Madrid menang 2-1 pada leg kedua babak 16 besar melawan PSG di Parc de Princes, Rabu (7/3/2018) kemarin. Hasil itu memastikan Los Blancos lolos meyakinkan ke perempatfinal dengan agregat 5-2.
Untuk PSG, ini berarti musim kedua secara beruntun di mana mereka terdepak di babak 16 besar. Alih-alih peningkatkan, hasil mereka di Liga Champions malah menurun mengingat empat musim sebelumnya selalu sampai di perempatfinal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan pada laga leg kedua di hadapan pendukung sendiri, PSG kesulitan menciptakan peluang dan dibuat frustrasi oleh Madrid.
Baca juga: Kekecewaan Besar Neymar atas Kekalahan PSG |
"Madrid menghadapi tim yang sangat lemah. PSG itu cuma sekumpulan individu. Kata 'permainan' itu bisa sulit untuk dijelaskan, tapi itu membuat perbedaan," kata Sacchi kepada Mediaset seperti dilansir Football Italia.
"Ide-ide tak bisa dibeli. Saya berpikir saya akan melihat sebuah tim PSG yang tampil dengan 'menggigit pisau' (istilah Italia untuk mengungkapkan sikap bersungguh-sungguh), tapi berakhir dengan melihat Real Madrid bermain seperti sambil merokok," imbuh pria yang membawa AC Milan memenangi Piala Champions (Liga Champions format lama) dua musim beruntun, pada 1988/1989 dan 1989/1990 ini.
(raw/yna)











































