Lalu kriteria apa yang harus disandang seorang pemain untuk menjadi kapten? Haruskah ia bintang tim? Haruskah ia memegang posisi tertentu di lapangan, semisal pemain tengah? Haruskah ia pemain paling senior, paling berpengalaman? Ia yang bisa berteriak? Atau ia yang pendiam tetapi menyerahkan setiap perasan keringatnya untuk tim?
Susah sekali untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Kapten yang bagus dan sukses ternyata bermacam-macam jenisnya. Tidak ada satu rumusan khusus yang bisa dijadikan model mutlak. Semuanya tergantung nasib dan preferensi pribadi manajer untuk menentukannya. Satu-satunya kesepakatan hanyalah bahwa kapten harus mempunyai otoritas dan tanggungjawab. Singkatnya, jiwa kepemimpinan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan belum lama lalu di era moderen, Alex Ferguson dikenal melakukan hal serupa dengan kapten Manchester United, Bryan Robson. Robson yang saat masih aktif dijuluki "Captain Marvel" juga sangat berperan, setidaknya mempunyai suara, dalam menentukan taktik ketika menjadi kapten Inggris.
Kini peran dan masukan kapten jelas tidak lagi dominan dalam gambaran keseluruhan permainan. Manajer sepakbola sekarang mempunyai sekian banyak pasukan: tim pelatih, psikolog, nutrisionis, hingga dokter tim. Mereka memberi masukan kepada manajer dari kondisi kesehatan fisik hingga kejiwaan, kesiapan permainan untuk menjalankan model permainan tertentu, hingga hal yang sekecil-kecilnya.
Belum lagi adanya sistem permainan yang mengizinkan pergantian pemain hingga tiga, membuat tidak satu pun pemain terjamin posisinya termasuk sang kapten. Kapten masih bisa memberi masukan mengenai atmosfer ruang ganti, tetapi hanya sebatas itu.
Jangan salah. Bukan berartiΒ di era moderen posisi kapten kemudian menjadi tidak penting. Di lapangan ia tetaplah berperan. Dalam banyak hal dialah orang yang paling dipercaya oleh manajer untuk merekat tim agar bergerak sebagai satu unit, untuk tetap mengingatkan akan instruksi yang diberikan manajer.
Siapa kapten yang dipilih, seperti tersebut di atas, betul-betul tergantung kepada selera manajer. Ia, manajer, adalah yang paling paham dengan tim maupun karakteristik tim yang ia bentuk, dan karenanya yang paling tahu siapa yang paling tepat.
Misalnya ketika manajer Arsenal dua minggu lalu menjadikan Cesc Fabregas kapten menggantikan William Gallas banyak dahi berkerut. Benar Fabregas adalah denyut jantung
permainan Arsenal, tetapi tidakkah di umur 21 tahun ia terlalu muda? Tentu saja umur tidak bisa dijadikan ukuran. Bukankah legenda Arsenal, Tony Adams, menjadi kapten bahkan empat bulan lebih muda dari Fabregas? Ia memenangi empat kompetisi liga dan tiga Piala FA.
Carlos Bilardo memilih Diego Maradona sebagai kapten tim Argentina yang memenangi Piala Dunia 1986 karena ia bintang tim. Maradona tidak berteriak-teriak menyemangati tim
ataupun akan rajin bertahan serajin ia menyusun serangan. Akan tetapi dari otak dan kakinya adalah segala serangan berawal.
Pelatih asal Italia sangat menyukai pemain bertahan sebagai kapten tim. Mungkin karena secara insting sepakbola Italia menyukai pertahanan yang kuat sebagai fondasi permainan.
Carlos Alberto Parreira menjadikan Dunga sebagai kapten Brasil saat memenangi Piala Dunia 1994 walau ia dianggap pemain lapis kedua dari sisi skill. Tetapi Dunga adalah pemain yang menurut Parreira paling bisa mengikat tim dalam satu permainan yang menyeimbangkan pertahanan dan penyerangan.
Alex Ferguson mengaku menyukai Bryan Robson dan Roy Keane sebagai kapten. Tipe keduanya sama, box to box player. Keduanya akan lari sepanjang hari dari kotak penalti
sendiri ke kotak penalti lawan, sama gigihnya saat menyerang dan bertahan serta tidak segan berteriak kepada koleganya untuk menjaga konsentrasi dan memeras keringat.
Sulit memang merumuskan model ideal kapten. Namun yakinlah, manajer sepakbola tidak akan sembarangan mengapa mereka memilih pemain tertentu dan bukan yang lainnya.
==
* Penulis adalah wartawan detikcom, tinggal di London.
(lza/a2s)











































