Drama 'IndoPool' dan Duo Beni

Drama 'IndoPool' dan Duo Beni

- Sepakbola
Rabu, 27 Jan 2010 09:09 WIB
Drama IndoPool dan Duo Beni
Jakarta - Seumur-umur cuma dua tim sepakbola yang selalu saya dukung apapun kondisi dan situasinya, yaitu tim nasional Indonesia dan Liverpool FC. Entah kenapa kedua kesebelasan ini, kendati sekarang minim prestasi tapi selalu dekat di hati. Biar mudah, saya selalu menyebut tim kesayangan saya 'IndoPooL' (Indonesia-Liverpool), yang kebetulan saat ini diarsiteki oleh duo Beni, Beni-Tez dan Beni-Dollo.

Nah,Β  selain membicarakan saudara saya, Hendri Mulyadi, sangat tidak seru membicarakan timnas Indonesia saat ini, soalnya bakalan emosiΒ  ke "level 126". Emosi tinggi menyaksikan timnas kebanyakan masalah, mulai dari Ketua umum yang nggak mau diganti, pelatih yang kata banyak orang "mata duitan" hingga timnas yang turun peringkat jadi tim anak bawang lantaran kalah dari Laos. Bahkan sang ketua berani berjanji, "saya akan mundur kalau timnas gagal di SEA Games 2011". Duh, kelihatannya bakal gagal lagi deh timnas kita. Selain banyak yang mendoakan biar gagal supaya ketuanya lengser, targetnya juga kecil amat, hanya di level Asia Tenggara.

Kadang saya sempat berpikir, lebih baik sepakbola kita dibekukan sementara oleh FIFA sementara karena PSSI diintervensi pemeintah. Kalau itu bisa membuat keadaan lebih baik, karena kita bisa benar-benar berbenah diri, kenapa tidak? Daripada selama dua tahun ke depan timnas jadi anak bawang yang tidak bisa apa-apa bahkan di level Asia Tenggara. Semoga ada pejabat pemerintah yang berani mengintervensi PSSI agar timnas menjadi lebih baik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekarang saya ingin ke Inggris. Masih jelas ingatan saya kala Liverpool berhasil memenangi gelar kelimanya sebagai juara kompetisi kelas satu antarklub Eropa alias Liga Champion. Saya masih ingat karena Istanbul merupakan kejutan menyenangkan terakhir yang saya dapat dari Liverpool. Selebihnya tidak ada kejutan, semuanya sesuai prediksi, termasuk kondisi Liverpool saat ini. Masih di luar zona Liga Champions di klasemen Liga Inggris, tersingkir dari berbagai turnamen hingga hanya menyisakan dan tempat di Europa League. Kenapa sudah diprediksi? Sebelum kompetisi dimulai pun, saya sudah memprediksi tim kesayangan saya ini tidak bakal bisa menjadi kampiun Premiership.

Ada beberapa alasan. Yang pertama Benitez di awal musim berusaha menjadikan The Kop seperti Valencia, klub yang dia latih sebelum ke Anfield. Keinginan itu direalisasi dengan membeli banyak pemain Spanyol, dan hasilnya kejutan di Istanbul, Livepool berbalik juara dengan mengalahkan AC Milan setelah kalah 3-0 di babak pertama. Namun, setelah itu Benitez seperti kehilangan arah. Puncaknya adalah menyetujui hengkangnya Xabi Alonso "Jenderal Gaya Matador" ke Real Madrid. Saya berpendapat hanya Alonso yang paham gaya permainan yang diinginkan Benitez. Hingga saat ini belum ada yang mampu mengganti peran Xabi, dan beban ini keliatannya bakal diletakkan Benitez di pundak Maxi, pemain yang baru saja direkrut dari Atletico Madrid.

Alasan kedua, terlalu mengandalkan Steven Gerrard dan Fernando Torres. Begitu Torres dan Gerrard dimatikan maka dapat dipastikan permainan Liverpool bakal buruk walaupun tidak seburuk timnas (ups, maaf saya lupa akan janji saya, masih emosi).
Alasan ketiga, melepas dan membangkucadangkan penyerang tipe fighter, seperti Craig Bellamy yang dilepas ke Manchester City dan Andriy Voronin yang sering duduk manis di bangku cadangan. Padahal saat ini Liverpool hanya punya Kuyt yang punya tipe seperti Bellamy dan Voronin. Bellamy, Voronin dan Kuyt memang kadang buruk finalisasinya, tapi mereka tipe striker paling pas untuk teman Torres di depan yang hingga saat ini sering kedinginan, sendirian di depan.

Alasan keempat, perlu empat sampai lima pembelian pemain baru seperti Glen Johnson. Pemain ini sangat pas dengan gaya Liverpool. Kendati masih sering terlihat canggung dengan gaya permainan Jamie Carragher yang kadang sering blunder, tapi Johnson mampu membangkitkan asa lini pertahanan tim. Dan pastinya harus melepas lima sampai enam pemain yang ada, terserah siapa aja asal jangan Pepe Reina, Johnson, Carra, Martin Skrtel, Daniel Agger, Javier Mascherano, Gerrad, Kyut, dan Torres.

Alasan kelima, kehilangan nyawa THIS IS ANFIELD! Keseringan kalah di kandang dan kehilangan semangat ala Liverpool di masa Ian Rush. Walaupun berat, mungkin inilah saatnya Benitez mundur dan diganti dengan pelatih dengan gaya Britania Raya. Terakhir, Roy Evans arsitek Liverpool dengan gaya Britania Raya sebelum dikudeta paksa Gerald Houllier yang kala itu dipasang menjadi tandem manager bareng Evans.

Selama ditangani pelatih non-Britania Raya, Liverpool punya kebiasaan jelek, selain jarang juara, anak-anak Anfield bisa menang melawan tim sekuat apapun dan bisa kalah melawan tim gurem dari antah-berantah. Bahkan saya sempat memprediksi bisa jadi timnas Indonesia yang sekarang bakal menang lawan Liverpool. Bukan karena timnas lebih baik (jelas tidak!), tapi karena tren permainan Liverpool yang jadi kacau kalau permainan lawannya lebih kacau. Apa ada tim sepak bola lain yang permainannya lebih kacau dari timnas? Saya rasa tidak (duh maaf, timnas lagi). Usul saya, Benitez bisa diganti oleh Gordon Strachan atau Steve McClaren atau Kenny Daglish dan bukan pelatih seperti Guus Hiddink atau Marco Van Basten. Bahkan mungkin nama lain seperti Sam Allardyce atau Roy Keane bisa dinominasikan sebagai pengganti Benitez.

Saya hanya mengharapkan 'IndoPool' bisa lebih baik di musim depan dan musim-musim selanjutnya, karena kendati kedua tim ini selalu menang saat saya memainkan mereka di konsol permainan tetap saja sakit bila melihat realitanya. Dan karena kedua ketua tim ini tidak mau lengser maka pergantian duo Beni bisa merupakan salah satu solusi jangka pendek yang paling baik. Mudah-mudahan saja Benitez ke timnas Indonesia dan Beni Dollo ke Liv… ehm keliatannya jangan deh, tetap di Persija saja.saja.

==

* Penulis adalah pecinta sepakbola, tinggal di kawasan Bambu Apus, Jakarta. Tulisan ini bersifat opini, tidak merupakan dan mencerminkan sikap redaksi.

* Kirimkan artikel opini Anda ke redaksi@detiksport.com (a2s/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads