Saya menyaksikan pertandingan antara Manchester United vs Tottenham Hotspur dari sebuah tempat yang ramai. Tepat ketika saya dan teman saya datang ke tempat itu, hampir seluruh orang sedang bersorak merayakan gol Edin Dzeko ke gawang Fulham. Tidak, saya tidak menonton dari Etihad. Saya cuma menyaksikannya dari sebuah tempat di kawasan Kemang.
Sorakan yang sama ramainya terjadi ketika Vertonghen membobol gawang Anders Lindegaard. Saya tidak tahu mereka mendukung siapa atau hanya sekadar mencari keramaian. Tapi tidak dengan teman saya yang mengenakan jersey dengan logo Red Devils di dadanya --jelas dia mendukung siapa. Permainan United di babak pertama memang bisa membuat pendukungnya ngeri sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama hari-harinya di Ajax Amsterdam, Vertonghen tidak hanya dikenal sebagai kapten dan bek tengah yang piawai menjaga pertahanan, tapi juga kerap melepaskan tendangan jarak jauh. Selain itu, dia cukup oke ketika harus membantu timnya melakukan serangan. Laga melawan United akhirnya membuktikan hal itu. Spurs beruntung dia lebih memilih mereka ketimbang Arsenal.
Vertonghen juga tampil bak Colossus di belakang. Dimainkan sebagai bek kiri, dia beberapa kali mematikan pergerakan Nani. Dengan badannya yang menjulang hingga 190 cm, ia juga kerap berjibaku di depan gawang Brad Friedel menghalau serangan lawan.
Di sisi lain, United seperti memperlihatkan sisi terburuknya. Mereka terlalu lama menyentuh atau membawa bola, padahal ruang di sekeliling mereka terbuka cukup lebar. Persis seperti ketika menghadapi Liverpool sepekan sebelumnya. Imbasnya, lawan dengan mudah mendekat dan merebut bola. United seperti bermain tanpa sense of urgency.
Kengerian bertambah. Penguasaan bola United hilang di depan kotak penalti Spurs. Bola diberikan kepada Gareth Bale dan lagi-lagi ada lubang menganga di pertahanan United. Rio Ferdinand tidak cukup cepat untuk menutup pergerakan si nomor 11 itu dan gawang Lindegaard bobol lagi.
Bisa saja muncul kengerian-kengerian lainnya setelah itu. Bagaimana United membalas dua gol itu? Bagaimana menaklukkan Friedel yang sudah 41 tahun tapi masih piawai memblok tendangan itu? Bagaimana jika di sisi lain lapangan Aaron Lennon mulai berpikir, "Mungkin aku bisa melakukan hal yang sama seperti Jan dan Gareth?"
Tapi, United adalah United. Dan ada dua United malam itu: Jekyll United dan Hyde United. Sisi buruknya muncul duluan, sedangkan sisi baiknya baru muncul belakangan --kendati sang sisi buruk sempat mengganggu di babak kedua. Teman saya menggeleng ketika saya tanya apakah kebobolan dua gol membuatnya berniat untuk pulang. Sebagai penggemar United, dia tahu bahwa ada pertandingan-pertandingan yang berakhir seperti Camp Nou 1999 atau St Mary's beberapa pekan silam.
Entah apa yang dikatakan Sir Alex Ferguson di ruang ganti, tiba-tiba sense of urgency itu muncul. Wayne Rooney yang baru masuk menggantikan Ryan Giggs melepaskan umpan silang dan langsung disambar Nani. Gelandang asal Portugal itu pun tidak buang waktu untuk merayakan gol atau melakukan salto. Timnya sedang tertinggal satu gol. Yang dilakukannya adalah mengambil bola dari jala Friedel dan menaruhnya lagi di tengah lapangan.
Tapi, lini belakang United memang jadi sisi buruk malam itu. Gareth Bale tahu-tahu bisa masuk ke kotak penalti dan menerima terobosan dari Jermain Defoe. Bale melepaskan tendangan, diblok Lindegaard, dan akhirnya disambar Clint Dempsey. United tertinggal dua gol lagi, tapi langsung membalas lewat Shinji Kagawa. Laga mendadak jadi milik United.
Teman saya mulai mengatakan bahwa dia akan mentraktir minuman saya andai tiap serangan United berakhir menjadi gol. Tapi, yang terjadi berikutnya adalah berbagai "seandainya": Seandainya gol Dempsey itu tidak terjadi, seandainya tendangan Robin van Persie dari jarak dekat tidak melebar, seandainya tendangan bebas Rooney tidak mengenai tiang, seandainya sundulan Michael Carrick tidak menerpa mistar, dan seandainya saya jadi mendapatkan satu minuman gratis. Tidak ada gunanya memikirkan "seandainya" dan yang sudah lewat.
Sir Alex mau tak mau harus mengakui bahwa barisan pertahanannya bermain dengan buruk. Rio Ferdinand tidak lagi secepat dulu, tapi entah kapan Phil Jones atau Chris Smalling bisa bermain lagi. Terlepas dari okenya permainan Scholes dan Carrick (total melepas 256 passing, lebih banyak dari keseluruhan tim Spurs yang melepaskan 243 passing), United membayar buruknya pertahanan dengan tiga poin lepas.
Premier League baru berjalan enam pekan, peluang United untuk jadi juara juga belum sirna. Mereka pernah kalah lima kali ketika menjadi juara pada musim 2002/2003. Tapi, apa jadinya jika mereka bermain seperti itu menghadapi lawan-lawan seperti Santi Cazorla atau trio Oscar-Eden Hazard-Juan Mata dengan Fernando Torres di depannya?
==
* Penulis ada wartawan detiksport. Akun twitter: @RossiFinza
(roz/a2s)











































