Gabri Barcia.

Chelsea, babak 16 besar 2011/2012

Inilah titik balik Chelsea melalui seseorang bernama Roberto di Matteo. Direkrut pada 4 Maret 2012, menggantikan Andre Villas-Boas yang dipecat, ia punya misi berat setelah Chelsea kalah 1-3 di kandang Napoli di leg I babak 16 besar.

Chelsea sempat di atas angin ketiga Didier Drogba dan John Terry membuat The Blues unggul 2-0 sampai menit 47. Sampai di situ mereka sudah menyamakan kedudukan agregat menjadi 3-3, dan menang gol tandang pula.

Akan tetapi Napoli belum menyerah. Gokhan Inler berhasil mengancam lagi Chelsea setelah mencetak gol di menit 55.

Frank Lampard mengembalikan kans The Blues lewat tendangan penalti di menit 75. Chelsea memimpin 3-1, tapi agregat sama kuat 4-4, dan itu bertahan sampai babak kedua selesai.

Di extra time, Branislav Ivanovic jadi pahlawan Chelsea lewat gol di menit 105, yang membuat timnya melampaui Napoli dengan kemenangan 4-1. Chelsea kemudian lolos sampai final, dan mengalahkan Bayern Munich di laga puncak, dan untuk pertama kalinya menjuarai Liga Champions.

"Mungkin ada beberapa malam hebat dalam karierku. Tapi yang ini mungkin yang terbaik dalam sejarah klub ini," ucap Di Matteo kala itu.



(Foto-foto: AFP dan Getty Images)
Halaman 2 dari 5
Kalah 1-4 dari Milan di pertandingan pertama, Deportivo memikul beban berat saat melakoni laga kedua di kandangnya di Estadio Riazor. Modal "terbesar" mereka adalah sebuah gol buatan Walter Pandiani di San Siro.

Pandiani pula yang mulai meringankan beban berat itu di leg kedua. Ia sudah membuka skor di menit kelima, yang membuat Deportivo langsung bersemangat. Setengah jam kemudian, Juan Carlos Valeron kembali membobol gawang Milan.

"Tiba-tiba" tuan rumah unggul 3-0 dan kedudukan menjadi 4-4 setelah Albert Luque mencetak gol ketiga di menit 44. Misi Deportivo tuntas setuntas-tuntasnya setelah Fran membungkam Milan lewat golnya di menit ke-76. "Super Depor" berbalik menang 5-4 dan lolos ke semifinal.

Pelatih Deportivo kala itu, Javier Irureta, pun menunaikan haulnya. Sebelum pertandingan ia berjanji akan jalan kaki ke sebuah tempat ziarah di kota Santiago de Compostela. "Janji adalah janji," katanya.

Pada 24 Maret 2004, Monaco yang menjadi underdog harus menelan kekalahan 2-4 dari Real Madrid di Santiago Bernabeu. Sebastien Squillaci dan Fernando Morientes memberi sedikit harapan lewat gol-golnya. Sedangkan keempat gol Madrid dibuat Ivan Helguera. Luis Figo, Zinedine Zidane, dan Ronaldo.

Menjamu klub raksasa Spanyol itu di leg kedua di Stade Louis II, kans Monaco makin kecil setelah Raul Gonzalez menjebol gawang mereka di menit 36. Skor agregat menjadi 5-2 untuk Madrid.

Kekhawatiran agak mereda setelah Ludovic Giuly menyamakan kedudukan di akhir babak pertama. Morientes yang kala itu berstatus sebagai pemain Monaco pinjaman dari Madrid, memulihkan asa tim tuan rumah setelah menaklukkan Iker Casillas, tiga menit setelah restart.

Stadion terasa "pecah" setelah Giuly kembali mencetak gol di menit 76, yang membuat Monaco berbalik memimpin 3-1, dan mereka unggul gol tandang dari skor agregat 5-5! Madrid cuma nyaris membuat Monaco menangis ketika Raul dalam posisi bebas membuang kesempatan besar, ketika tembakannya melambung di menit-menit terakhir.

Comeback itu membuat Monaco lolos ke babak semifinal dan mereka sukses pula mengalahkan Chelsea. Baru di final mereka terhenti, oleh FC Porto.

Leg II melawan Chelsea di Camp Nou boleh jadi merupakan salah satu pertandingan paling dramatis Barceloan di Liga Champions. Sebabnya, mereka kalah 1-3 di kandang lawan, dan berbalik menghancurkan tim Inggris itu dengan skor 5-1 di Catalan, melalui extra time.

Di Stamford Bridge, Barca kalah oleh gol Gianfranco Zola dan Tore Andre Flo (2) -- semuanya tercipta dalam selang delapan menit di babak pertama -- dan hanya membalas satu kali melalui Luis Figo.

Di Catalan, pasukan Louis van Gaal mulai membalas melalui gol Ronaldo (menit 29) dan Figo (45). Skor agregat sama, dan mereka bahkan unggul gol tandang.

Namun itu tidak cukup karena di menit 60 Flo menjebol gawang Barca. Tuan rumah kembali tertinggal. Dalam keadaan kritis, Dani Garcia menjadi pahlawan Los Cules lewat golnya di sisa tujuh menit babak kedua. Skor 3-1, agregat 4-4, kedua tim sama-sama punya satu gol tandang. Maka pertandingan pun dilanjutkan dengan babak tambahan.

Di fase menentukan ini Barca akhirnya tak terbendung. Gol penalti Ronaldo di menit 99, dan satu tambahkan lagi dari Patrick Kluivert di menit 104, membuat mereka menang 5-1 dan unggul agregat 6-4.

"Itulah malam terindah dalam hidupku," cetus bek sayap Barca kala itu, Gabri Barcia.

Inilah titik balik Chelsea melalui seseorang bernama Roberto di Matteo. Direkrut pada 4 Maret 2012, menggantikan Andre Villas-Boas yang dipecat, ia punya misi berat setelah Chelsea kalah 1-3 di kandang Napoli di leg I babak 16 besar.

Chelsea sempat di atas angin ketiga Didier Drogba dan John Terry membuat The Blues unggul 2-0 sampai menit 47. Sampai di situ mereka sudah menyamakan kedudukan agregat menjadi 3-3, dan menang gol tandang pula.

Akan tetapi Napoli belum menyerah. Gokhan Inler berhasil mengancam lagi Chelsea setelah mencetak gol di menit 55.

Frank Lampard mengembalikan kans The Blues lewat tendangan penalti di menit 75. Chelsea memimpin 3-1, tapi agregat sama kuat 4-4, dan itu bertahan sampai babak kedua selesai.

Di extra time, Branislav Ivanovic jadi pahlawan Chelsea lewat gol di menit 105, yang membuat timnya melampaui Napoli dengan kemenangan 4-1. Chelsea kemudian lolos sampai final, dan mengalahkan Bayern Munich di laga puncak, dan untuk pertama kalinya menjuarai Liga Champions.

"Mungkin ada beberapa malam hebat dalam karierku. Tapi yang ini mungkin yang terbaik dalam sejarah klub ini," ucap Di Matteo kala itu.



(Foto-foto: AFP dan Getty Images)

(a2s/mfi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads