sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Kamis, 05 Nov 2020 21:00 WIB

Ini yang Bikin Hasil Tes COVID-19 UEFA dan Liga Italia Bisa Beda

Randy Prasatya - detikSport
SAINT PETERSBURG, RUSSIA - NOVEMBER 03: Andreas Pereira of SS lazio ahead of the UEFA Champions League Group F stage match between SS Lazio and Zenit St. Petersburg at  on November 03, 2020 in Saint Petersburg, Russia. (Photo by Marco Rosi - SS Lazio/Getty Images) Lazio mengalami masalah dengan hasil tes COVID-19 milik UEFA. (Foto: Getty Images/Marco Rosi - SS Lazio)
Jakarta -

Berulang kali telah terjadi hasil tes COVID-19 yang berbeda antara UEFA dan Liga Italia. Apa sebenarnya yang terjadi?

Selama beberapa pekan terakhir ada situasi kontroversial dalam penemuan hasil tes COVID-19. Bek Inter Milan, Achraf Hakimi, dinyatakan positif virus Corona dalam hasil tes swab UEFA, namun dua hari berselang dianggap negatif melalui pemeriksaan di Serie A.

Situasi paling rumit menimpa Lazio setelah beberapa pemainnya dinyatakan positif virus Corona jelang laga melawan Club Brugge di Liga Champions. Mereka yang dinyatakan positif di antaranya Ciro Immobile dan Lucas Leiva.

Dua nama tersebut kemudian bisa bermain ketika Lazio berhadapan dengan Torino di ajang Liga Italia. Keduanya dinyatakan negatif COVID-19 selang beberapa hari melawan Club Brugge.

Masalah kembali berlanjut jelang Lazio meladeni Zenit di Liga Champions, Kamis (5/11/2020). Immobile dan Lucas Leiva kembali mendapat hasil positif dari tes COVID-19 milik UEFA.

Tes lanjutan kemudian dibuat dan setengah jam sebelum laga dimuali, kedua pemain itu mendapat hasil negatif. Meski demikian, UEFA tak membei izin Immobile dan Lucas Leivaa bermain.

Presiden Asosiasi Masyarakat Patologi dan Kedokteran Laboratorium Dunia, Profesor Roberto Verna, menjelaskan duduk perkara munculnya perbedaan hasil tes antara UEFA dan Liga Italia.

"UEFA dan FIGC (Federasi Sepakbola Italia) harus mencapai semacam konsensus. Para ahli harus diajak berkonsultasi untuk menyetujui viral load seperti apa yang bisa menyatakan hasil positif. Tes PCR mencari asam nukleat virus, yang kemudian diperkuat di laboratorium untuk membuatnya terlihat secara kuantitatif," kata amplify kepada Radio TMW, yang dikutip oleh Football Italia.

"Bisa positif dengan viral load yang berbeda, dan juga infektif yang berbeda. Tes antigen (antibodi), bagaimanapun, adalah sistem untuk menemukan antigen pada kapsul virus," sambungnya.

"Karena itu adalah tes yang kurang sensitif, yang hanya mengidentifikasi viral load jika cukup tinggi, ini sangat penting terhadap tingkat klinis, karena ini menunjukkan kepada kita siapa yang lebih infektif."

"Saat Anda memperkuat dengan cara tersebut, yang diperlukan hanyalah memperkecil kesalahan untuk memperkuat aspek lain dan orang tersebut dapat dites positif karena yang direplikasi bukanlah virus."

"Dalam kasus COVID-19, ada tiga gen yang menghasilkan tiga protein berbeda di dalam kapsul. Dari ini, tampaknya seseorang tidak menunjukkan apakah terinfeksi, tetapi itu mengarah pada hasil positif dalam tes UEFA."

Verna menegaskan tidak ada yang salah terkait hasil di UEFA dan di Liga Italia. Perbedaan parameter dari kedua pihak yang membuat hasil menjadi berbeda.

"Lazio tidak melakukan kesalahan, itu tergantung siapa yang memutuskan apa yang positif dan apa yang tidak," lanjut Profesor Verna.

"UEFA mengacu kepada interpretasi tertentu, sedangkan di Italia, kami mengatakan orang yang sama negatif karena parameter yang berbeda," tegasnya.

(ran/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com