Wolves dianggap melanggar kode etik persepakbolaan Inggris. Tertera dalam aturan etik rumah tangga Liga Primer: bahwa setiap klub harus menurunkan semua pemain terbaiknya yang tersedia tanpa terkecuali dalam pertandingan.
Dengan menurunkan pemain non intinya Wolves dianggap tidak bertanggung jawab pada pendukung klub, mengabaikan rasa keadilan klub lain anggota liga, dan (karenanya) lebih celaka lagi menciderai etika ke-gentleman-an orang Inggris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Manajer Wolves, Mick McCarthy, berkilah tidak ada yang salah dengan apa yang ia lakukan.
Pertama, ia terpaksa menarik sepuluh pemain dari timnya kecuali kiper karena mereka kelelahan saat menggalahkan Tottenham 1-0 tiga hari sebelumnya. Jadi sesuai peraturan Liga Primer ia sebenarnya menurunkan sepuluh pemain yang paling fit untuk melawan Manchester United. Apalagi kesepuluh pemain itu adalah anggota squad yang secara resmi terdaftar.
Kedua, ia sebagai manajer berhak dan bertanggungjawab memilih pemain sesuai dengan tujuan jangka panjang klub, bukan sekadar hanya satu pertandingan saja, yaitu sebisa mungkin bertahan di Liga Primer. Diakhir kompetisi ialah satu-satunya yang harus bertanggungjawab apakah tujuan itu tercapai atau tidak, bukan orang lain. Wolves bukan klub besar sehingga ia harus pandai-pandai memilih pertandingan, dan karenanya harus pandai-pandai pula menurunkan pemain, yang ia perhitungkan akan bisa meraih angka maksimal. Dan pertandingan melawan Manchester United bukanlah salah satunya.
Dari sesama manajer, pengecam paling keras adalah Arsene Wenger. Ia menyebut siapaun yang bersaing dengan Manchester United hanya bersaing untuk 37 pertandingan bukan 38. Karena Manchester United diberi tiga nilai gratisan dengan langkah Wolves itu.
Ia juga menyebut langkah Mick McCarthy itu telah mencoreng kejujuran yang selama ini dijunjung tinggi di Liga Primer.
Sesama manajer pembela Mick McCarthy justru datang dari klub-klub kecil terutama Burnley dan Stoke City. Mereka menunjuk bahwa apa yang dilakukan oleh Wolves bukanlah yang pertama dan hanya meniru apa yang dilakukan klub-klub besar. Skala dan kesempatannya saja yang berbeda.
Mereka mengatakan bukankah Arsenal adalah salah satu klub pertama yang melakukan ini? Bukankah Arsenal selalu saja menurunkan pemain-pemain kelas duanya atau pemain mudanya di Piala Liga dan Piala FA? Bolehlah Arsene Wenger beralasan itu bukan pertandingan kompetisi Liga Primer, tetapi secara prinsip sebenarnya tidaklah jauh berbeda. Ada prioritasisasi demi kepentingan klub untuk jangka panjang.
Bagi Arsene Wenger ia ingin memberi kesempatan pemain muda untuk mematangkan diri demi masa depan klub. Tetapi dalam sejarah, sebelum prioritasisasi ini dikenal, klub-klub Inggris tidak memperdulikan kompetisinya akan selalu menampilkan pemain terbaik mereka. Sesuai dengan rasa ke-gentleman-an mereka.
Jangan salah, Arsenal bukan satu-satunya pula. Manchester United, Liverpool, Chelsea, juga melakukannya. Bahkan kadang mereka melakukan ini dibabak penyisihan grup Liga Champions Eropa yang konon paling bergengsi itu.
Bedanya ketika klub-klub besar melakukan hal ini mereka mempunyai cukup pemain yang memang bagus-bagus, berbakat, dan diatas rata-rata. Sehingga perbedaannya relatif tidak terasa. Mereka malah dipuji memberi kesempatan kepada pemain squad dan memberi kesegaran kepada pemain inti. Kalau saja squad pemain klub-klub besar hanya rata-rata seperti milik klub-klub kecil pasti ceritanya berbeda.
Etika? Moralitas? Percayalah dunia sepakbola tak beda dengan kehidupan sesungguhnya. Pada saat etika dan moralitas dipatokkan, pada saat yang sama semua mencoba untuk mengakalinya demi kepentingan sendiri-sendiri.
==
* Penulis adalah wartawan detikcom, tinggal di London. Artikel ini bersifat opini, tidak mencerminkan sikap redaksi.
(krs/krs)











































