Pencapaian Fernando Torres bersama Atletico Madrid di liga masih terbilang biasa-biasa saja. Namun, siapa sangka Torres jadi "jimat" Atletico di perdelapanfinal Liga Champions.
Di luar ingar-bingar kepulangannya ke Vicente Calderon, dengan lebih dari ribuan fans menyambutnya di dalam stadion, tidak ada yang luar biasa dari pencapaian Torres bersama Atletico sejauh ini.
Dari 15 kali bertanding dengan kostum merah-putih, Torres baru menyumbang tiga gol. Ketiga gol itu pun diciptakannya di ajang Copa del Rey --bukan La Liga--, kompetisi di mana Atletico sudah tersingkir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi, Torres adalah Torres. Bukan Torres namanya jika tidak mencuri perhatian. Sejak bergabung dengan Chelsea, hingga kemudian AC Milan, ketumpulannya di depan gawang acapkali dijadikan bahan olok-olok pendukung lawan. Namun, Torres boleh tersenyum untuk satu atau dua hal yang dia miliki.
Ambil contoh dengan pencapaian trofinya yang tergolong mentereng. Bersama Chelsea, Torres pernah menjuarai Piala FA, Liga Champions, dan Liga Europa. Di luar pencapaian di level klub, dia juga pernah menjuarai Piala Dunia dan Piala Eropa --dua kali-- bersama tim nasional Spanyol.
Sudah begitu, Torres masih sempat-sempatnya menjadi peraih 'Sepatu Emas' di Piala Eropa 2012, gelar yang tentunya didapat oleh pemain tersubur sepanjang turnamen. Setahun berselang, dia meraih trofi serupa pada ajang Piala Konfederasi. Dua gelar tersebut seakan-akan menjadi jawaban atas olok-olok tumpul yang diarahkan kepadanya.
Tahun 2012, ketika masih berkostum Chelsea, Torres menjadi pemasti langkah klub asal London Barat itu ke final Liga Champions 2012. Golnya ke gawang Barcelona menjelang akhir laga di Camp Nou membuat Chelsea mengunci tiket ke partai puncak.
Pada intinya, Torres memang belum tampil luar biasa dalam beberapa tahun belakangan. Namun, bukan berarti dia amat sangat jelek. Ketika Atletico mengalami kebuntuan, sang pelatih, Diego Simeone, berpaling kepadanya untuk menjadi pemecah kebuntuan itu. Seakan-akan, Torres adalah sebuah jimat.
Ini terjadi ketika Atletico menghadapi Bayer Leverkusen di leg II perdelapanfinal Liga Champions, Rabu (18/3) dinihari WIB. Dalam keadaan unggul 1-0, Atletico butuh tambahan gol untuk bisa lolos. Ketika itu, agregat kedua kesebelasan sama kuat 1-1.
Torres masuk pada menit ke-83 untuk menggantikan Mario Mandzukic. Nama yang disebut terakhir tersebut sempat mendapatkan cedera ringan di babak pertama sehingga performanya jadi tidak maksimal. Sepanjang laga, tidak satu kali pun Mandzukic menghasilkan attempts atau attempts on target.
Torres bermain sampai pertandingan dilanjutkan ke babak adu penalti. Bahkan, dia ikut menjadi salah satu algojo Atletico. Catatannya lebih baik ketimbang Mandzukic: 37 menit bermain, Torres menorehkan 2 attempts (1 on target).
Sebagai penendang kelima Atletico, Torres melaksanakan tugasnya dengan baik. Dia membawa Atletico unggul 3-2 dalam babak adu penalti tersebut. Mau tidak mau, Stefan Kiessling, sebagai algojo kelima Leverkusen, harus berhasil.
Ketika tendangan Kiessling melambung, seluruh anggota tim Atletico pun bersorak. Mereka lolos. Di luar kegagalan Kiessling, Torres ikut jadi penentunya.
"Malam-malam di stadion ini adalah malam yang spesial. Dan malam seperti layak untuk dikenang," ujar Torres seusai pertandingan.
"Spirit yang kami tunjukkan, spirit dari tim ini, adalah spirit yang sudah saya kenali sejak saya kecil. Saya turut senang untuk para pendukung, mereka layak mendapatkan hasil seperti ini," kata Torres.
(roz/a2s)











































