sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Selasa, 25 Okt 2011 11:47 WIB

Catatan Sepakbola

Pemain Asing dan Prestasi Timnas

- detikSport
Jakarta - Setelah hanya menjadi wacana sejak beberapa musim lalu, PSSI akhirnya benar-benar mengurangi kuota pemain asing. Dari sebelumnya lima, kini setiap klub cuma boleh mengontrak empat pemain asing.

Ini tentu berita baik bagi pembinaan sepakbola Indonesia. Berkurangnya kuota pemain asing berdampak bagus bagi pembinaan pemain muda. Berkurangnya jumlah pemain asing diharapkan pemain lokal mendapat kesempatan bermain lebih banyak di liga.

Efek lebih besar bakal dirasakan timnas. Bila pemain-pemain lokal lebih sering tampil, pelatih timnas tak perlu kuatir kekurangan stok pemain berpengalaman. Selain itu, tampil secara reguler di liga juga akan menempa mental pemain. Hal ini tentunya sangat bermanfaat saat memperkuat timnas di laga internasional.

Dampak negatif

Semata-mata menyalahkan pemain asing atas merosotnya performa timnas jelas bukan tindakan bijak. Namun harus diakui ada korelasi antara membanjirnya pemain asing di liga dengan prestasi timnas. Rumusnya selalu sama. Semakin dominan pemain asing di liga, semakin jauh timnas negara bersangkutan dari prestasi.

Coba lihat Liga Indonesia. Selama ini pemain asing banyak mengisi posisi-posisi vital, yakni bek dan penyerang. Mulai dari tim elite hingga tim semenjana dipastikan mempunyai stok pemain asing di kedua posisi penting tersebut.

Dominasi pemain asing di posisi penyerang dapat dilihat dari daftar pencetak gol terbanyak musim ke musim. Baik di liga maupun di Piala Indonesia, gelar top skorer lebih sering diraih pemain asing. Salah satunya Cristian Gonzales, yang sebelum menjadi WNI sempat menyabet gelar top skorer liga tiga kali, dan sekali di PI.

Akibatnya bisa dilihat bersama. Timnas Indonesia kuat di sayap, posisi yang jarang ditempati pemain asing di liga, namun lemah di posisi lain. Bagian terlemah adalah lini belakang dan depan. Mandulnya Bambang Pamungkas, cs. dalam empat laga beruntun melawan Yordania, Iran, Bahrain, dan Arab Saudi mungkin bisa jadi bukti nyata. Ketika akhirnya berhasil mencetak gol saat menjamu Qatar, dua gol timnas diborong Gonzales yang notabene pemain naturalisasi.

Belajar dari Inggris

Kalau timnas Indonesia tak cukup meyakinkan sebagai bukti, coba tengok Inggris. Diakui sebagai penemu sepakbola, kemudian menjadi pelopor sepakbola modern dan kiblat industrialisasi sepakbola, prestasi timnas negara tersebut begitu-begitu saja. Satu-satunya gelar prestisius yang pernah diraih Inggris adalah Piala Dunia 1966, itupun saat menjadi tuan rumah.

Sama seperti Liga Indonesia, Liga Inggris -- terutama setelah berubah format menjadi Premiership menampung banyak pemain asing. Kondisi Inggris malah lebih mengkhawatirkan karena pelatih pelatih klub elite Liga Inggris kebanyakan orang non-Britania. Jadi, lengkaplah sudah ‘derita’ timnas Inggris.

Juara Euro 2008 dan Piala Dunia 2010, Spanyol, sempat mengalami hal serupa. Awal tahun 2000-an, Real Madrid dan Barcelona yang merupakan duopoli La Liga lebih banyak diperkuat pemain asing. Madrid dengan Los Galacticos-nya mengumpulkan pemain-pemain terbaik dunia, menjadikan hasil binaan akademinya sendiri jarang tampil. Demikian juga dengan Barca.

Akibatnya dirasakan timnas Spanyol. Timm"Matador" hampir tidak lolos ke Euro 2004, bahkan sempat kalah dari Yunani di babak prakualifikasi. Kebangkitan Spanyol dimulai ketika Madrid melego bintang bintangnya, dan Barca lebih memilih untuk memaksimalkan anak didik La Masia.

Membludaknya pemain asing di Liga Indonesia didasari oleh kesalahan berpikir bahwa pemain asing berkualitas lebih baik dari pemain lokal. Manajemen klub juga percaya mengontrak pemain asing banyak-banyak bakal membawa prestasi. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Ketika PSSI pertama kali membuka kran pemain asing di Liga Indonesia I (1994/95), juaranya justru Persib yang diperkuat pemain-pemain lokal. Contoh teranyar tentu saja Persipura yang begitu dominan di tiga musim terakhir meski skuatnya lebih banyak diisi pemain asli Papua.

Sudah saatnya klub-klub Indonesia memiliki visi jauh ke depan dengan lebih mementingkan pembinaan ketimbang prestasi jangka pendek secara instan.


==

* Penulis adalah pecinta sepakbola, blogger (http://www.bungaeko.com). Tulisan ini opini pribadi, bukan sikap/opini redaksi.





(a2s/a2s)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed