Ketika Curang Menjadi Adab

Catatan Sepakbola

Ketika Curang Menjadi Adab

- Sepakbola
Jumat, 13 Nov 2009 10:12 WIB
Ketika Curang Menjadi Adab
London - Inggris pernah pada satu masa dianggap sebagai kiblat moral sepakbola. Moralitas dalam pengertian yang sederhananya dirumuskan dalam satu kata gentleman. Di dalamnya ada unsur menjunjung tinggi kejujuran, tidak pernah patah semangat, sportif, tidak tinggi hati ketika menang, tidak kehilangan akal sehat ketika kalah, dan yang utama menganggap ketaatan kepada wasit sebagai sebuah keharusan mutlak.

Kualitas itulah yang membuat Inggris dihormati oleh lawan-lawannya di tingkat internasional. Keikutsertaan Inggris menjadi bumbu menariknya setiap turnamen internasional karena ke-genteleman-nya. Inggris memang tidak pernah dikagumi karena technique par excellence-nya. Bukan berarti teknik mereka di bawah standar, tetapi memang tidak pernah luar biasa.

Moralitas Inggris ditingkat internasional adalah cerminan dari kompetisi sepakbola negeri ini. Begitulah sepakbola dimainkan di negeri ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tetapi itu dulu, ketika dunia sepakbola (Inggris) relatif masih insular. Ketika karakter sosial, budaya, politik, maupun geografis masih menjadi sekat yang sangat ketat. Ketika sisa-sisa kejayaan imperium Inggris masih terasa.

Kini, dalam era global pemain dari satu sisi dunia bisa bermain di sisi dunia yang lain. Batas negara tak lagi berarti. Eropa sebagai kawasan kaya dunia menjadi melting pot, ajang adonan, para pemain terbaik dunia. Dan Inggris dengan Liga Premiernya tak lagi bisa bersembunyi dari arus global ini. Negara ini menjadi salah satu negara di samping Italia dan Spanyol yang kompetisinya paling menarik pemain-pemain terbaik dunia. Bukan hanya pemain tetapi juga manajer.

Kompetisi sepakbola Inggris kini dipenuhi pemain dan manajer asing dengan berbagai macam karakter yang tidak seragam, ukuran moralitas yang berbeda, serta pengalaman budaya yang berbeda pula.

Dalam beberapa hal harus diakui bahwa kehadiran pemain dan manajer asing ini memberi injeksi teknik yang bagus untuk pemain-pemain lokal. Paradigma sepakbola Inggris pelan tapi pasti berubah. Permainan model kick and rush, tendang dan tabrak atau lari tergantung bagaimana menerjemahkannya, tidak murni lagi dipegang. Yang ada adalah paduan kick and rush dengan teknik yang tinggi. Paduan permainan itu yang sekarang menjadi tontonan menarik dan menjadikan kompetisi sepakbola Inggris salah satu yang paling populer di dunia. (Tak kalah pentingnya tentu saja kegiatan pemasaran yang dilakukan para pebisnis sepakbola Inggris.)

Tetapi itu segi positifnya. Segi negatifnya juga ada dan belakangan betul-betul membuat gerah para petinggi sepakbola Inggris. Para pemain asing ini dianggap menggerus sifat jujur dalam dunia persepakbolaan Inggris. Dari minggu ke minggu semakin sering kontroversi terjadi gara-gara para pemain yang pura-pura menjatuhkan diri (diving). Entah untuk mendapatkan penalti, tendangan bebas, atau membuat lawan terkena kartu. Teknik menjatuhkan dirinya juga semakin sempurna dan akibatnya wasit semakin sering terkecoh.

Awalnya hanya dilakukan pemain-pemain impor. Tetapi kini pemain dari Inggris Raya juga melakukannya. Walau prosentasenya masih kalah jauh dari pemain asing tetapi mereka tidak kalah lihainya.

Berbagai upaya untuk menanggulangi persoalan ini dilakukan. Sejauh ini tanpa hasil sama sekali untuk tidak dikatakan gagal total.

Perbincangan untuk menggunakan teknologi dengan melalui rekaman ulang televisi dilakukan. Namun lebih banyak yang menentangnya. Dengan alasan akan mengganggu ritme permainan.

Ide penambahan wasit juga ditentang. Dikhawatirkan nanti malah antarwasit akan mempunyai keputusan yang berbeda-beda. Lalu siapa yang benar? Kekhawatiran lain lapangan jadi tambah sesak dan hanya akan merecoki permainan.

Sudah berapa tahun kampanye fair play dikumandangkan. Hasilnya? Nihil.

Para manajer oleh administrator sepakbola Inggris diminta untuk mendidik anak asuhnya agar tidak melakukan tindak pengelabuhan itu. Tetapi bagaimana mungkin meminta seorang pencuri untuk tidak mencuri padahal itu profesi mereka?

Para administrator sepakbola Inggris benar-benar sedang kebingungan mencari cara untuk menghentikan aksi kecurangan itu. Mereka ingin menghentikannya bukan hanya demi sepakbola profesional itu sendiri, tetapi yang lebih penting lagi sebelum merasuk ke benak pikir anak-anak yang menonton, bermain, dan mengikuti sepakbola. Mereka tidak ingin tindak kecurangan itu mengorupsi kemurnian pikiran anak-anak. Mereka tidak ingin generasi baru penggemar bola ataupun pemain bola nantinya berpikir kecurangan adalah bagian dari permainan atau bahkan yang lebih parah lagi menganggap kecurangan bukanlah sebuah kecurangan.

Berlebihankah?
Β 



==

* Penulis adalah wartawan detikcom, tinggal di London. Artikel ini bersifat opini, tidak mencerminkan sikap redaksi. (a2s/nar)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads