Catatan Sepakbola

Tunjukkan Jalan itu, Tuan Ancelotti

- Sepakbola
Jumat, 05 Nov 2010 11:52 WIB
London - Semenjak Chelsea masuk menjadi klub elit Eropa, setiap tahun suporter klub London Barat ini selalu mengatakan sudah tiba saatnya mereka menjadi juara Eropa. Tetapi setiap kali itu pula mereka gagal.

Walau tak pernah menjadi juara, Chelsea sebetulnya mempunyai catatan yang cukup menggiurkan di Liga Champions. Tercatat empat kali mereka masuk semifinal dan sekali masuk final dalam hitungan tujuh tahun semenjak mereka dibeli Roman Abramovich di tahun 2003.

Selalu saja mereka tersingkir secara tidak menguntungkan. Setidaknya dalam kacamata pendukung Chelsea, tentu saja.

Kalau saja John Terry tidak terpeleset saat adu penalti melawan Manchester United di final tahun 2008, ceritanya mungkin akan lain -- kata pendukung klub ini.

Atau tidak ada apa yang disebut Jose Mourinho sebagai gol hantu Luis Garcia, karena bola ternyata belum melewati garis gol, saat Liverpool menyingkirkan Chelsea di semifinal musim 2004/2005.

Mereka juga menyebut Barcelona menyingkirkan mereka di semifinal tahun 2008/2009 lebih karena buruknya penampilan wasit Tom Henning Ovrebo yang menguntungkan Barcelona. Bukan karena permainan indah Barcelona.

Penggemar bola tentu saja bisa berdebat hingga muka merah padam akan hal-hal seperti ini tanpa bersepakat. Toh sepakbola di ruang obrolan memang persoalan pendapat dan hipotetis sifatnya.

Ketidakberuntungan atau bukan, bagi pemilik Chelsea ini merupakan kepeningan tersendiri. Setelah memapankan diri sebagai salah satu kekuatan dominan di persepakbolaan Inggris, mengapa gelar yang begitu didamba itu tak kunjung tiba?

Dari sisi pemain, Chelsea tidak kekurangan pemain bagus. Dari sisi pelatih, kurang apa dengan Claudio Ranieri, Jose Mourinho, Luiz Felipe Scolari, dan Guus Hidink. Avram Grant bolehlah dikatakan kurang meyakinkan, walau ia satu-satunya yang membawa Chelsea hingga ke final Eropa.

Dalam hitungan para petinggi Chelsea, penyebab kegagalan Chelsea adalah ketidakmampuan pelatih Chelsea untuk mewadahi keinginan yang amat sangat untuk memenangi Liga Champions. Bukan karena lawan yang lebih bagus. Bukan pula karena ketidakberuntungan, walau itu ada juga dalam benak mereka.

Keinginan yang amat sangat itu telah menciptakan atmosfer yang sangat menekan di seluruh tubuh tim. Coba simak apa kata John Terry akan ambisi klub yang digariskan oleh Roman Abramovich setiap tahunnya, "harus memenangi setiap kompetisi yang diikuti".  Artinya menyapu bersih dari yang namanya Piala Carling, Piala FA, Liga Primer dan tentu saja Liga Champions.

Bahkan suporter Chelsea pun banyak yang mengatakan hal yang sama setiap kali ditanya tentang harapan mereka setiap tahun. "Sapu bersih," kata mereka.

Sehebat-hebatnya pemain dan pelatih betapa tidak akan kami tenggengengen kata orang Jawa, alias bikin perasaan terbebani yang amat sangat karena seperti tidak mungkin tercapai. Tetapi tentu saja Anda tidak akan mengatakan tidak kepada orang yang telah menggelontorkan lebih 600 juta poundsterling untuk klub.

Konon itulah sebabnya Carlo Ancelotti dipilih. Ia bekas pemain dan pelatih di klub yang mempunyai tekanan yang mirip dengan Chelsea. AC Milan adalah salah satu klub tersukses di Italia dan Eropa dengan kesuksesan bukan sekadar diupayakan tetapi seolah takdir yang tidak perlu dipertanyakan. Sebagai pemain dan pelatih ia telah empat kali memenangi Liga Champions dengan sekaligus pada waktu bersamaan mendominasi sepakbola Italia.

Ia disewa karena dilihat mengerti bagaimana mengelola tuntutan dan mewujudkannya tanpa harus merasa terbebani oleh tuntutan itu. Ia dinilai mengerti bagaimana bermain sepakbola di Eropa, sekaligus dikatakan mengerti cara untuk menghindari ketidakberuntungan yang seperti selalu bertubi-tubi menimpa Chelsea di pertandingan tingkat Eropa.

Untuk sementara kelihatannya Ancelotti memang akan bisa memenuhi dan mengelola tuntutan yang ada di Chelsea. Di tahun pertama di Chelsea ia langsung mempersembahkan gelar ganda: juara Liga Primer dan Piala FA. Penampilan Chelsea tahun ini baik di Liga Primer dan Liga Champions super meyakinkan. Kalau zaman keemasan Mourinho ditandai dengan pertahanan yang sangat kuat, maka kini Chelsea bukan sekadar kuat di pertahanan tetapi gol mengalir dengan sangat deras.

Optimisme sapu bersih (yang sekaligus tekanan), walau mereka sebenarnya telah tersingkir di Piala Carling, kembali membahana di Stamford Bridge. Wajah Carlo Ancelotti sepertinya tak bergeming dengan tuntutan itu. Begitupun para pemain Chelsea seperti kini tak lagi terganggu dengan tekanan itu.

Hanya saja yang masih menjadi pertanyaan, benarkah Chelsea di bawah Ancelotti akan bisa menghindari macam gol hantu Luis Garcia, atau wasit yang tidak jeli, atau terpeleset gaya John Terry? Benarkah Ancelotti bisa mengelola ketidakberuntungan? Ataukah Ancelotti selalu membawa keberuntungan?

Mari kita tunggu.


===

* Penulis adalah wartawan detikcom, tinggal di London. (lza/a2s)