Guardiola Sudah Biasa Dikritik karena Utak-atik Taktik

Guardiola Sudah Biasa Dikritik karena Utak-atik Taktik

Putra Rusdi K - Sepakbola
Sabtu, 14 Mar 2026 18:30 WIB
Soccer Football - UEFA Champions League - Round of 16 - First Leg - Real Madrid v Manchester City - Santiago Bernabeu, Madrid, Spain - March 11, 2026 Manchester City manager Pep Guardiola looks on Action Images via Reuters/Matthew Childs
Foto: Action Images via Reuters/Matthew Childs
Manchester -

Pep Guardiola sudah terbiasa menghadapi kritik karena keputusannya mengubah taktik. Ia kini banyak dikecam karena dinilai coba-coba taktik saat kalah dari Real Madrid.

Manchester City kalah 0-3 dari Real Madrid pada leg pertama 16 besar Liga Champions di Santiago Bernabeu, Kamis (12/3/2026). Tiga gol tuan rumah lahir lahir dari hat-trick Federico Valverde.

The Citizens sebenarnya tampil dominan dengan 58 persen penguasaan bola dibanding 42 milik El Real. Namun, mereka tumpul di depan dan rapuh di belakang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Man City tak eferktif dengan usai sembilan tembakan mereka di laga ini tak ada yang berbuah gol. Sementara, Madrid bisa dengan mudah menembus barisan belakang Man City meski tak banyak menguasai bola. Madrid bisa bikin 11 tembakan dengan tujuh mengarah ke gawang tiga di antaranya berbuah gol.

ADVERTISEMENT

Kesalahan pemilihan pemain dari manajer Man City, Pep Guardiola, dianggap sebagai biang keladi tak efektifnya The Citizens di laga ini. Ia dinilai bikin kesalahan dengan mengubah susunan pemain terbaiknya.

Guardiola tak memainkan Matheus Nunes dan Phil Foden yang biasanya jadi pilihan utama. Ia juga baru memasukkan Rayan Cherki di babak kedua.

Manajer asal Spanyol ini tapi membantah anggapan dirinya mencoba-coba taktik di laga sepenting melawan Real Madrid. Ia menegaskan semua keputusan taktiknya berdasarkan analisa yang telah dilakukan.

Guardiola menyebut setiap perubahan taktik memang mengandung risiko. Jika timnya menang, ia pasti dinilai genius.

Namun, hal sebaliknya terjadi andai tim tersebut kalah. Hal tersebut pasti dianggap kesalahan besar. Guardiola sudah terbiasa menghadapi kondisi seperti ini.

"Saya harus menjelaskan sebelum dan sesudah? Setelah 10 tahun? Saya tidak akan bisa meyakinkan Anda sedetik pun. Mengapa? Karena kami kalah dan hanya itu -- 3-0, hancur," ujar Guardiola dikutip dari ESPN.

"Itu normal. Ini bukan pertama kalinya saya bermain di kompetisi itu, Liga Champions -- 17 tahun bermain di kompetisi itu -- dan setiap kali saya kalah, boom, ya Tuhan 'peow, peow, peow' [menirukan suara tembakan di kepala].," jelasnya.




(pur/aff)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads