Guardiola dan Pujian Paus Fransiskus

Yanu Arifin - Sepakbola
Selasa, 01 Jun 2021 10:15 WIB
Manchester Citys head coach Pep Guardiola reacts after the Champions League final soccer match between Manchester City and Chelsea at the Dragao Stadium in Porto, Portugal, Saturday, May 29, 2021. (David Ramos/Pool via AP)
Pep Guardiola mengenakan medali perak Liga Champions, usai Man City kalah dari Chelsea di final. (Foto: David Ramos/AP)
Roma -

Pep Guardiola tak merasa berkecil hati meski kalah di final Liga Champions. Hal itu yang membuatnya dipuji Paus Fransiskus, pemimpin umat Katolik sedunia.

Guardiola harus meratapi nasib masih gagal membawa Manchester City juara di Eropa. Capaian terbaiknya ternyata cuma bisa membawa The Citizens menjejakkan kaki di final.

City bisa dibawa Guardiola ke final Liga Champions musim ini, yang menjadi final pertama klub di ajang tersebut. Chelsea menjadi lawannya di Estadio Do Dragao, Porto, Portugal, Minggu (30/5/2021) dini hari WIB.

Meski sempat difavoritkan, City nyatanya kalah 0-1 dari Chelsea. Gawangnya dibobol Kai Havertz, yang mengubur mimpi City meraih treble winners, setelah sudah mengawinkan gelar juara Liga Inggris dan Piala Liga Inggris musim ini.

Guardiola pun harus puas merebut medali perak Liga Champions. Namun, eks pelatih Barcelona dan Bayern Munich itu rupanya tak berkecil hati.

Pria 50 tahun itu terlihat mengecup medali peraknya sesaat dikalungkan kepadanya. Momen itu rupanya disorot Paus Fransiskus, pemimpin umat Katolik sedunia.

Paus Fransiskus, yang juga penggila sepakbola, memuji sikap Guardiola saat memberi ceramah kepada Federasi Basket Italia. Meski tak spesifik menyinggung Guardiola, namun ia memberi contoh seperti apa yang dilakukan Guardiola.

Pope Francis blows inside an amphora containing holy oil during a Chrism Mass inside St. Peter's Basilica, at the Vatican, Thursday, April 1, 2021. During the Mass the Pontiff blesses a token amount of oil that will be used to administer the sacraments for the year. (AP Photo/Andrew Medichini, pool)Paus Fransiskus (Foto: Andrew Medichini/AP)

"Di sini saya ingin menggarisbawahi sikap di hadapan kekalahan. Mereka mengatakan kepada saya bahwa, suatu hari, saya tidak tahu di mana, ada pemenang dan yang finis kedua, yang tidak berhasil. Dan yang finis kedua mencium medali," kata Paus Fransiskus, dilansir Italy24News.

"Biasanya, saat kami finis kedua, ada moncong seperti ini, kami sedih, dan saya bahkan tidak mengatakan bahwa kami melempar medali, tetapi kami memiliki keinginan untuk melakukannya. Tapi ini mencium medali", tegasnya.

"Ini mengajarkan kita, bahwa bahkan dalam kekalahan bisa ada kemenangan: menerima kekalahan dengan kedewasaan, karena ini membuat Anda tumbuh. Itu membuat Anda mengerti bahwa dalam hidup tidak selalu semuanya manis, tidak selalu semuanya menang, terkadang Anda mengalami pengalaman kekalahan ini."

"Dan ketika seorang olahragawan, seorang olahragawan, tahu bagaimana memenangkan kekalahan seperti ini, dengan bermartabat, dengan kemanusiaan, dengan hati yang besar, ini adalah kehormatan sejati, kemenangan manusia sejati," ujar Paus Fransiskus dalam khotbahnya.

(yna/ran)