Guardiola datang ke Bayern setelah membangun reputasi bersama Barcelona dan setahun puasa melatih. Niat serius ditunjukkannya dengan belajar bahasa Jerman selama puasa melatih itu dan mempraktikkannya pada konferensi pers pertamanya dengan Bayern.
Wajar kalau fans Bayern antusias. Guardiola, bersama Barcelona-nya dulu, memenangi semua trofi yang bisa dimenangi di level teratas kancah sepakbola domestik, Eropa, dan dunia. Ada dua trofi Liga Champions yang ia persembahkan untuk Barca, yakni pada tahun 2009 dan 2011.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlebih, Guardiola datang menggantikan Jupp Heynckes, pria yang pada musim 2012/2013 mempersembahkan trofi Liga Champions untuk Bayern.
[Baca Juga: Guardiola Sadar Suksesnya di Bayern Bergantung pada Juara Liga Champions]
"Saya pernah membaca di Munich bahwa tanpa memenangi Liga Champions, pekerjaan saya tidak akan lengkap. Saya harus menerimanya," ujar Guardiola ketika itu.
Pada musim terakhirnya di Bayern, ketika ia sudah memutuskan untuk pindah ke Manchester City musim depan, Guardiola sekali lagi membawa skuatnya lolos ke semifinal.
Namun, sama seperti pada dua musim sebelumnya, Guardiola menemui kegagalan. Pada tiga musimnya di Bayern, ia selalu dikandaskan oleh tim-tim asal Spanyol di semifinal: oleh Real Madrid pada 2013/2014, oleh Barcelona pada 2014/2015, dan oleh Atletico Madrid pada 2015/2016.
Rabu (4/5/2016) dini hari WIB, di Munich, Guardiola menyaksikan timnya tersingkir kendati menang 2-1 atas Atletico. Sebuah gol dari Antoine Griezmann di awal-awal babak kedua membuat Atletico mengantongi satu gol tandang. Dengan agregat 2-2 dan satu gol tandang itu, Atletico mendapatkan keunggulan.
Kendati begitu, Guardiola tidak sepenuhnya kecewa. "Anda baru boleh kecewa ketika Anda tidak tampil bagus, ketika Anda pulang ke rumah dan merasa tidak mengerahkan kemampuan terbaik. Hari ini, saya tidak merasa seperti itu," kata pria berusia 45 tahun ini.
(roz/cas)










































