Untuk Di Matteo, Chelsea bukanlah klub asing. Ia pernah punya cerita manis bersama klub London itu baik semasa masih bermain ataupun ketika sudah duduk di kursi pelatih/manajer.
Bergabung dengan Chelsea sebagai pemain pada 1996, Di Matteo bermain tak kurang dalam 175 pertandingan. Ia membuat 26 gol dan turut membantu klub London itu meraih sejumlah titel di antaranya Piala FA, Piala Winners, dan Piala Super Eropa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tangan Di Matteo, Chelsea menjuarai Piala FA 2011-12 dengan mengalahkan Liverpool di final. Yang luar biasa, ia lalu juga mampu membawa The Blues memenangi Liga Champions setelah menang adu penalti atas Bayern Munich. Inilah titel pertama Chelsea di Liga Champions.
Keberhasilan tersebut membuat Chelsea menunjuk Di Matteo menjadi manajer tetap pada 13 Juni 2012. Ia diikat dengan kontrak dua tahun. Tetapi cuma beberapa bulan kemudian--November 2012--Di Matteo malah dipecat, sebuah langkah yang dinilai banyak kalangan terlalu keras dan prematur.
Setelah nyaris dua tahun tak lagi menangani klub, pada 7 Oktober lalu Di Matteo ditunjuk untuk menangani Schalke sepeninggal pelatih Jens Keller. Sejauh ini di bawah arahan Di Matteo, Schalke sudah menjalani tujuh pertandingan. Tiga di antaranya memang berakhir dengan kekalahan, tetapi empat lainnya sukses dimenangi yang mana seluruhnya terjadi di kandang sendiri.
Catatan kandang itulah yang sekarang bakal jadi salah satu modal ketika menjamu Chelsea, Rabu (26/11/2014) dinihari WIB, dalam sebuah laga yang juga disebut-sebut sebagai momen pembuktian dan revans Di Matteo atas The Blues yang sudah membuangnya.
"Kami memiliki partai Liga Champions pada hari Selasa di mana segalanya mungkin terjadi. Tapi kami ingin setidaknya satu poin," tegas Di Matteo di Eurosport.
Sejatinya nuansa itu bukan cuma diusung oleh Di Matteo saja. Nuansa pembuktian dan "balas dendam" disebut-sebut juga akan diusung peracik taktik Chelsea, Mourinho, ketika menyambangi Veltins Arena. Kenapa?
Well, kendatipun sudah mampu mempersembahkan sederet gelar untuk Chelsea dan jadi pujaan para suporter, faktanya Mourinho belum bisa mempersembahkan titel Liga Champions untuk klub itu--sesuatu yang sudah mampu dilakukan Di Matteo cuma beberapa bulan setelah jadi manajer penuh. Padahal sebelum ini Mourinho sudah sukses membawa Porto dan Inter Milan jadi jawara di ajang tersebut.
Atas kenyataan tersebut, Mourinho pun digadang-gadang punya misi tersendiri saat menghadapi Di Matteo, demi kebangaan dan pembuktian di hadapan para suporter Chelsea. Pria 51 tahun itu pun sudah langsung dimintai komentarnya atas hal tersebut.
"Bukan aku yang main melawan dirinya. Jika aku bermain menghadapinya, ia menang karena ia bermain lebih baik daripada diriku. Kecuali aku lebih bugar, yang mana aku sendiri tak tahu tentang itu, tapi ia sewajarnya menang karena ia bermain lebih baik daripada diriku.
"Ini merupakan pertandingan Chelsea menghadapi Schalke, bukan diriku lawan Di Matteo," tutur Mourinho di Daily Star.
Di laga nanti Chelsea dipastikan bakal lolos ke babak 16 besar jika mampu meraih kemenangan, sedangkan Schalke belum dapat memastikan lolos atau tersingkir apapun hasil di pertandingan tersebut.
(krs/rin)











































