Mengembalikan Olahraga ke Jalurnya

Catatan Jelang Kongres PSSI

Mengembalikan Olahraga ke Jalurnya

- Sepakbola
Rabu, 18 Mei 2011 10:56 WIB
Mengembalikan Olahraga ke Jalurnya
Jakarta - Kongres PSSI memang bukanlah sebuah pertandingan olahraga. Namun kongres ini digelar oleh induk organisasi olahraga, dan maka dari itu kita layak berharap agar hajatan ini berjalan dengan semangat olahraga.

Dalam kurun waktu hampir satu dekade terakhir, polemik menjadi sesuatu yang kerap terjadi di tubuh PSSI. Di waktu lalu, ada musuh bersama bernama Nurdin Halid.

Semua mengecam, menuntut, dan mendesak "Sang Puang" untuk mundur. Mulai dari rakyat yang dicerminkan oleh suporter hingga pemerintah, seluruhnya kompak menginginkan Nurdin dan kroni-kroninya mundur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kini Nurdin sudah mundur, begitu pula dengan sejumlah konco-konconya. Situasi membaik? Tidak juga. Status quo masih tidak rela kehilangan kekuasaannya, sementara kubu yang mengklaim dirinya reformis tampak sangat ngebet untuk segera mengambil kendali otoritas.

Semua memiliki dasar yang cukup kuat untuk mengklaim tindakannya. Ada yang menggunakan statuta, peraturan, dan sebagainya. Ada yang memakai alasan soal ancaman sanksi dari FIFA.

Dua hari lagi, PSSI akan berkongres untuk menentukan kepengurusan: memilih ketua umum, wakil ketua umum, dan anggota komite eksekutif. Tak sekadar memilih kepengurusan, namun ini juga sebagai penentu masa depan PSSI dan juga persepakbolaan Indonesia pada umumnya.

Kongres kali ini merupakan perintah dari FIFA, setelah kongres yang digelar di Pekanbaru, Riau, akhir Maret silam berakhir juga dengan kekacauan.

Menjelang kongres 20 Mei, suasana masih belum kondusif. Ada indikasi bahwa badan-badan resmi seperti Komite Normalisasi dan Komite Banding Pemilihan, tengah mengusung kepentingan kelompok tertentu. Tentu saja, tudingan ini dijawab oleh masing-masing pihak. Satu mengatakan melaksanakan perintah FIFA, yang lain mengatakan menegakkan peraturan.

Tak pelak spekulasi adanya kemungkinan deadlock pun mengemuka menjelang kongres kali ini.

Semua itu sebenarnya tak perlu terjadi, bila para peserta kongres bersedia sedikit meredam ambisi pribadi mereka, apapun motifnya.

Mereka, para peserta kongres dan pemegang hak suara, seharusnya ingat bahwa mereka menjadi bagian dari sebuah organisasi olahraga. Sportivitas dan kebesaran hati menjadi salah satu dari esensi olahraga.

Memang olahraga sangat menghalalkan strategi, trik, dan sejumlah cara lainnya guna mencari kemenangan. Namun ketika semua itu berjalan dengan cara kotor, maka itu jelas sangat diharamkan bila terjadi di dunia olahraga.

Meski tak terjadi di lapangan pertandingan, semangat olahraga seperti tadi seyogyanya diusung oleh seluruh peserta dan juga penyelenggara kongres.

Indonesia menunggu seperti apa PSSI nantinya. Ada harapan masyarakat di sana. Semoga, harapan untuk melihat sepakbola Indonesia menjadi lebih baik kali ini terjawab. Semoga.




(nar/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads