Monaco sempat meredup ketika terdegradasi ke Ligue 2 di akhir musim 2009/2010. Mereka menutup liga dengan ada di urutan ke-17. Padahal mereka pernah jadi salah satu kekuatan penting di level Eropa. Monaco pernah jadi runner-up Piala Winners di tahun 1994 dan Liga Champions 2004.
Tak cuma semusim, Monaco malah betah tinggal di divisi kedua sepakbola Prancis itu sampai dua musim. Barulah setelah konglomerat Rusia Dmtry Rybolovlev membeli saham mayoritas klub di tahun 2011, Monaco kembali kinclong.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesempatan bermain di Liga Champions pun didapatkan. Sebuah momen untuk makin bersinar di level Eropa lagi terbuka untuk Monako. Mereka sukses mengalahkan Arsenal 3-1 pada leg pertama babak 16 besar Liga Champions Kamis (26/2/2015) dinihari WIB.
Kemenangan itu membuat Monaco menjejakkan satu kaki di perempatfinal. Mereka juga salah satu dari tiga tim, selain Manchester United dan Bayern Munich, yang membuat dua atau lebih gol dalam partai tandang Liga Champions menghadapi Arsenal.
"Orang-orang mengenal Monako karena Formula 1 dan Putri Grace. Orang-orang ingin berasosiasi dengan itu dan AS Monaco adalah duta olahraga yang pas," kata CEO AS Monaco Vadim Vasilyev seperti dikutip BBC.
"Membuat stadion penuh penonton masih jadi tantangan yang sulit untuk dipenuhi. Kami membutuhkan sesuatu yang baru. Tapi setidaknya nama kami dikenal di internet dan media sosial. Kami mempunyai fans besar di Prancis dan fans yang mendampingi kamiu ke laga-laga away termasuk yang terbesar.
"Kami tak akan meraih apa yang kami miliki saat ini tanpa investasi besar. Kami terbatasi Financial Fair Play. Tapi kami tetap berambisi untuk jadi pemain penting di level Eropa dan demi kerajaan Monako," tekad Vasilyev.
Tapi, misi Monaco belum benar-benar tercapai. Monaco belum benar-benar menjejak perempatfinal. Satu ujian masih harus dilakoni di leg kedua yang bergulir 17 Maret.
(fem/roz)










































