Juventus kembali merajai Serie A setelah untuk ketiga kalinya berturut-turut keluar sebagai juara. Scudetto musim ini "disematkan" oleh Catania yang mengalahkan AS Roma 4-1, sehingga secara matematis Roma tak mungkin mengejar perolehan angka "Si Nyonya Tua".
Ini scudetto ketiga Juventus sejak kasus Calciopoli 2006, sekaligus gelar keempat bagi Antonio Conte sebagai pelatih -- setelah memenangi titel Serie B musim 2008/2009 bersama Bari. Sang arsitek pernah berjanji akan mengembalikan kejayaan Juventus yang tenggelam dalam bayang-bayang Inter Milan selama 5 musim berturut-turut sejak 2006 (termasuk scudetto "operan" Juve di musim 2005/2006).
"Antonio Conte membawa kembali mental juara yang hilang selama beberapa musim sebelumnya," ujar gelandang Claudio Marchisio.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sang Juara yang kehilangan makna
"Ini kemenangan yang aneh. Saya tidak pernah merasakan situasi seperti ini: meraih (juara) dari luar lapangan," ujar Giorgio Chiellini, setelah Catania mengalahkan Roma, sehari sebelum Juve turun ke lapangan dan menundukkan Atalanta 1-0.
Gelar scudetto yang didapatkan Juventus terasa "hambar". Hal yang terjadi karena dua sebab.
Pertama, gelar ini didapatkan tanpa mereka berada di lapangan. Seperti sebuah tim yang tidak datang ke pertandingan final, sehingga tim lain dinyatakan menang WO. Perayaan tetap dilakukan, tapi rasanya tentu berbeda jika pertandingan jadi. Tentu saja ini bukan berarti sang pemenang tidaklah pantas juara. Perjuangan mereka sampai ke babak final tetap sebuah bukti kehebatan.
Kedua, gelar yang didapat Juventus diraih tanpa lawan yang seimbang selama satu musim kompetisi. AC Milan dan Inter yang merupakan kekuatan klasik untuk mengganggu Juve, malah jatuh terperosok ke papan tengah. Jangankan untuk ikut bersaing merebutkan titel, berjuang untuk masuk Liga Europa saja mereka sudah kepayahan setengah mati.
Apa yang dirasakan Juventus ini pernah dialami juga oleh legenda Formula 1, Andres Nikolaus "Niki" Lauda ketika harus kehilangan rival sejatinya; James Hunt, karena serangan jantung pada 1993. Kalau Anda menonton film Rush (2013) karya Ron Howard, Anda pasti mengerti betapa hampanya seorang juara tanpa pesaing yang sepadan.
Keduanya merupakan pebalap dengan karakter yang bertolak belakang; Hunt yang akrab dengan alkohol, rokok, dan temperamen yang tinggi harus bersaing dengan Lauda yang merupakan tipe pebalap "anak baik-baik"; kehidupan pribadi yang jauh dari hingar-bingar keglamoran F1. Persaingan mereka oleh media massa sering dilebih-lebihkan, seolah keduanya benar-benar berseteru baik di atas sirkuit maupun di luar sirkuit.
Meskipun bersaing hebat selama sembilan musim kompetisi sejak mereka bertemu di Formula 3, Lauda justru orang yang paling kehilangan ketika mendengar kabar seteru abadinya itu meninggal. Menurut Lauda, hanya Hunt pebalap yang bisa membuatnya merasa begitu iri, meskipun untuk urusan gelar juara, Lauda jauh mengungguli rivalnya itu.
Kehampaan ini sejalan dengan ide Ferdinand de Saussure, bapak Linguistik dunia, mengenai konsep oposisi biner yang membagi struktur-struktur kesadaran. Secara sederhana, ide ini adalah soal bagaimana melihat segala hal menggunakan dua kategori yang bertentangan. Ambil contoh dengan parameter baik atau buruk, benar atau salah, maupun menang atau kalah.
Dikotomi ini merupakan salah satu kunci lahirnya pemikiran paham strukturalisme di Eropa. Hal ini kemudian membuat segala hal harus bisa dipisahkan dalam dua kategori. Pertanyaannya kemudian, mengapa harus dibagi menjadi dua kategori? Jawabannya tentu untuk memberikan makna kepada objek yang yang sedang dipertentangkan.
Bagi Saussure, sebuah "tanda" atau "kata", baru memiliki makna ketika ia dibenturkan dengan "tanda" lain. Pertentangan ini merupakan kontra silogisme; bahwa kesimpulan lahir karena adanya dua hal yang bertentangan. Artinya, justru bukannya semakin tenggelam, dua kata ini malah semakin memiliki makna satu sama lain. Dengan adanya hitam, maka putih akan memiliki makna. Dengan adanya Barat, maka Timur akan memiliki makna. Dan dengan adanya pesaing yang sepadan, maka sang juara akan punya makna yang sepadan.
Selain Juventus, "korban" yang merasa kehilangan makna juara adalah Bundesliga dengan aktor utamanya, Bayern Munich. Meneruskan tongkat estafet dari Jupp Heynckess, Josep Guardiola berhasil membawa Bayern juara dengan masih menyisakan 7 laga. Ini jelas sebuah rekor tersendiri.
Akhir Maret, ketika seluruh liga top Eropa masih menyisakan 7 sampai 9 pekan dalam perburuan gelar liga, Bayern sudah ongkang-ongkang kaki ketika mengalahkan Hertha Berlin, 3-1, dan menambahkan titel Bundesliga-nya menjadi 27.
Borussia Dortmund yang sempat menganggu dominasi Bayern dalam beberapa musim terakhir, harus gigit jari karena tak mampu bahkan untuk sekadar membuat Bayern harus melihat papan klasemen. Mario Goetze dibajak dengan iming-iming 37 juta euro di awal musim, dan musim depan rencana Robert Lewandowski akan menyusul, sesungguhnya membuat Bayern kehilangan makna menjadi juara.

Bayern sah-sah saja mendominasi. Namun, "dosa" ini membuat Budesliga tidaklah menarik lagi untuk diikuti. Sebagai juara di dalam tempurung, Bayern menghancurkan oposisi biner mereka. Mencoret makna antonim dalam kata "juara" yang mereka raih.
Juventus dan AC Milan adalah klub yang pernah memahami betul makna menjadi juara dengan memberikan "makna" untuk rival mereka. Filippo Inzaghi, yang "diserahkan" Juve untuk Milan, justru berhasil memberikan gelar Serie dan Eropa untuk Rossoneri. Bahkan, di final Liga Champions 2003, Inzaghi turut mengalahkan Juventus.
Andrea Pirlo pernah merumput untuk Inter, kemudian diboyong ke Milan dan sukses menjadi role model pemain masa depan. Sang "deep playmaker" juga merengkuh rentetan gelar seperti halnya Inzaghi. Di Juventus, pemain "pemberian" Milan ini semakin melambung dengan membawa Juventus kembali mendominasi Serie A. Setelah tenggelam lama gara-gara hukuman Calciopoli, Bianconeri kembali juara setelah sukses mengolaborasikan Conte dan Pirlo.
Hormat Jadi Rasa Benci
Menjadi dominan memang merupakan sebuah tujuan setiap tim. Tapi jika dominasi berlangsung terlalu lama hingga pesaing tak lagi memiliki kekuatan untuk menyerang balik, maka rasa hormat bisa beralih (dari sekada) rasa iri menjadi rasa benci. Anda pasti ingat bagaimana Barcelona pernah melakukan hal serupa sejak ditangani Pep Guardiola di musim 2008/2009.
"Dulu saya begitu senang melihat cara bermain Barcelona tiap akhir pekan. Tetapi sekarang hal yang sama terjadi tiap pekan, mereka menggilas semuanya, enam atau tujuh gol, Lionel Messi hat-trick. Saya bosan. Mereka terlalu bagus, saya bosan," ujar mantan bintang Manchester United, Paul Scholes.
Kemunculan Barcelona era Pep memang mengundang decak kagum. Semua menaruh hormat dan kekaguman. Namun, ketika dari musim 2008 hingga musim 2013 mereka mengobrak-abrik La Liga Spanyol dan Eropa, cerita tentang mereka mulai berbeda. Soal pemain-pemain yang gemar diving sampai diledek sebagai aktor yang menawan adalah contoh celotehan iri yang sudah beralih menjadi rasa benci.

Klimaksnya adalah Bayern Munich asuhan Jupp Heynckess melindas Barcelona dengan skor agregat 7-0 di semifinal Liga Champions musim lalu. Kemenangan ini menciptakan sebuah konklusi baru, bagaimana Bayern mendapatkan "makna" juara yang begitu kuat karena mereka mengalahkan tim dominan selama bertahun-tahun. Ya, Bayern berhasil menciptakan dan mengalahkan "oposisi biner" yang membuat gelar Champions musim tersebut begitu bermakna bagi mereka. Kemenangan yang diam-diam juga dirayakan oleh tim-tim Eropa lainnya.
Euforia kelahiran "rezim" baru memang selalu dirayakan, apalagi jika kemudian rezim baru itu kembali dikalahkan. Meskipun resistensi yang membalikkan dominasi ini disadari juga berpotensi menjadi dominasi berikutnya. Paling tidak, kita tidak melihat lahirnya rezim tunggal (Bayern) menguasai kompetisi Eropa musim ini, seperti berpengalamannya mereka menduduki Bundesliga.
Real Madrid-nya Carlo Ancelotti, yang beberapa pekan lalu berhasil "menggugurkan embrio dominasi" Bayern di semifinal Liga Champions, sejatinya juga patut dirayakan. Karena semua kompetitor paham, menjadi juara tidaklah sekadar memenangkan kompetisi. Tapi juga ada aspek lain; siapa yang mereka kalahkan untuk menjadi juara?
Itulah mengapa Liverpool dan Atletico Madrid begitu mendapatkan sorotan. Dua kekuatan "baru" di Premier League dan La Liga ini menyedot fokus kita terhadap liga-liga top Eropa. Mereka tidak sekadar sedang berjuang memenangkan kompetisi. Mereka juga sedang resisten di tengah arus dominasi; Liverpool dari kejaran dua klub kaya Chelsea dan Manchester City, dan Atletico dari Real Madrid dan Barcelona.

Jika keduanya juara di akhir musim nanti, maka jelas gelar yang mereka raih jauh lebih memiliki makna dari apa yang didapat Juventus dan Bayern musim ini. Karena "tanda" atau "kata" apapun yang berdiri sendiri dan dominan tanpa memiliki "kata antonim", selalu terasa menyebalkan.
====

* Penulis adalah mahasiswa Program Studi Media and Cultural Studies Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), editor di Penerbitan Indie Book Corner (IBC), Yogyakarta, dan seorang Milanisti. Akun twitter: @khadafi_14
(a2s/din)











































