Efek Kejut itu Bermula dari Naples

Efek Kejut itu Bermula dari Naples

- Sepakbola
Minggu, 28 Jul 2013 13:54 WIB
Efek Kejut itu Bermula dari Naples
Getty Images/Mario Carlini
Jakarta - Ketika Edison Cavani memilih untuk meninggalkan kota Naples menuju klub kaya raya Paris Saint-Germain.. ya, itu adalah hal wajar. Tapi ketika Gonzalo Higuain memilih bermain di Seri A bersama Napoli daripada Arsenal, tidak sedikit orang yang terkejut.

Setelah nyaris satu dekade berada di bawah bayang-bayang La Liga dan Premier League, sudah lama rasanya tidak merasakan bursa transfer di Seri A bergairah seperti musim ini. Bahkan hal itu terlihat ketika jendela transfer musim panas belum benar-benar ditutup. Sebut saja Juventus yang berhasil merekrut Carloz Tevez dari Manchester City dan Fernando Llorente dari Athletic Bilbao, lalu Fiorentina dengan Mario Gomez dan Joaquin.

Sinyal kuat bangkitnya era keemasan Seri A muncul dari Naples. Berawal dari pindahnya Walter Mazzarri ke Inter Milan, Napoli kemudian menunjuk Rafael Benitez sebagai pembesut Marek Hamsik cs. Kedatangan Rafa kemudian membuka jalan bagi datangnya pemain-pemain top ke klub Italia Selatan ini. Jose Callejon, Raul Albiol, Higuain, dan belakangan Jose Manuel 'Pepe' Reina dikabarkan bakal menyusul.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Presiden Napoli Aulerio de Laurentiis dikabarkan harus merogoh kocek sebesar 37 juta pounds untuk mendatangkan striker Argentina berusia 26 tahun tersebut. Terakhir kali klub Italia mengeluarkan dana lebih dari 30 juta pounds untuk satu pemain adalah dua belas tahun silam, ketika Lazio merekrut Hernan Crespo dari Parma sebesar 35,5 juta pounds --yang sekaligus memecahkan rekor transfer dunia saat itu.

Sebelumnya, Higuain lebih santer dibeitakan akan merapat ke Arsenal, maka hijrahnya Higuain ke Napoli bisa disebut suatu anomali di dunia sepakbola saat ini. Seorang pemain dari klub besar di La Liga yang diincar klub besar EPL, tapi malah memilih Seri A --yang konon (atau katanya) sudah mulai kehilangan pamornya.

Hal yang sama juga terjadi pada transfer Kevin Strootman. Gelandang muda Belanda yang menonjol di Piala Eropa U-21 ini lebih memilih pindah dari PSV Eindhoven ke AS Roma dibanding Manchester United dan Arsenal yang disebut lebih dulu menunjukkan ketertarikan.

Geliat Napoli pada musim ini membuat saya teringat akan Lazio di akhir 90-an dan awal 2000-an yang berhasil meraih gelar Scudetto tahun 2000, Copa Italia (1997/98 dan 1999/2000), Piala Super Italia (1998 dan 2000), Piala Winners (1998/99), dan Piala Super Eropa (1999).

Pada saat itu, Lazio yang dipimpin oleh Sergio Cragnotti menjadi salah satu kiblat pemain kelas dunia dengan datangnya pemain mahal macam Juan Sebastian Veron (18 juta Pounds, 1999), Christian Vieri (19 juta Pounds, 1998) lalu kemudian transfer Crespo yang sudah disebutkan di atas.

Transfer Crespo ketika itu memecahkan rekor transfer dunia tahun sebelumnya saat Inter Milan mengeluarkan 32 juta Pounds untuk Vieri dari Lazio.

Pada masa itu, Seri A jelas masih lebih mentereng (dan glamor) dibandingkan liga-liga lainnya. Bandingkan dengan Liga Inggris yang sampai dengan musim 2000/01, transfer terbesar yang dikeluarkan sebuah klub Inggris adalah 15 juta Pounds saat Newcastle United merekrut Alan Shearer dari Blackburn Rovers pada tahun 1996. Sementara di La Liga, rekor transfer terakhir sebelumnya hanya sebesar 21,5 juta pound kala Real Betis berhasil meminang Denilson dari Sao Paulo usai Piala Dunia 1998.

Romantisme, keglamoran, dan kejayaan Seri A memang begitu kental pada era 90-an. Siapa pemain terbaik dunia yang tidak ingin bermain di Milan dan Turin?

Magnet Liga Italia untuk menarik dan melahirkan pemain terbaik dunia setidaknya terlihat dari daftar FIFA World Best Player of the Year kurun 1991-2000. Tujuh penghargaan akbar untuk individu Sepak Bola pada masa itu direbut oleh pemain kota Milan dan Turin. Sebut saja Lothar Matthaus (1991, Inter Milan), Marco Van Basten (1992, AC Milan), Robeto Baggio (1993, Juventus), George Weah (1995, AC Milan), Ronaldo (1997, Inter Milan), Zinedine Zidane (1998 dan 2000, Juventus).

Daftar tersebut Hanya diselingi oleh Romario (1994, Barcelona), Ronaldo (1996, Barcelona dan PSV Eindhoven) dan Rivaldo (1999, Barcelona) yang kemudian memilih bergabung untuk AC Milan.

Higuain, Tevez, dan Strootman memang saat ini tidak menyandang gelar pemain terbaik dunia versi FIFA. Namun, tren pemain-pemain top dunia yang memilih merumput di Italia daripada Premier League, dan geliat transfer yang tengah melanda klub-klub Italia di musim ini seolah menjadi sebuah efek kejut dan sinyal kebangkitan Seri A di masa yang akan datang.

Efek kejut itu dimulai dari Naples.

=====

*penulis adalah penikmat dan pencinta sepakbola, tinggal di Gorontalo.


(roz/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads