Ya, Uruguay adalah kampiun pertama dalam urusan sepakbola di Amerika Latin, jauh sebelum Brasil dan Argentina mengambil alih dominasi mereka di lapangan hijau Amerika Latin.
Mereka menjuarai Copa Amerika yang pertama dan kedua secara beruturut-turut (1916-1917) dan -βbersama Argentina-- menjadi kampiun terbanyak sepanjang sejarah gelaran Copa America yaitu 14 kali. Uruguay juga merebut emas Olimpiade 1924 dan 1928, lalu memenangi Piala Dunia 1930 dan merebutnya lagi pada 1950 dengan cara yang tak akan pernah terlupakan dalam sejarah Brasil: di Stadion Maracana, mengalahkan tuan rumah yang didukung lebih dari 200 ribu orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi di situ pula ironinya: sepakbola Uruguay terasa seperti sejarah yang sudah begitu kuno dan lawas. Kapan terakhir Uruguay juara Olimpiade? 1928. Kapan Uruguay jadi Juara Dunia? 1950. Apa dan kapan prestasi tertinggi Uruguay di Piala Dunia setelah 1950? Semifinalis pada Piala Dunia 1970. Kapan terakhir kali Uruguay menjuarai Copa America? 1995.
Memang tahun lalu mereka juga mencapai semifinal di Piala Dunia Afrika Selatan. Akan tetapi, penantian prestasi itu sangatlah lama, terutama bagi sebuah negara yang mengaku bahwa (seperti dikatakan Eduardo Galeano dengan alegoris) setiap bayi dilahirkan sambil berteriak: "Goooooolβ¦."
Seperti kebanyakan bocah di Uruguay, Galeano juga terobsesi menjadi pemain bola. Sayang obsesi itu tak terpenuhi. Ia merasa tak cukup berbakat dan banting setir menekuni karir kepenulisan. Tapi sepakbola tak pernah hilang dari pikirannya. Itu sebabnya ia menulis buku El Futbol A Sol Y Sombra atau Football In Sun and Shadow, sebuah narasi panjang tentang sepakbola yang ditulis dengan gaya yang liris.
Buku itu jadi bukti betapa Galeano, seperti lelaki Uruguay lain yang gagal menjadi pemain bola, tak akan pernah bisa melupakan dan meninggalkan sepakbola. Dengan buku itu, kata Galeano, "Saya mencoba melakukan sesuatu dengan tangan dari apa yang dulu tak bisa saya lakukan dengan kaki."
Buku itu merupakan refleksi personal seorang Galeno tentang sepakbola. Galeno, lahir pada 1940, merangkum sejarah perkembangan sepakbola dalam satu kalimat yang puitik. Katanya, "Sejarah sepakbola tak ubahnya sebuah perjalanan yang sedih dari keindahan menjadi kewajiban."
Itu sebabnya bukunya tentang sepakbola dijuduli El Futbol A Sol Y Sombra atau Football In Sun and Shadow. Sepakbola di bawah pancaran sinar matahari adalah sepakbola yang penuh suka cita, sarat kegembiraan yang sederhana tapi penuh, yang bisa ditemukan di jalanan, di lapangan, juga di padang-padang rumput. Tapi sepakbola yang sederhana dan penuh suka cita itu juga dibayang-bayangi oleh sepakbola yang telah terkomodifikasi, menjadi komoditas, yang membuat sepakbola hanya menjadi tambang uang yang --sialnyaβdikeruk oleh para pemilik modal yang hanya ingin trofi selekas-lekasnya.
Orang Inggris, yang klub-klub besarnya kini dikuasi para pemodal asing, mungkin akan memandang sinis pandangan Galeano ini. Galeano, dalam hal tertentu, seperti seorang melankolik yang sedang merayakan nostalgia masa silam yang sudah lama beranjak menjauh.
Tapi itulah pandangan generasi tua orang Uruguay terhadap sepakbola. Mereka inilah yang mengalami secara langsung bagaimana seisi negeri meledak dalam kegembiraan dan kebahagiaan yang tak tertahankan saat tim nasional Uruguay berhasil mengalahkan Brasil di Stadion Maracana pada final Piala Dunia 1950. Bagi orang Uruguay seumuran Galeano, 1950 adalah titimangsa yang tak akan pernah terlupakan, akan selalu dikenang dan terkenang. 1950, seperti (Piala Dunia) 1966 bagi orang Inggris, adalah saat di mana tiap orang bisa merasa begitu bangga dan berbahagia menjadi rakyat Uruguay.
Hingga sekarang, tiap kali tim nasional Uruguay bermain di Montevideo akan selalu ada spanduk raksasa bertulis "1950" dibentangkan di tribun penonton. Itulah pernyataan kerinduan kolektif rakyat Uruguay atas kejayaan sepakbola Uruguay.
Jika Galeano mengatakan bahwa "sejarah sepakbola tak ubahnya perjalanan sedih dari keindahan menjadi kewajiban", maka kalimat itu bagi orang Uruguay bisa saja menjadi "sejarah sepakbola Uruguay tak ubahnya perjalanan sedih dari kejayaan menjadi kesunyian".
Bisalah dipahami jika orang Uruguay merasakan kegembiraan dan kelegaan yang luar biasa saat Diego Forlan, dkk., bisa melaju ke babak semifinal Piala Dunia 2010. "Hanya ada 3 juta orang di Uruguay dan kami sudah menunggu lama momen seperti ini," kata Oscar Tabarez, pelatih Uruguay, kala itu.
Tentu melankolia 1950 hanya bisa terpenuhi secara sempurna jika Uruguay sanggup membawa pulang trofi Piala Dunia kembali. Biar bagaimana pun, harus diakui, derajat Copa America tak sepadan dengan Piala Dunia.
Akan tetapi, bisa menjuarai Copa America setelah puasa gelar selama 16 tahun dan saat yang sama mencatatkan sejarah sebagai kampiun dari segala kampiun sepanjang sejarah Copa America, tentu prestasi yang sangat patut dirayakan. Terlebih trofi ke-15 (jika berhasil mengalahkan Paraguay di final) ini digapai di Argentina (rival terkuat mereka di Copa America) dengan sebelumnya juga mengalahkan Argentina di babak perempat-final. Sebuah catatan sejarah yang komplit!
Sedikit banyak ini akan mengafirmasi pernyataan Tim Vickery, jurnalis Inggris dengan spesialisasi Amerika Latin, tentang Uruguay. Kata Tim Vickery, "Negara-negara lain memiliki sejarah dan bagi Uruguay sejarah itu adalah sepakbola."
==
* Penulis adalah penyuka sejarah, penikmat sepakbola. @zenrs
(a2s/a2s)











































