Chelsea terhenti di babak 16 besar Liga Champions setelah ditahan imbang Paris Saint-Germain 2-2, pada laga leg kedua di Stamford Bridge, Kamis (12/3/2015) dinihari WIB tadi. Mereka kalah gol tandang dengan agregat 3-3.
Tampil di kandang sendiri dan datang dalam posisi unggul gol satu gol tandang, Chelsea sepatutnya dalam posisi lebih baik. Mereka memang dua kali mampu meraih keunggulan, tapi dua kali pula lengah sehingga kebobolan lewat sepak pojok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait kegagalan Chelsea melaju ini, muncul anggapan para pemain kelelahan menjalani periode padat selayaknya tim-tim Inggris. Sejak pergantian tahun, ada empat kompetisi yang diikuti Chelsea yakni Premier League, Piala FA, Piala Liga Inggris, dan Liga Champions.
Pada prosesnya memang mereka terhenti di Piala FA, sedang di Piala Liga sukses menutup kampanye sebagai juara. Tapi tak bisa membantah kenyataan bahwa ada banyak laga yang harus dijalani.
Sebelum menghadapi PSG, total ada 14 pertandingan yang dijalani Chelsea sejak pergantian tahun. Jika dihitung jarak antara laga pertama saat melawan Tottenham Hotspur sampai melawan West Ham United pada periode tersebut, rentangnya adalah 63 hari. Artinya satu laga dijalani dengan jeda hanya 4,5 hari.
Itu belum termasuk mempertimbangkan akumulasi periode yang sangat padat pada Desember. Inggris memang tak mengenal jeda musim dingin. Alih-alih libur, mereka malah melakoni sebulan yang padat dengan delapan laga atau jeda antar laganya hanya 3,8 hari.
Tapi Mourinho membantah menyebut kelelahan sebagai faktor timnya gagal ke perempatfinal. Dia menyebut anak asuhnya memang tampil kurang apik, dengan konsentrasi dan tanggung jawab sebagai isu utama.
"Tidak ada akumulasi dari banyaknya pertandingan. Cuma ada periode normal latihan menggunakan metodologi yang sama, yang telah membawa kami memuncaki liga sejak hari pertama," kata Mourinho di situs resmi klub.
"Terlepas dari Matic yang cuma berlatih satu hari, semua pemain berlatih seperti biasa. Ini jelas bukan disebabkan situasi fisik, bukan itu alasannya," tambahnya.
"Ini soal kurangnya konsentrasi, ini soal kurangnya tanggung jawab untuk bertarung dengan pemain-pemain yang harus dijaga dan ruang-ruang yang perlu ditangani," demikian pria 52 tahun ini.
(raw/fem)











































