Lelah Chelsea Terbayar Lunas

Rifqi Ardita Widianto - Sepakbola
Minggu, 30 Mei 2021 10:35 WIB
PORTO, PORTUGAL - MAY 29: Players of Chelsea celebrate victory following the UEFA Champions League Final between Manchester City and Chelsea FC at Estadio do Dragao on May 29, 2021 in Porto, Portugal. (Photo by Manu Fernandez - Pool/Getty Images)
Chesea merayakan kemenangan atas Manchester City di final Liga Champions. (Foto: Getty Images/Manu Fernandez - Pool)
Jakarta -

Chelsea harus terus berlari, mengejar bola ke sana-sini, membendung Manchester City. Melelahkan memang, tapi trofi Liga Champions terlalu dekat buat dilepaskan.

Chelsea sukses menjadi juara Liga Champions 2020/2021 usai mengalahkan Manchester City di Estadio Do Dragao, Porto, Minggu (30/5/2021) dini hari WIB. Gol Kai Havertz di menit ke-42 menjadi satu-satunya pembeda di pertandingan ini.

Sejak sepak mula, Manchester City menunjukkan intensi untuk menguasai permainan. Tengok saja persentase penguasaan bola mereka yang mencapai 58%, seperti dicatat UEFA.

Tapi Chelsea-nya Thomas Tuchel kurang lebih sudah tahu cara meredam Man City, seperti yang ditunjukkan di dua laga sebelumnya. The Blues polesan Tuchel seperti diketahui selalu menang atas Man City, 1-0 di Piala FA dan 2-1 di Premier League.

Resep serupa sukses diterapkan, membikin Man City hanya punya satu peluang on target kendati banyak menguasai bola. Chelsea? Mereka memang mengincar sedikit peluang saja untuk dimanfaatkan, dengan Havertz menuntaskan satu dari dua tembakan on target timnya.

Selepas unggul, Chelsea sadar mesti lebih merapatkan barisan dan menjaga fokus. Aliran dan perpindahan bola yang cepat dari Manchester City niscaya sangat berbahaya jika gagal diikuti alurnya.

"Kami berjuang sangat keras hari ini. Kami sejak awal tahun ini akan jadi laga berat. Di babak kedua, kami berjuang mati-matian untuk mendapatkan momen ini, untuk mengalami perasaan ini," ungkap bek Chelsea Ben Chilwell dilansir BBC.

Chelsea memeragakan apa yang diakui Manajer Man City Pep Guardiola sebagai 'sebab The Blues begitu menyulitkan'. Tuchel menginstruksikan para pemainnya untuk bermain rapat di tengah, memaksa Man City bermain melebar dan menetralkannya di sana.

Chilwell mengonfirmasi strategi itu. Tapi persoalannya, membendung Man City selama 90 menit lebih sangatlah melelahkan. Hanya bayangan mengangkat trofi Liga Champions yang bisa membuat para pemain menepikan letih.

Sebagai catatan, Chelsea melahap total 111,6 km, yang mana 1 km lebih banyak dari total jelajah pemain-pemain Manchester City (110,5 km).

"Kuncinya adalah bermain rapat dan agresif. Saya sebenarnya kelelahan seiring laga berjalan, tapi ketika Liga Champions dalam jangkauan, Anda tak betul-betul merasakan lelahnya," sambungnya.

"Semua orang bertahan mati-matian. Kami sudah memenangi Liga Champions, jadi saya tidak akan peduli bagaimana permainan kami," tandas bek internasional Inggris ini.

(raw/aff)