Di leg pertama yang dihelat di Emirates Stadium 25 Februari lalu, Arsenal sebenarnya menguasai total pertandingan. Ada 26 tembakan sepanjang 90 menit yang dibuat oleh anak-anak 'Gudang Peluru'.
Sayang Monaco yang cuma punya 9 tembakan lebih cerdik dalam memanfaatkan peluang dan mampu membobol tiga kali gawang David Ospina, yang cuma sekali dibalas oleh tuan rumah.
Dalam posisi tertinggal 1-3, Arsenal punya tugas berat untuk bisa membalikkan keadaan di leg kedua yang dihelat di Stade Louis II, Rabu (18/3/2015) dinihari WIB. Sejak era Liga Champions belum pernah ada tim yang mampu lolos setelah tertinggal selisih dua gol lebih dulu.
Arsenal coba untuk menjadi tim pertama yang melakukannya dan sejak awal langkah mereka sudah benar, dengan menekan habis pertahanan Monaco. Gol Olivier Giroud di menit ke-32 jadi pembuka jalan untuk Arsenal meraih tiket lolos.
Sayangnya dari berbagai kesempatan yang didapat, cuma Aaron Ramsey yang berhasil menambah gol di menit ke-79. Alhasil kemenangan 2-0 tak cukup meloloskan Arsenal yang kalah agresivitas gol tandang 3-3.
Soccernet mencatat Arsenal sangat dominan dengan 17 tembakan di mana tujuh on goal, sementara tak ada satupun dari tiga usaha Monaco yang menemui sasaran.
Wajar jika kemudian Wenger menyesali nasib sial yang menimpa Arsenal di dua leg ini terkait buruknya penyelesaian akhir para pemainnya.
"Kami tahu bahwa sulit untuk mencetak tiga gol, tapi kami tidak pernah benar-benar memanfaatkan peluang dengan baik," ujar Wenger kepada BeIN Sport seperti dikutip Reuters.
"Ini bukan soal siapa pantas lolos, tapi lebih pada efisiensi permainan. Kami juga membuat beberapa kesalahan fatal di leg pertama. Monaco sangat beruntun, kami harus memberi mereka selamat," lanjutnya. (mrp/raw)











































