Shakhtar Donetsk bak jadi tamu dalam pertandingan di kandang sendiri. Bagaimana tidak, laga melawan Bayern Munich tengah pekan ini tidak dihelat di kota asal mereka, Donetsk, melainkan di kota pengasingan, Lviv.
Faktanya, Shakhtar sudah jadi tamu di Lviv sejak awal musim ini bergulir. Di kota di sebelah Barat Ukraina itulah Shakhtar kini bermarkas. Shakhtar terpaksa mengungsi setelah Donetsk berubah menjadi medan perang sejak konflik antara Ukraina dan Rusia berkecamuk.
Donetsk menjadi basis dari pasukan pemberontak pro-Rusia. Situasi tersebut menyebabkan suasana di seluruh kota tidak aman. Bahkan, kandang Shakhtar, yakni Donbass Arena, juga tidak luput dari serangan bom.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Situasi tidak menentu itu jugalah yang membuat Shakhtar sempat tidak fokus bertanding. "Jika korban-korban berhenti berjatuhan, barulah kami bisa fokus ke pertandingan," ujar kiper Shakhtar, Andriy Pyatov, dalam wawancaranya dengan Guardian.
"Terkadang, kami bertanding dan mendengar berita bus diserang dan ada orang meninggal. Kami memikirkan itu. Itu membuat kami terpengaruh, meskipun kami menyembunyikannya."
Belum diketahui kapan Shakhtar bisa kembali ke rumah mereka. Sementara situasi kondusif belum bisa dicapai, juara Liga Primer Ukraina sembilan kali itu mengungsi sekitar 900 kilometer jauhnya ke kota Lviv di Barat.
Beradaptasi dengan Lviv bukan perkara mudah. Donetsk, yang berada di Timur, terkenal dengan orang-orang Ukraina yang banyak berbahasa Rusia. Sementara, sebaliknya, Lviv adalah kota dengan mayoritas penduduk berbahasa Ukraina.
Meski berbeda kultur, perlahan-lahan Shakhtar mampu mengambil hati masyarakat setempat. Seperti diakui oleh Pyatov, banyak para pengungsi yang datang ke kota Lviv dari Timur Ukraina kini mulai mendukung mereka.
"Bisa dibilang, kami bermain di sini sebagai seorang tamu. Tapi, beberapa mulai menyukai kami. Saya rasa, kami sudah menggoda beberapa fans untuk mulai mendukung kami. Ratusan orang mulai mendukung kami dari seluruh penjuru Ukraina," ucap Pyatov.
Kini perbincangan di ruang ganti dan meja makan para pemain Shakhtar berubah. Tidak lagi soal mobil atau kehidupan sehari-hari, melainkan apakah gencatan senjata antara pemerintah Ukraina dan pasukan pemberontak pro-Rusia sudah dicapai apa belum.
Sementara itu belum tercapai, Shakhtar akan terus menjalani masa pengungsian di Lviv. Beruntung buat mereka, kondisi tim sejauh ini tetap solid.
"Tidak ada yang pergi meninggalkan tim ini. Tim ini masih kuat seperti sebelumnya, bahkan mungkin lebih kuat. Keadaan sulit membuat jiwa, moral, dan psikis kami menjadi lebih tangguh," kata Pyatov.
Pertandingan antara Shakhtar vs Bayern Munich akan dihelat Selasa (17/2) malam waktu setempat di Arena Lviv. Shakhtar belum pernah memenangi sebuah laga Liga Champions melawan klub Jerman (2 imbang, 2 kalah). Mereka juga gagal mencetak gol di dalam tiga partai terakhir di Liga Champions menghadapi lawan asal Jerman.
(roz/krs)











































