Paris Saint-Germain sudah ditunggu laga penting melawan Olympique Marseille akhir pekan ini. Namun, PSG enggan lompat fokus. Ada Shakhtar Donetsk dulu di depan mata.
Shakhtar menjadi lawan kedua PSG di fase grup Liga Champions musim. Pada pertandingan pertama dua pekan lalu, PSG sukses meraih kemenangan 2-0 atas Malmo.
Kendati menang, pelatih PSG, Laurent Blanc, menilai bahwa timnya masih memiliki kekurangan. Blanc menyebut, seharusnya Thiago Silva dkk. bisa mencetak lebih dari dua gol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kekecewaan Blanc beralasan jika melihat catatan statistik pertandingan tersebut. PSG tampil sangat dominan dengan penguasaan bola mencapai 69%. Mereka melepaskan 21 tembakan sepanjang laga dan 10 di antaranya tepat sasaran. Sementara Malmo cuma bisa membalas lewat empat tembakan dan satu yang mengarah ke gawang.
Pada Kamis (1/10) dinihari WIB, PSG akan menghadapi Shakhtar di Lviv. Efektivitas PSG akan kembali diuji. Penyerang PSG, Edinson Cavani, menyebut bahwa laga ini jadi fokus utama saat ini, kendati Le Classique menanti.
"Kami punya ambisi untuk memenangi trofi. Saya pikir, salah satu tujuan utama klub ini adalah menjuarai Liga Champions. Saya harap, kami bisa memenanginya," kata Cavani kepada RMC.
"Ini spesial karena Le Classique adalah sesuatu yang indah. Semuanya ingin ambil bagian dalam laga spesial itu dan kami tahu seperti apa pentingnya buat fans," lanjut Cavani.
Le Classqiue atau Derby de France adalah label untuk pertemuan antara PSG dan Marseille. Julien Laurens, jurnalis sepakbola ternama asal Prancis, menyebut Le Classique sebagai sebuah pertandingan yang memecah negara menjadi dua; Paris melawan Prancis.
Paris merepresentasikan arogansi, sementara Marseille merepresentasikan kebersamaan. "Le Classique adalah pertandingan antara klub mewah melawan klub milik masyarakat," kata Laurens.
[Baca Juga: Le Classique, Paris Melawan Marseille dan Orang Prancis Lain]
(roz/din)










































