Pada laga di Olympia Stadium, Munich, 16 tahun lalu itu Ricken memulai laga sebagai pemain cadangan, kendati dirinya mencetak masing-masing satu gol di babak perempatfinal dan semifinal. Kelak Ottmar Hitzfeld akan memainkannya di menit ke-70 untuk menggantikan Stephane Chapuisat.
Dortmund unggul 2-0 di babak pertama lewat dua gol Karl-Heinz Riedl. Marcello Lippi kemudian bereaksi di awal babak kedua dengan memainkan Alessandro Del Piero. Si nomor 10 --yang ketika itu berusia 23 tahun-- tersebut langsung memperkecil ketertinggalan Juventus lewat tendangan tumit, usai menerima umpan silang Alen Boksic dari sisi kiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Takdir ada di sisi saya hari itu," ujar Ricken mengenang dalam wawancaranya dengan situs resmi UEFA.
Ricken yang baru masuk lapangan berlari dari sisi kanan ke tengah pertahanan Juventus. Barisan pertahanan Juventus tengah naik sehingga ada ruang kosong di sana. Andy Moeller dengan jeli melepaskan umpan terobosan ke area tersebut. Ricken pun berlari untuk menyambutnya.
Lewat satu sentuhan, dia kemudian melepaskan sepakan lob yang cukup tinggi, melewati Peruzzi. Sang kiper tak bereaksi dan bola pun masuk ke dalam gawang Juve. Dortmund unggul 3-1 dan akhirnya memenangi laga tersebut.
"Saya mengamati dari bench selama 70 menit dan saya menyadari Peruzzi sering berdiri terlalu jauh dari gawang," ungkap Ricken.
"Saya kemudian bermain dengan pikiran itu di benak saya: 'Peruzzi selalu berdiri jauh di depan gawang, Peruzzi selalu berdiri jauh di depan gawang'."
Dan begitulah Ricken mencatatkan namanya dalam sejarah Dortmund. Yang unik, tendangan itu adalah sentuhan pertamanya setelah dia masuk ke lapangan.
(roz/a2s)











































