European Super League Jangan Sampai Korbankan Nasib Pemain

Adhi Prasetya - Sepakbola
Selasa, 20 Apr 2021 07:30 WIB
Juventus Adrien Rabiot squats on the pitch during a Serie a soccer match between Atalanta and Juventus, in Bergamo stadium, Sunday, May 18, 2021. (Stefano Nicoli/LaPresse via AP)
Para pemain yang tampil di European Super League dilarang tampil membela timnas masing-masing. Foto: AP/Stefano Nicoli
Jakarta -

Para pemain yang bermain di European Super League terancam sanksi yang berat. FIFPRO pun turun tangan agar para pemain tak jadi korban dalam masalah ini.

Seperti diketahui, UEFA selaku otoritas tertinggi sepak bola Eropa mengecam inisiasi pembentukan European Super League yang digagas 12 klub dari Inggris, Spanyol, dan Italia pada Minggu (18/4) lalu. Hukuman bagi yang berpartisipasi pun sudah dijelaskan.

Khusus untuk pemain yang turun di European Super League, tak cuma dilarang tampil di kompetisi domestik negara masing-masing, mereka juga akan dilarang tampil di kejuaraan level timnas, seperti di Piala Eropa dan Piala Dunia.

Andrea Agnelli, Florentino PerezAndrea Agnelli (kiri) dan Florentino Perez, dua petinggi European Super League. Foto: Twitter @ClubSvezia

Hal ini yang menjadi fokus FIFPRO. Organisasi yang menaungi para pemain profesional itu tak mau pemain kena getahnya hanya karena keputusan yang berada di luar kuasa mereka.

"Keputusan itu tak hanya menimbulkan kekhawatiran dan pertanyaan dari para pemain. Tak hanya soal struktur dan identitas budaya sepak bola, namun juga soal karier mereka," bunyi pernyataan FIFPRO, dikutip Football Italia.

"Sepakbola dibangun oleh warisan sosial budaya yang unik. Tak hanya memberikan hubungan luar biasa dengan para penggemar, namun juga menciptakan alat untuk menyebarkan permainan profesional yang tak ditemui di olahraga lain."

TALLINN, ESTONIA - AUGUST 15:  UEFA President, Aleksander Ceferin looks on during the UEFA Super Cup between Real Madrid and Atletico Madrid at Lillekula Stadium on August 15, 2018 in Tallinn, Estonia.  (Photo by Alexander Hassenstein/Getty Images)Presiden UEFA Aleksander Ceferin. Foto: Getty Images/Alexander Hassenstein

"Agar tercipta situasi yang berkelanjutan, kerja sama berbasis solidaritas dan hubungan yang sehat antara kompetisi domestik dan internasional jelas amat penting," jelas pernyataan tersebut.

Oleh sebab itu, FIFPRO tak setuju dengan ancaman UEFA, yang nantinya akan memberatkan pemain. Apalagi perseteruan UEFA dengan 12 klub inisiator European Super League dianggap tak memikirkan kepentingan fans maupun pemain. FIFPRO berharap ada diskusi lanjut soal ini.

"Pemain terus digunakan sebagai alat dalam negosiasi ini. Ini tidak dapat diterima untuk FIFPRO, 64 asosiasi pemain nasional kami, dan 60 ribu pemain yang kami wakili," lanjut pernyataan FIFPRO.

"Kami akan menentang keras langkah-langkah oleh kedua belah pihak yang akan menghalangi hak-hak pemain, seperti dikeluarkan dari tim nasional mereka," tegas pernyataan tersebut.

(adp/raw)