Preseden Buruk Transfer Drogba

Catatan Sepakbola

Preseden Buruk Transfer Drogba

- Sepakbola
Senin, 25 Feb 2013 13:49 WIB
Preseden Buruk Transfer Drogba
REUTERS/Murad Sezer
Jakarta - Duel Galatasaray versus Schalke di babak 16 besar Liga Champions minggu lalu ternyata menyisakan persoalan. Bukan mengenai hasilnya yang berkesudahan 1-1 sehingga memperberat peluang klub raksasa Turki itu untuk melaju lebih jauh. Masalah yang muncul justru terkait keabsahan salah satu bintang baru yang diturunkan Galatasaray dalam duel itu: Didier Drogba!

Laga di Turk Telekom Arena itu memang merupakan penampilan perdana Drogba di Liga Champions setelah mengantar Chelsea menjadi juara usai mengalahkan Bayern Muenchen di final musim lalu. Namun, status Drogba dipertanyakan oleh Schalke. Klub Jerman itu menganggap Drogba seharusnya tak diizinkan main mengingat perpindahannya dari Shanghai Shenhua melanggar aturan.

Dalam Artikel 18.18 Regulasi Liga Champions disebutkan bahwa batas akhir pendaftaran pemain untuk fase knockout tak boleh melampaui 1 Februari. Nah, meskipun secara resmi direkrut Galatasaray pada 28 Januari dan langsung didaftarkan ke UEFA, status Drogba sempat mengambang dan baru disahkan pada 13 Februari setelah mendapat klarifikasi FIFA. Untuk itulah, Schalke merasa perlu mengajukan protes resmi kepada UEFA.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

FIFA sendiri memberikan "lampu hijau" bagi Droga untuk melanjutkan kariernya bersama Galatasaray setelah melalui pembahasan di panel status pemain. Kabarnya, Galatasaray harus merogoh kocek hingga 10 juta dolar AS (sekitar Rp 97 miliar) untuk memakai tenaga sang penyerang selama 18 bulan.

Masalahnya, Shenhua tetap menolak melepas striker asal Pantai Gading yang diboyongnya dari Chelsea, 1 Juli 2012. Mereka merasa masih pemilik sah Drogba karena punya ikatan kontrak selama 2,5 tahun dengan gaji spektakuler: 300 ribu dolar AS per minggu!

Drogba dianggap Shenhua meninggalkan klub dan mengakhiri kontrak secara sepihak. Makanya, tim hukum Shenhua saat ini dikabarkan tengah menyiapkan gugatan ke pengadilan arbitrase untuk menguji keabsahan transfer Drogba ke Galatasaray. Dua pekan lalu, protes awal yang diajukan kubu Shenhua sudah ditolak FIFA yang tetap mengesahkan status Drogba sebagai pemain baru Galatasaray.

Bagi saya, yang menarik dari kasus Drogba ini bukanlah sengkarut persoalan hukumnya. Tentang hal ini, lebih baik diselesaikan saja melalui jalur pengadilan arbitrase olahraga sehingga didapatkan kepastian hukum yang bersifat mengikat.

Yang lebih menarik sebenarnya alasan di balik keputusan Drogba meninggalkan Shenhua. Secara resmi, Drogba menyebut daya tarik tampil di Liga Champions jadi alasan utama kepindahannya. Ia mengaku rindu kembali bermain melawan klub-klub terbaik di Eropa. Galatasaray memberinya peluang untuk menghapus kerinduan itu.

Namun, tentu saja, itu bukan satu-satunya alasan dan juga bukan alasan kuat untuk mengesahkan kepergiannya. Tak mungkin rasanya ia pergi begitu saja meninggalkan klub yang menggajinya hampir Rp 3 miliar per minggu. Di Indonesia, dengan gaji sebesar itu, sebuah klub bisa mengontrak dua stiker sekaligus sekelas Bambang Pamungkus untuk semusim penuh.

Kabar yang beredar menyebutkan bahwa Drogba meninggalkan Shenhua karena adanya pelanggaran kontrak. Bukan lantaran Shenhua baru saja dijatuhi denda 160 ribu dolar AS dan terkena sanksi pemotongan enam poin karena terbukti bersalah mengatur skor sebuah pertandingan saat mereka menjuarai Liga Cina musim 2003.

Yang membuat Drogba akhirnya memutus kontrak secara sepihak karena Shenhua ternyata gagal membayar gajinya sesuai kesepakatan. Tak jelas sudah berapa lama Shenhua menunggak gaji striker berumur 34 tahun itu. Yang pasti, konon, sudah lebih dari tiga bulan karena itulah batas minimal yang memungkinkan seorang pemain memutus kontrak secara sepihak.

Inilah yang saya risaukan. Kasus tunggakan gaji Drogba oleh Shenhua -- jika benar-benar terjadi -- terasa sangat mencoreng wajah persepakbolaan Asia. Pasalnya, klub Liga Super Cina ini 75 persen sahamnya dimiliki oleh pengusaha kaya bernama Zhu Jun. Jika klub sekaya Shenhua saja sampai menunggak gaji pemain bintangnya selama berbulan-bulan, bisa dibayangkan buruknya kesehatan finansial klub-klub lain di Asia.

Sejumlah bintang veteran belakangan ini telah mengikuti jalur eksodus besar-besaran ke Asia dan Timur Tengah. Tak hanya Drogba, tapi juga Nicolas Anelka, Seydou Keita, hingga Alessandro Del Piero. Boleh jadi bagi para pemain top itu sekadar cari modal pensiun. Tapi, bagi persepakbolaan Asia, kehadiran mereka sangat banyak maknanya. Tak cuma untuk transfer pengalaman dan kemampuan, tapi juga untuk mengatrol gengsi kompetisi sepak bola di Asia.

Kisruh Drogba di Shenhua jelas membuat semua tujuan mulia itu tak tercapai. Sebaliknya, justru ikut mencederai reputasi klub-klub lain yang selama ini telah mengelola klubnya dengan baik. Setelah ini, mungkin akan semakin sulit mengajak pemain di senja karier semacam Frank Lampard atau Luca Toni mencicipi kompetisi di Asia. Bahkan pemain pensiunan semacam Andriy Shevchenko pun mungkin akan berpikir puluhan kali saat menimbang tawaran bergabung ke Mitra Kukar.

Yang lebih merisaukan lagi jika kita menilik latar belakang Zhu Jun. Pengusaha nyentrik berumur 46 tahun itu selama ini kadung dikenal suka "aneh-aneh". Agustus 2007, ia pernah memaksa pelatih memasukkan namanya dalam susunan pemain Shenhua untuk laga persahabatan lawan Liverpool. Ia juga sering ikut campur urusan teknis dan kerap membeli pemain seenaknya tanpa memikirkan kondisi keuangan klub.

Gawatnya lagi, Zhu Jun adalah pendiri rumah judi online The9 Ltd yang terdaftar di lantai bursa NASDAQ sejak 2004. Setelah kisruh Drogba ini menyeruak, sulit untuk menampik kesan adanya motif tak sedap di balik pembelian Drogba oleh Shenhua.

Kasus Drogba telah menciptakan preseden buruk bagi persepakbolaan Asia. Kini, publik sepakbola dunia dengan mudah akan menganggap klub Asia yang berniat merekrut marquee player sebagai aksi cari perhatian belaka. Padahal, seperti telah dibuktikan dalam kebangkitan sepakbola Jepang, perekrutan marquee player sesungguhnya merupakan upaya terobosan untuk mendongkrak nilai jual kompetisi dan mempercepat proses pematangan bintang-bintang lokal.

Saya khawatir, tekad kita membawa kompetisi sepakbola di Asia untuk "naik kelas" ke kancah persaingan global akan semakin terasa utopis. Alih-alih bisa bersaing dengan Liga Champions Eropa atau Piala Libertadores, kompetisi di Asia bahkan harus membereskan dulu persoalangan yang sangat mendasar, yaitu manajemen dan kesehatan finansial klub-klubnya itu sendiri.


===


* Penulis adalah pemerhati sepakbola.


(a2s/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads