sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Rabu, 06 Feb 2013 12:19 WIB

Catatan Sepakbola

Berjuanglah di Dubai, lalu di Negeri Sendiri

- detikSport
Jakarta - Sekali lagi, tim nasional Indonesia akan membawa bendera Merah-Putih ke kancah internasional dalam kondisi dalam negeri yang tidak ideal. Tapi buat saya, jika boleh memakai "fatwa": haram untuk tidak mendukung mereka.

Saat meliput Piala Eropa 2008, pada suatu malam saya berkenalan dengan seorang Inggris di Zurich, yang berkaus oblong putih bergambar Steve McClaren dengan tulisan: Blame on Him -- Inggris tidak lolos saat dilatih orang itu.

Sewaktu dia menyebut Leicester sebagai kota asalnya, spontan saya berkata, "Anda pasti pendukung Leicester City." Mukanya seperti malu tapi gengsi, dan dia menjawab, "Yeah, klub yang menyedihkan."

Saya tertawa lagi ketika dia melanjutkan omongannya dengan berkata lebih tegar. "Mereka memang klub yang tidak akan pernah jadi juara. Tapi saya fans mereka. Kamu mau bilang apa, heh?"

Pertengahan Desember lalu sejumlah media massa di sana menulis cerita heroisme seorang fans Udinese bernama Arrigo Brovedani. Saat tim kesayangannya melawat ke markas Sampdoria, ia pergi ratusan kilometer untuk mendukung langsung Antonio di Natale dkk. Faktanya kemudian, dari jatah 4.134 kursi untuk tifosi Udinese di Stadio Luigi Ferraris, ternyata hanya dia yang ada di situ -- dan Brovedani bertahan di sana sampai pertandingan selesai.

Seorang petugas stadion yag merasa kagum dengan kecintaan itu memberinya kenang-kenangan berupa jersey Sampdoria. Suporter tuan rumah yang semula mencibir dia, seusai laga memberinya tepuk tangan dan mengajaknya minum-minum bersama. So sweet. Itulah cinta, kata para penyair.

Dari dua contoh tersebut, saya percaya bahwa setiap dari kita yang di Piala Dunia atau Euro mati-matian mendukung Belanda, Argentina, Jerman, Brasil, Spanyol atau Inggris sekalipun, sesungguhnya tidak sok-sokan merasa sebagai warga negara-negara tersebut. Kita cuma menginginkan pahlawan-pahlawan dalam hidup, seperti Gotham City membutuhkan Batman -- segalau apapun dia seperti yang digambarkan Christoper Nolan di The Dark Knight Rises.

Masyarakat kita sedang galau, masih galau, dan akan selalu galau jika dunia persepakbolaan kita masih begini-begini saja. Bambang Pamungkas akhirnya galau, Okto Maniani masih resah belum punya klub, Andik Vermansah mungkin siap dimaki-maki sepulangnya dari Dubai nanti. Diego Michiels pun galau dengan kasusnya sendiri. Diego Mendieta ... Semoga dia lebih tenang di alam baka sana.

Maka sesungguhnya, menurut saya, musuh Indonesia malam ini bukanlah Irak. Bukan pula Arab Saudi dan China yang nanti pun akan kita hadapi di babak kualifikasi Piala Asia 2015. Musuh mereka, musuh kita adalah chaos yang terjadi di rumah sendiri. Pertanyaan lebih substansial bukanlah "mampukah Indonesia mengimbangi Singa Mesopotamia?", melainkan "bisakah kita mengalahkan keserakahan, ego-ego, dan kebodohan-kebodohan diri yang membuat sepakbola kita menjadi tidak membahagiakan?"

Tulisan ini secara khusus saya tujukan untuk semua pemain dan staf pelatih timnas yang beberapa jam lagi akan berjuang di Dubai. Tenang sajalah. Bermainlah semampu kalian. Bekerjalah sebisa kalian. Jangan pikirkan caci-maki yang sudah pasti akan berhamburan dari mulut kami yang sudah frustrasi ini. Sesungguhnya bukan kalian yang kami cemooh, tapi kekacauan sistem-lah yang kami sesalkan.

Sebagian kami cuma glory hunter, cuma ingin melihat hasil. Sebagian kami pun manusia yang realistis. Kalaupun, sekali lagi -- kalaupun, kalian kesulitan menghadapi tim-tim tersebut yang secara kualitas memang harus diakui lebih baik, janganlah reaksi kami dimasukkan ke hati. Sekali lagi, kami memang sedang galau, dirundung emosi, dan ketika dirundung emosi, berpikir rasional jadi agak sulit.

Di Piala AFF lalu, misalnya. Sebagian kami bersumpah takkan menonton aksi kalian melawan Laos. Tapi berita kemenangan kalian tetap mereka intip keesokan paginya. Sebagian kami masih pura-pura "malu" untuk mendukung perlawanan kalian pada Singapura. Tapi kemenangan kalian kemudian kami syukuri -- dan kami bahkan merencanakan dengan teman-teman untuk nonton bareng pertandingan melawan Malaysia di kafe-kafe, bahkan sampai ikut terbang ke Bukit Jalil.Sampai titik itu, sebelum kekalahan yang menyesakkan itu terjadi, kalian sudah menjadi pahlawan kami.

Maka saya percaya, sebagian dari kami tetap memandang kalian yang saat ini berada di Dubai adalah pahlawan-pahlawan itu. Dalam keadaan susah di rumah sendiri, kalian masih mau memenuhi kewajiban membela negara.Tidak terbayangkan juga seumpama kalian lebih menuntut hak daripada mengutamakan kewajiban itu, lalu siapa tim yang akan diberangkatkan melawan Irak nanti?

Jadi, apapun yang kalian bawa pulang nanti -- tentu saja, syukur-syukur berupa poin --, pulanglah dengan penuh semangat. Semangat untuk ikut memperbaiki tatanan yang sudah hancur ini. Kepada sesama pemain yang tidak di timnas, sambutlah rekan-rekan Anda itu dengan suka cita, dengan semangat yang sama. Ini kehidupan Anda, mata pencarian Anda. Perjuangkanlah itu juga, bukan supaya gaji 3-5 bulan Anda cepat dilunasi, tapi juga untuk ketenangan bekerja, jaminan kesehatan Anda serta hak-hak Anda yang lain bertahun-tahun kemudian, karena Anda juga sudah menguntungkan sekalangan orang, dan jelas-jelas memberi kesenangan pada ratusan juta orang Indonesia yang mencintai sepakbola.

Selamat berjuang.

==

* Penulis adalah redaktur pelaksana detiksport. Akun twitter: @sururi10






(a2s/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com