Catatan Sepakbola

Duhhhh... Liverpool

- Sepakbola
Senin, 18 Okt 2010 08:44 WIB
London - Semua orang tahu, John Henry membeli Liverpool karena ia yakin akan potensi sejarah klub yang hebat, yang diyakini bisa dibangkitkan dan dieksploitir di masa depan. Sejarah dalam pengertian tradisi dan prestasi.

Ia bukan Roman Abramovich ataupun Sheikh Mansour yang membeli untuk mulai mencetak sejarah. Ini bukan untuk mengatakan Chelsea atau Manchester City tidak mempunyai sejarah, sesakit apapun kenyataan ini bagi pendukung kedua klub itu, memang ada derajat sejarah prestasi yang berbeda bila dibandingkan dengan Liverpool.

Bukan pula untuk mengatakan Abramovich maupun Sheikh Mansour tidak berharap klub masing-masing nantinya akan bisa menghidupi diri sendiri dan mendatangkan keuntungan buat mereka.

John Henry lebih mirip dengan keluarga Glazer saat membeli Manchester United. Walau juga tidak bisa disamakan seratus persen. Karena walau sejarah Manchester United bisa dikatakan setara dengan Liverpool, Glazer membeli Manchester United saat klub sedang di puncak kejayaannya. Dus tercermin pada harganya.

Tentu saja sejarah Liverpool adalah modal yang bagus. Semua orang tahu, sejarah adalah magnet tersendiri. Ia merupakan daya tarik yang membuat orang ingin mengasosiasikan diri dengannya.

Semakin panjang catatan prestasi bagus dan tradisi keberhasilan itu, semakin besar pula kemungkinan orang mengasosiasikan diri dengannya. Semakin banyak orang ingin menjadi bagian dari sejarah itu. Dengan kata lain akan semakin besar supporternya.

Pilihlah klub manapun di dunia ini yang mempunyai catatan prestasi bagus, bisa dijamin mereka pula yang akan mempunyai pendukung yang banyak. Walau kita juga tahu faktor prestasi bukan satu-satunya penyebab seseorang menjadi supporter. Tetapi itu untuk bahasan di waktu yang lain.

Mungkin John Henry merasa beruntung bahwa ia relatif mendapat harga murah untuk Liverpool dengan catatan sejarah seperti Liverpool, 300 juta Poundsterling. Bukankah Tom Hicks dan George Gillet harus membayar sekitar 435 juta Poundsterling untuk membelinya?

Orang bilang, John Henry dapat murah karena Hicks dan Gillet terdesak utang yang sudah jatuh tempo pembayarannya dan mereka tidak kuat bayar.

Para kreditor enggan percaya pada duo Amerika ini karena menganggap keduanya susah dipercaya. Bukankah mereka diawal pembelian Liverpool mereka mengatakan uang pembelian Liverpool mereka rogoh dari kocek sendiri dan Liverpool tidak akan terbebani utang? Tidakkah kesan di awal, mereka berbeda dengan keluarga Glazer yang sengaja meminjam uang dari Bank untuk membeli Manchester United dan kemudian membebankan utang pribadi ke klub?

Dari carut marut yang terjadi di Liverpool kita belakangan tahu bahwa tingkah laku Hicks dan Gillet tidak jauh beda dengan Glazer, hanya skalanya saja yang lebih kecil. Hanya saja celakanya, pendapatan Liverpool ternyata jauh di bawah Manchester United. Sehingga walaupun utang mereka lebih kecil, tetap saja kesulitan yang mereka hadapi menjadi lebih besar.

Hicks dan Gillet enggan menjual Liverpool tetapi keadaan, dalam hal ini lewat penilaian pengadilan, memaksa mereka harus tunduk dan melepas Liverpool. Sebuah technicality kata orang Inggris atau bekapan tekhnis hukum yang tidak bisa mereka hindari.

Namun ada kesan lain, yang kalau benar, akan sangat menyesakkan bagi supporter Liverpool. Mengapa klub sehebat Liverpool membutuhkan waktu lebih satu setengah tahun untuk menjualnya? Mengapa juga harganya hanya 300 juta dollar? Justru turun hingga 135 juta Poundsterling dari tiga tahun sebelumnya.

Mungkinkah Liverpool adalah sebuah klub yang sedang semakin turun prestasinya? Semakin turun pamornya? Sebuah "peradaban" sepakbola yang sedang menuju nadir?

Tentu ini sebuah kesementaraan. Tetapi kemana kesementaraan itu akan bergerak: memburuk atau membaik. Di depan pemilik barunya, Liverpool terpuruk di posisi nomer dua dari bawah klasemen sementara Liga Primer Inggris setelah kalah 0-2 dari musuh bebuyutannya, Everton.

Ini merupakan awal kompetisi terburuk Liverpool sejak 1953/1954, tahun ketika mereka terkena degradasi. Seseorang pasti sudah membisiki John Henry akan catatan sejarah ini. Dan mungkin John Henry merasa 300 juta Poundsterling tidak terlalu murah lagi.

=====

* Penulis adalah wartawan detikcom, tinggal di London.

(lza/din)