Memimpikan Galacticos

Catatan Sepakbola

Memimpikan Galacticos

- Sepakbola
Rabu, 17 Jun 2009 10:00 WIB
Memimpikan Galacticos
London - "Sesuatu yang paling mahal biasanya justru yang paling murah." Kalimat ini seringkali keluar dari Presiden Real Madrid Florentino Perez.

Maka tak heran kalau ia dengan ringan menggaet Kaka lalu Cristiano Ronaldo, dan mungkin beberapa pemain lain lagi, dengan harga yang membuat dunia sepakbola Eropa tergetar, bingung, tak percaya, termangu-mangu -- sebutlah semua kata-kata atributif keterhenyakan yang lain.
Β 
Kita tentu harus menunggu apakah petualangan Perez kali ini, dari segi bisnis, akan berbuah nikmat atau sengsara. Tetapi percayalah, Perez melakukan semua ini tidak seringan yang tampak di permukaan. Di belakang layar ia pasti sudah berhitung super njelimet dari sisi finansial. Toh, bagaimanapun ia seorang konglomerat di bidang konstruksi dan energi yang beroperasi di lebih dari 50 negara, mempekerjakan sekitar 150 ribu orang, dan tahun lalu memetik pemasukan empat miliar euro -- sepertiganya adalah keuntungan.

Jangan harap kekayaan pribadi Perez akan ikut membiayai kehidupan Real Madrid sebagai klub, karena itu dilarang. Peraturan klub tidak memperbolehkan pejabat klub menggunakan kekayaan pribadi untuk masuk dalam tata buku keuangan klub. Harus ada pemisahan yang jelas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perez memang tidak perlu menggunakan kekayaan pribadinya untuk mendanai kehidupan klub. Tetapi ia bisa menggunakan pengalaman dan kontak bisnisnya untuk ikut membantu Real Madrid. Bank-bank Spanyol dengan senang hati antre untuk membiayai petualangan Perez terbaru ini. Mereka masih ingat ketika Perez membangun galacticos pertamanya dari tahun 2000 hingga 2006.

Galacticos pertama Perez menjajarkan nama diantaranya Zinedine Zidane, Luis Figo, Ronaldo, Roberto Carlos, hingga David Beckham. Transfer dan gaji para pemain ini menyentuh langit tertinggi persepakbolaan saat itu. Langkah Perez disebut tak masuk akal dari segi bisnis. Namun, kita tahu nama-nama itu juga menarik semua perhatian penggemar bola. Pemberitaan mengenai Real Madrid iklan gratis paling efektif menjangkau ke semua sudut dunia.

Dengan masuknya nama-nama besar itu Perez dengan cerdik merundingkan ulang semua kontrak bisnis yang bersangkut paut dengan Real Madrid. Dari yang namanya kaos, sepatu, merchandise, hak siar televisi, hingga bayaran untuk tour keliling dunia. Tidak ada satu celah untuk mengeruk keuntungan yang tidak ia eksploitir. Yang kita tahu kemudian pendapatan klub melonjak hampir dua kali lipat dari 2 triliun rupiah tahun 2001 menjadi 4 triliun rupiah tahun 2005.

Dengan pemasukan itu tiba-tiba saja semua biaya transfer dan gaji semua pemain dengan nama besar terbayar dengan sendirinya. Artinya, yang dilakukan Perez hanyalah memaksimalkan hingga perasan keringat terakhir potensi pendapatan masing-masing pemain. Sederhananya pemain itu membiayai sendiri transfer maupun gajinya.

Hingga sekarang Perez belum bisa mengerti mengapa tidak ada orang yang mengikuti langkah bisnis yang dilakukannya ini. Sebuah perjudian memang tetapi bukannya tanpa sebuah perhitungan yang cermat dan masuk akal.

Tetapi bagaimana dengan prestasi di lapangan? Bagaimana bila prestasi di lapangan tidak berbanding lurus dengan berkumpulnya pemain-pemain hebat tadi? Bisakah bisnis tetap mengapung?

Sepertinya Perez tidak terlalu mengkhawatirkan hal tersebut. Ia yakin seyakin-yakinnya bahwa orang akan tertarik dengan Real Madrid, pendukung atau bukan, berprestasi atau tidak.

Ia menjadikan Real Madrid sebuah dunia sinetron-opera sabun, yang kisah-kisahnya di samping di lapangan bola selalu menarik perhatian. Kehidupan bintang-bintangnya selalu menarik perhatian. Bahkan mereka yang membenci, kemungkinan akan tetap tertarik untuk terus mengikuti kisahnya. Mereka mungkin menghujat, melontarkan sumpah serapah, tetapi tetap mengikuti untuk mengetahui akhir ceritanya. Bagi Perez baik pendukung maupun bukan, mereka adalah pasar bisnis yang layak dieksploitir.

Perez juga tidak percaya bahwa pemain-pemain bagus itu tidak akan bisa berprestasi di lapangan. Ia berkilah bahwa yang dikumpulkan adalah seniman bola bukan sekadar pemain bola. Seniman dengan daya khayal dan kreativitas tak terbatas, bukan pemain yang sekadar mengisi fungsi permainan seperti diperintahkan manajer ataupun pelatih. Seniman yang menjadikan lapangan bola sebagai panggung, kanvas, ataupun kertas untuk berekspresi.

Tahun 2000-2001 ketika Figo, Ronaldo, Raul, Zidane, Makalele, Roberto Carlos, Redondo, Fernado Hiero dan sekian nama besar lain, semuanya masih dipuncak kejayaannya dan Real Madrid menjadi juara Liga Champions, orang mengatakan Real Madrid sebenarnya tidak mempunyai pola permainan. Sebuah oxymoron permainan: kekacauan dalam sebuah harmoni, harmoni dalam sebuah kekacauan.

Pelatih Madrid saat itu, Vicente del Bosque, selalu terlihat tenang dan tanpa ekspresi di pinggir lapangan. Wajahnya seperti sebuah tulisan besar: "Apa yang harus saya instruksikan, kecuali silakan bermain bola. Anda semua sudah tahu apa yang harus dilakukan." Hasilnya adalah sebuah permainan tanpa pola yang jelas namun indah, sebuah kegembiraan, seperti melihat anak-anak kecil bermain bola tanpa beban. Sebuah gaya permainan berbeda yang mewarnai benak imajinasi penggemar bola saat itu.

Konsistensi memang menjadi persoalan. Tetapi teriakan kekaguman, "ahhhhhh", "uhhhhh", "oleee..", dan ungkapan kekaguman lain selalu menyertai mereka. Tampaknya bagi Florentino Perez itu lebih berarti dan layak dijual, walau tentu saja menjadi juara juga sama pentingnya.

Mimpi bisnis besar, mimpi keindahan, mimpi berprestasi, mimpi Galacticos, itulah rupanya mimpi Florentino Perez.




==

*) Penulis adalah wartawan detikcom, tinggal di London.
(lza/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads