Tentang Kepindahan Modric ke Madrid

Catatan Sepakbola

Tentang Kepindahan Modric ke Madrid

- Sepakbola
Kamis, 30 Agu 2012 01:01 WIB
Tentang Kepindahan Modric ke Madrid
AFP/Dominique Faget
Jakarta - Transfer Luka Modric tidak hanya melibatkan sejumlah uang, tapi juga serangkaian pasal kerjasama antara Tottenham Hotspur dan Real Madrid. Kedua klub mengklaim diuntungkan. Namun, tentu ada pihak yang mendapatkan keuntungan lebih dibanding pihak yang lain. Siapa?

Setelah melalui proses yang cukup lama, Modric akhirnya berganti seragam mulai musim 2012/13. Proses transfer Modric merupakan salah satu yang menarik perhatian di bursa musim panas ini. Keputusan manajer Tottenham Andre Villas-Boas untuk memarkir dia selama pra-musim membuat isu bahwa Modric memang sudah tidak memiliki masa depan di White Hart Lane.

Pada akhirnya, Senin (27/8/2012) Modric pun resmi meninggalkan London Utara. Selain uang dalam jumlah sekitar 30 juta poundsterling, sebuah partnership agreement antara Madrid dan Tottenham turut menjadi mahar kepindahan Modric. Kerjasama itu mencakup aspek pemain, kepelatihan, komersial, dan sebagainya. Kedua klub memberikan pernyataan resmi bahwa masing-masing dari mereka mendapatkan keuntungan dari kerjasama tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebenarnya bukan ini saja ada dua buah klub saling bekerjasama. Namun itu pada umumnya terjadi antara sebuah klub kecil dengan klub besar. Jurnalis Metro.co.uk Massimo Marioni dalam kolom berjudul "Spurs announce Real Madrid partnership as part of Luka Modric transfer: Sign of surrender or shrewd manoeuvre?" (27/8/2012) menilai kerjasama seperti itu umumnya dimanfaatkan tim besar agar bisa mengirimkan pemain yang tidak mendapat tempat utama, ke klub kecil yang menjadi partner. Tujuannya agar pemain "tersisih" tersebut bisa mengasah kemampuannya. Ketika sudah mendapatkan jam terbang yang cukup, maka klub pemilik bisa saja menarik kembali pemain "tersisih" tersebut -- yang kembali dengan skill lebih baik tentunya.

Namun, masih menurut Marioni, kerjasama Madrid-Spurs ini lebih dari sekadar kerjasama antara klub feeder dengan klub besar. Kerjasama ini merupakan upaya cerdik dari chairman Spurs Daniel Levy untuk menyelamatkan dirinya dari kemarahan besar para suporter The Lilywhites akibat kepergian Modric.

Meski begitu penulis memandang bahwa Madrid lebih diuntungkan dengan kerjasama ini. Hubungan yang terjadi pun, masih antara klub superior dengan klub "kecil" meskipun tim London Utara dalam beberapa musim terakhir cukup stabil di papan atas Liga Primer Inggris dan mereka juga berkiprah di kompetisi Eropa.

Mengapa? Kerjasama ini menghindarkan Madrid dari pemborosan uang dalam membeli pemain. Kita semua sudah tahu bahwa sejak dahulu Madrid cukup jor-joran dalam membeli pemain, terutama sejak awal millenium anyar dengan dimulainya periode Los Galacticos.

Namun pembelian pemain yang dilakukan El Real, menurut penulis banyak di antaranya dilakukan tanpa perhitungan. Alhasil, dana yang dikeluarkan tim yang bermarkas di Santiago Bernabeu itu terasa sia-sia.

Tak sedikit para pemain bintang yang mengalami flop di El Real. Robinho, Kaka, adalah sebagian contohnya. Belum lagi sederetan bintang-bintang asal Belanda seperti Ruud van Nistelrooy, Rafael Van der Vaart, Arjen Robben, Wesley Sneijder, Klaas Jan Huntelaar, dan Royston Drenthe yang gagal menemukan hari-harinya bersama Madrid. Bahkan para pemain Negeri Kincir Angin itu dilepas klub dengan harga yang jauh lebih murah dibanding dengan harga saat mereka didatangkan ke Santiago Bernabeu.

Kebijakan transfer yang dilakukan oleh Madrid pun juga beberapa kali terasa kurang efektif. Ingat kasus Julien Faubert? Memang, bagi klub super kaya seperti Madrid dana 1,5 juta poundsterling bukanlah nilai yang signifikan. Namun itu akan terasa sia-sia mengingat dana tersebut mereka keluarkan untuk meminjam Faubert dari West Ham United (tahun 2009), pemain yang hanya dua kali tampil dan sempat terekam kamera kedapatan tidur di bangku cadangan saat Los Blancos menghadapi Villarreal.

Dengan kerjasama ini, maka Madrid akan diuntungkan. Mereka bisa memantau pemain-pemain Spurs yang memang sudah terbukti dan teruji dalam tempaan kompetisi seketat Premier League. Alhasil kerjasama ini membuat Madrid bisa meminimalkan risiko mendapatkan pemain yang berharga mahal namun kualitasnya ternyata tidak sebanding.

Keuntungan lain yang didapat Madrid adalah mereka bisa "menitipkan" pemain-pemain yang tak mendapat tempat utama, entah itu pemain muda atau pun bintang yang gagal bersinar, ke White Hart Lane. Ketatnya kompetisi di Liga Inggris berpotensi untuk membuat mereka bisa mengasah kemampuan, daripada hanya menghangatkan bangku cadangan di Madrid. Ketika pemain itu sudah bisa meningkatkan kemampuan, maka Madrid pun bakal mendapatkan "pemain jadi" ketika menarik mereka kembali.

Selain kompetisi Liga Inggris yang ketat, satu hal yang perlu dicermati adalah kerjasama ini membuat Madrid meminimalkan risiko lahirnya "barisan sakit hati" yakni pemain yang merasa tersisih dan dibuang begitu saja oleh Madrid. Yang cukup dikenang adalah ucapan Samuel Eto'o (saat itu memperkuat Barcelona) yang mengatakan bahwa Madrid adalah cabron alias "bang*at" pada tahun 2005. Sebuah ucapan yang membuat pemain Madrid tahun 1997-2000 itu mendapatkan denda dari RFEF sebesar 12 ribu Euro.

Masih ingat ucapan striker Sevilla yang merupakan mantan pemain jebolan akademi Madrid, Alvaro Negredo? Dia mengatakan bahwa dirinya sudah tidak sudi lagi kenal dengan yang namanya Real Madrid. Dua contoh itu menunjukkan bahwa ada sakit hati yang mendalam dari mereka yang tersingkir (atau disingkirkan) oleh Madrid.

Berbeda kondisinya jika para pemain yang gagal menembus tim utama tersebut jika "disisihkan" ke Tottenham. Siapa yang tak ingin menjajal kompetisi seperti Premier League? Siapa yang tak ingin unjuk kemampuan dalam kompetisi yang musim ini memasuki musim ke-20 tersebut? Berbeda kasusnya dengan Negredo dan Eto’o yang oleh Madrid "diasingkan" ke tim yang sangat berat untuk bisa kompetitif seperti Sevilla (Negredo) atau Leganes, Espanyol, dan Mallorca (yang merupakan klub-klub yang diperkuat Eto'o sebelum berseragam Barcelona. Pemain Kamerun itu memperkuat ketiga klub tersebut dengan status pinjaman dari Real Madrid).

Tidak adanya barisan sakit hati ini akan membuat mereka mungkin kembali dengan suasana hati yang lebih senang, andai nanti Santiago Bernabeu memanggil mereka lagi.

Lalu apa keuntungan yang didapat Spurs dari kerjasama itu di waktu mendatang? Memang, The Lilywhites berkesempatan mendapatkan pemain-pemain yang sudah merasakan –setidaknyaβ€”atmosfer dari Liga Spanyol. Namun mungkin hanya itu saja. Ketika pemain "buangan" tersebut ternyata berhasil bersinar, justru saat itulah tim London Utara harus siap-siap kehilangan mereka. Sebab bukan tak mungkin Madrid akan memanggil mereka kembali.

Alhasil, Spurs akan sulit memiliki kerangka tim utama yang mana hal tersebut berpotensi menyulitkan kiprah tim yang berdiri tahun 1882 tersebut.



==
* Penulis adalah penikmat sepakbola, tinggal di Yogya.

(a2s/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads