sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Sabtu, 01 Des 2012 11:25 WIB

Catatan Sepakbola

Berharap Malam Ini Piala AFF Dilanjutkan di GBK

- detikSport
detiksport/Rachman Haryanto
Jakarta -

Malam ini (1/12) Indonesia akan memastikan apakah bisa lanjutan AFF Suzuki Cup 2012 dibawa ke tanah air, karena tim-tim yang lolos ke babak semifinal berkesempatan main di kandang sendiri.

Irfan Bachdm dkk. hanya butuh hasil seri melawan Malaysia untuk bisa keluar dari Grup B, walaupun hasil itu mungkin membuat anak-anak "Merah Putih" finis sebagai runner-up grup, apabila di waktu bersamaan Singapura berhasil mengalahkan Laos.

Sebagian orang boleh jadi tetap berharap Indonesia bisa ke semifinal sebagai juara grup, demi menghindari tim kuat yang selalu jadi favorit di Asia Tenggara, Thailand, yang kemarin memastikan dirinya sebagai kampiun Grup A.

Sebagian lain tidak mensyaratkan begitu. Memilih lawan bisa jadi pekerjaan nomor dua setelah memastikan dulu, bisakah rintangan terakhir itu disingkirkan. Sepertinya kalangan ini bersikap demikian karena bagaimanapun Malaysia takkan mudah ditaklukkan, sekalipun mereka tampil buruk sebelum turnamen dan kalah telak 0-3 dari Singapura di laga pertamanya.

Di sisi lain, permainan Indonesia pun sesungguhnya belum bagus-bagus amat. Ada sejumlah hal yang menjadi potensi kelemahan tim, dan itu menjadi tugas pelatih Nil Maizar untuk terus diminimalisir. Secara obyektif, hasil 2-2 melawan Laos dan menang tipis 1-0 atas Singapura yang bermain dengan 10 orang, adalah sebuah gambaran betapa pasukan "Garuda" belum bisa dikatakan sudah "panas".

Meski demikian, ada alasan lain di luar skenario "memilih lawan" di semifinal, yaitu soal harga diri dan kebanggaan. Yang dihadapi Indonesia adalah Malaysia. Ibaratnya, jika Real Madrid atau Barcelona boleh kalah dari tim manapun kecuali di laga El Clasico, maka buat fans Indonesia pun sudah berlaku hukum serupa: dilarang kalah dari Negeri Jiran yang satu itu.

Sejarah rivalitas di lapangan hijau sampai "kebencian" politis di pihak Indonesia membuat tensi pertandingan kedua negara selalu tinggi. Lebih tepatnya adalah tensi suporter. Toh selama ini jarang ada "bumbu-bumbu sengit" di atas lapangan yang dilakukan oleh para pemain kedua tim -- tidak seperti El Clasico atau Manchester kontra Arsenal, di mana pemain-pemainnya cukup sering terlibat kontak fisik yang "lebay". (Di level timnas, pemain-pemain Indonesia justru bisa lebih "santun" walaupun di level klub sering terjadi insiden keributan antarpemain).

Terunggahnya via Youtube video suporter Malaysia yang menghina Indonesia akhir-akhir ini tentu saja secara spontan membuat panas suporter Indonesia. Sebagian media massa pun menggorengnya sebagai "isu", sehingga seolah-olah hal itu sudah di luar kewajaran, di luar konteks, dan lain-lain. Seorang ketua DPR Marzuki Alie pun sampai mengeluarkan pernyataan supaya Indonesia menolak bertanding di Malaysia karena tidak menghormati tamu. Ini maksudnya apa?

Tapi ini memang realitas dalam masyarakat Indonesia. Cepat bereaksi pada hal-hal yang membuat kita tidak nyaman. Padahal, kalau mau sedikit fair, kita pun sering membuat tak nyaman tetamu kita di Gelora Bung Karno. Selama ini, jika ada pertandingan internasional, sebagian penonton masih mencemooh lagu kebangsaan orang lain.

Mengutip artikel Ahmad Zaini berjudul "Pelatih yang Hebat, Pemimpin yang Hebat" (13/11), ada cerita menarik tentang reaksi pelatih Malaysia U-23, Ong Kim Swee, sewaktu memimpin timnya melawan Indonesia di final SEA Games 2011 di GBK. Tahu lagu kebangsaan mereka tidak dihormati pendukung tuan rumah, ia mentransfer ketersinggungan anak-anak buahnya menjadi sebuah energi tersendiri.

"Mereka tak menghormati kalian, mereka tak menghormati bendera kita, mereka tak menghormati raja kita dan mereka tak menghormati orangtua kalian .... Jika kalian membiarkan itu terjadi, maka kalian sama saja pengecut. Kalian harus tunjukkan pada mereka bagaimana rasanya menjadi orang Malaysia."

Dan Malaysia berhasil mengalahkan Indonesia lewat adu penalti, meraih medali emas, dan sekali lagi menggagalkan mimpi Indonesia untuk meraih gelar juara, setelah dua tahun lalu juga menghempaskan Cristian Gonzales dkk. di final Piala AFF.

Maka sesungguhnya mimpi itulah yang mesti dikejar lagi oleh Nil Maizar dan skuatnya. Mimpi yang apabila mereka bisa meraihnya, mungkin saja mimpi-mimpi lain bisa terwujud. Apa itu? Mimpi bahwa sepakbola Indonesia bisa lebih baik, bukan cuma piala sebagai ukuran, tapi lingkungan, iklim, sistem, serta orang-orang yang mengurusnya.

Kita semua paham kenapa Andik Vermansah sampai mengatakan begini seusai menjadi penentu kemenangan Indonesia atas Singapura. "Gol ini saya persembahkan buat seluruh masyarakat … dan mereka yang membenci timnas," ucap dia di depan sejumlah jurnalis di Stadion Bukit Jalil.

Begitulah, sejak setahun lalu sepakbola Indonesia sudah terbelah dua. Setelah kompetisi, institusi yang (merasa) mengurusi sepakbola pun menjadi dua, sampai-sampai tercipta ilusi bahwa seakan-akan timnas pun ada dua. Perdebatan -- saling ejek, lebih tepatnya -- terus terjadi setiap kali ada yang kalah, lalu bergantian apabila kubu "lawan" besok keok. Dan begitu seterusnya.

Terlepas dari konflik elite yang sesungguhnya penulis pun tak tahu kapan akan benar-benar usai, semestinya cita-cita itu saat ini, hari ini, cuma satu: Indonesia menang (atau seri) melawan Malaysia, dan kita lolos ke babak semifinal.

Jika hal itu tercapai, sangat mungkin suporter yang "benci timnas" berangsur-angsur luruh, karena pada dasarnya mereka "benci tapi rindu" pada timnas. Gelora Bung Karno, yang akhir-akhir ini sepi penonton jika timnas bermain, bisa hiruk-pikuk lagi, bisa heboh lagi seperti dulu, apabila Andik cs. melanjutkan usahanya di Piala FF 2012 di kandang sendiri.

Karena semifinal dan final turnamen menggunakan format home and away, maka Indonesia setidaknya akan tampil satu kali di Senayan, jika lolos dari Grup B, terserah mau siapapun lawannya. Jika jadi juara grup, maka partai kandang terjadi di leg kedua. Kalau runner-up, maka Indonesia lebih dulu main di kandang sebelum melawat di leg kedua.

Kalau sudah lolos ke semifinal, dengan dukungan lebih besar dari suporter, maka permintaannya akan lebih tinggi lagi: kepalang tanggung, sekalian saja masuk final. Kalau masuk final, permintaan itu akan berubah lagi: sudah ke final ya harus juara.

Tapi, sebelum sampai ke situ, permintaannya pasti cuma satu: hari ini Indonesia memastikan lolos ke semifinal, dan membawa lanjutan Piala AFF ke tanah air. Cerita selanjutnya menyusul.

Semoga.




==
* Penulis adalah redaktur pelaksana detiksport. Akun twitter @sururi10




(a2s/cas)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com