sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Selasa, 24 Jun 2014 14:12 WIB

Borges, Duplikasi, dan Messidona

- detikSport
Ilustrasi: REUTERS Ilustrasi: REUTERS
Jakarta -

ALKISAH suatu pagi pada bulan Februari 1969, di sebuah bangku taman di tepi Sungai Charles, Cambridge, sastrawan besar Argentina Jorge Luis Borges jatuh tertidur karena kepenatan. Namun tiba-tiba ia merasa seseorang duduk di ujung bangku dan menyiulkan lagu populer Argentina, La tapera Elias Regules. Setelah bercakap-cakap sebentar dan orang yang bersiul itu mengaku tinggal di Jenewa sejak 1941, Borges pun segera tahu bahwa orang tersebut tinggal di Malagnou 17 dan juga bernama Jorge Luis Borges.

Kedua Borges itu—yang tua dan yang muda—akhirnya terlibat dalam pembincangan, dan bertanya-tanya apakah mereka sedang bermimpi dan ini merupakan semacam mimpi paralel? Borges Tua menceritakan apa yang terjadi atas dirinya, yang tak lain adalah ramalan tepat yang bakal dialami Borges Muda: bahwa ibu mereka baik-baik saja di Buenos Aires dan ayah mereka telah meninggal 30 tahun silam. Ia juga meyakinkan bahwa Borges Muda akan menulis banyak buku dan menjadi seorang dosen, dan kehilangan penglihatan di usia tua.

Duplikasi atau penggandaan (the double) dalam cerpen "The Other" di atas boleh dibilang salah satu tema yang cukup kerap digarap oleh Borges dalam prosa-prosanya. Keberlimpahan tema ini—dalam beragam varibelnya: replikasi, cermin, mimpi, identitas yang terbelah, dan keniscayaan—di antaranya juga kita temukan dalam cerpen-cerpennya yang lain seperti "Borges and I", "The Shape of the Sword", "Three Version of Judas", "Ibn Hakkan al-Bokhari, Dead his Labyrinth", "The Waiting", "Theme of the Traitor and the Hero", dan "Story of the Warrior and the Captive".

Lihat saja sebagai contoh, bagaimana dalam cerpen "The Waiting", ia menceritakan tentang seorang pembunuh dan korbannya yang ujung-ujungnya merupakan orang yang sama, bahkan bernama sama. Atau yang lebih gamblang lagi, dalam ending cerpennya "The Theologians", sang sarjana yang dicaci-maki dan musuh yang mencacinya ternyata tak lain adalah dirinya sendiri.

Diilhami novel klasik Robert Louis Stevenson, The Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde yang menggelontorkan kerumitan kepribadian ganda manusia lewat horor-science fiction, tema duplikasi Borges ini selanjutnya mempengaruhi karya banyak sastrawan lain, mulai dari Gabriel Garcia Marquez, Maxine Hong Kingston hingga Orhan Pamuk dan Salman Rushdie.

Sebagaimana perjuangan seorang Dr. Jekyll melawan bayang-bayang dirinya yang lain dan jahat dalam prosa Stevenson; pada cerita-cerita Borges, kita pun menemukan bahwa duplikasi sebetulnya tak selalu berarti pertentangan. Sebaliknya ia bisa menjadi bayangan yang saling merasuki. Sehingga hal ini memungkinkan seorang Borges menyempal dalam Borges yang lain, menyempal lagi dan seterusnya sehingga duplikasi itu menciptakan ketakterhinggaan—suatu pembelahan yang tak berujung seperti parabel cermin. Di mana pada setiap Borges, tersirat sebuah kesamaan yang tak serupa lagi.

**

BORGES barangkali sebuah pengecualian dalam masyarakat Argentina yang tergila-gila pada sepakbola. Seperti yang dikatakan Jason Wilson dalam bukunya Jorge Luis Borges: Critical Lives, sebagai kutu buku sejati Borges seolah hidup di luar dunia ini: ia menolak surat kabar dan radio, serta tak punya gambaran apapun tentang para pesepakbola yang menjadi kegairahan orang Argentina dan tak pernah berbual. "He hated his colleagues, who chatted about football and sex,” tulis Wilson.

Namun begitu, toh dalam sepakbola Argentina, kita seakan-akan menjumpai motif penggandaan yang menjadi tema kegemaran Borges ini dalam sosok seorang Lionel Messi.

Messi adalah titisan atau duplikat dari Diego Maradona. Paling tidak demikianlah "harapan" yang kerap dilontarkan oleh warga Argentina. Messidona, begitu mereka menjulukinya dengan menggabungkan namanya dan nama Maradona. Keduanya bukan saja sama-sama bertubuh cebol dan bernomor punggung 10, tetapi aksi Messi yang meliuk-liuk saat menggiring bola juga mengingatkan banyak orang pada kocekan El Diego di masa jayanya.

Namun masalahnya, kendati telah mencetak dua gol penentu kemenangan untuk tim Tango di Piala Dunia 2014 ini, Messi belumlah menjadi seorang santo seperti halnya Maradona.

Memang bagi warga Catalan dan para Barcelonistas di seluruh penjuru dunia, ia sudah seperti "separuh wali". Empat kali pula ia dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia versi Ballon d'Or. Tetapi ia belum memiliki trofi Piala Dunia.

"Untuk membuat perbedaan, seorang pemain haruslah menjuarai Piala Dunia," ujar Romario Faria, legenda Brasil yang membawa Seleccao meraih Piala Dunia 1994 untuk keempat kalinya di Amerika Serikat.

Sementara bagi rakyat Argentina, Maradona sudah selayaknya "manusia setengah dewa". Sulit membayangkan sejarah Argentina tanpa keberadaan seorang Diego Maradona. Bahkan lebih jauh lagi, ia telah menjelma jadi semacam epik perlawanan masyarakat Amerika Latin terhadap imperialisme Amerika Serikat dengan sekutu Eropanya. Terutama lewat "Gol Tangan Tuhan".

Ya, tentu saja Piala Dunia 1986 merupakan salah satu momentum paling berharga dalam sejarah negeri Evita Peron ini. Di mana sang "D10S" bukan saja membasuh luka rakyat Argentina, tetapi juga membalaskan sakit hati dan kemarahan mereka pada Inggris yang mencaplok Kepulauan Malvinas. Dengan demikian, di luar gelar juara dunia untuk kedua kalinya, kemenangan itu pun memiliki arti lebih mendalam bagi rakyat Argentina. Seperti yang dikatakan pengamat sosial Pablo Alabarces: "Dalam konteks ini, Maradona adalah pahlawan yang sempurna."




Itulah sebabnya, di luar kenyataan buah kenakalan Maradona menodai sportivitas sepakbola, orang Argentina tetap menganggap gol itu berkah Tuhan dan mengkultuskannya. Tuhan telah meminjamkan tangan-Nya kepada Diego, kilah mereka.

Leo—sapaan akrab Messi—karenanya pula tak se-surealis Maradona. Hanya Maradona-lah satu-satunya pesepakbola di dunia ini yang dibuatkan sebuah gereja khusus oleh para pemujanya. Gereja kecil itu, "Iglesias Maradoniana" (Gereja Maradona) didirikan di Rosaria, kota pelabuhan di utara Buenos Aires. Alkitab mereka adalah buku biografi Maradona, dan mereka punya '10 Perintah Tuhan' sendiri—di mana salah satu perintahnya adalah keharusan memberikan nama Diego kepada anak-anak mereka.

Bahkan dibandingkan Maradona yang suka berulah baik di luar maupun di dalam lapangan, Messi tampaknya cuma seorang pemuda pemalu.

Tapi apa mau dikata, era keemasan si boncel jenius itu harus berakhir di Piala Dunia 1994 Amerika Serikat. Ketahuan mengkonsumsi obat terlarang, superstar itu pun dideportasi. Dan sejak itu Argentina selalu merindukan Maradona.

"Kita punya banyak pemain potensial, tapi saya tak tahu apakah salah seorang dari mereka dapat mengambil peran seperti Maradona, si musikus yang dapat menggesek biola pertama kalinya, sehingga dengan enak pemain lain mengikutinya," tukas pelatih legendaris Argentina, Cesar Luis Mennoti saat Piala Dunia 1998 di Prancis.

Karena itu, jika dalam prosa-prosanya Jorge Luis Borges meradikalkan gagasan duplikat atau penggandaan dari novel horor-science fiction Stevenson; dalam kasus Messidona, rakyat Argentina seyogianya telah meradikalkan pengharapan dan kerinduan mereka akan gelar Piala Dunia. Dengan begitu, Messidona adalah semacam fusion kedua pahlawan bangsa: "yang tua-yang legendaris" dan "yang belia-yang tengah bersinar".

***

LANTAS, sejauh manakah seorang Maradona merasuki diri Messi? Akankah Messi dapat memenuhi ekspetasi rakyat Argentina yang begitu besar tersebut? Sesuatu yang tak pernah bisa dipenuhi oleh pemain-pemain Argentina bertalenta tinggi lainnya seperti Caniggia, Batistuta, atau Ortega.

"Saya tahu dia bisa melakukannya. Dia pasti bisa melakukannya," demikian tulis Maradona dalam sebuah kolom di harian Times of India.

Ya, tak ada orang yang lebih berharap dan meyakini Messi bakal menjadi penerusnya selain Maradona. Karenanya tak heran jika di Afrika Selatan empat tahun silam ketika menjadi pelatih timnas Tango, Maradona memperlakukannya bak cabala (jimat) sakti, disertai peluk-cium saat keluar-masuk lapangan. Dan apa tanggapan Messi?

"Tatkala ia memenanginya (Piala Dunia), aku belum lahir sehingga akan menjadi sangat spesial jika bisa mengulang kegemilangan itu dan ia menyaksikannya."

Sayang, penampilan Messi kala itu justru jauh dari harapan banyak orang. Datang ke Afrika Selatan dengan berbekal gelar pemain terbaik dunia, jangankan meraih top skorer seperti yang diprediksi, di bawah kepelatihan Maradona ia malah tak mencetak satu gol pun. Dan ujung-ujungnya Argentina disingkirkan secara memalukan dengan skor 0-4 oleh Jerman dalam partai perempat final di Stadion Cape Town. Alhasil, perpaduan kedua boncel ajaib yang seharusnya sempurna itu pun tinggal impian. Meski Maradona tetap saja surealis!

Buktinya selepas kegagalan itu, si kate dan tim asuhannya justru mendapat undangan jamuan makan di Pink House (Istana Presiden) dari Presiden Cristina Fernandez. Bahkan seorang legislator Argentina, Juan Cabandie menyatakan perlunya negara mendirikan patung untuk menghormati Maradona. Kepada Associated Press kala itu, Cabandie mengatakan bahwa warga Argentina telah menunjukkan gejala Maradona merupakan ikon budaya Argentina.

Cabandie mungkin tak berlebihan soal ini. Contohnya, di Argentina—apalagi Buenos Aires—jamak berlaku idiom "saya mau ke Diego". Yang mana "ke Diego" di sini bukanlah berarti orang yang menyatakannya bermaksud mengunjungi temannya yang bernama Diego. Tapi itu sebenarnya adalah alamat rumah nomor 10, blok 10 atau lantai 10 sebuah gedung. Ya Maradona telah membuat nomor 10 mencapai puncak magisnya.

Lantaran itu, mengenakan nomor keramat yang pernah diusulkan Assosiasi Sepakbola Argentina kepada FIFA agar dipensiunkan dari tim Tango, Messi tentu sadar betul kalau dirinya memang sulit lepas dari bayang-bayang kebesaran Maradona. Dengan tinggi badan hanya 169 cm, ia juga seolah ditakdirkan menjadi si boncel ajaib kedua yang dimiliki Albiceleste. "Si kutu" demikian Rodrigo, kakaknya menyebut Messi.

Ketika berumur 11 tahun, dengan tinggi cuma 132 cm saat itu, Messi mampu mempermainkan kawan-kawan satu timnya di Newell's Old Boys Jr yang jauh lebih jangkung. Namun kekaguman Rodrigo itu kemudian berubah menjadi kekuatiran setelah River Plate, klub Argentina yang lebih besar menolak merekrut sang adik.

"Anak Anda memiliki skill luar biasa, tapi juga sebuah masalah. Dia kekurangan hormon pertumbuhan. Tingginya nanti tak akan lebih dari 140 cm," ujar pemandu bakat River Plave kepada ayah Messi, Jorge.

Ya, sebesar apapun bakat seorang pemain, tinggi 140 cm jelaslah masalah. Ia akan sulit bermain di klub-klub besar yang punya standar fisik ketat dalam perekrutan. Jorge pun frustrasi. Karena hormon untuk Messi membutuhkan setidaknya US$ 900 setiap bulan. Bagi Jorge yang hanya seorang pegawai pabrik dan istrinya Celia yang bekerja sebagai tukang cuci, biaya itu tentu saja tak terjangkau. Sementara klub-klub Argentina juga tak kuat menanggungnya lantaran hampir semua klub tengah mengalami krisis keuangan. Maka satu-satunya jalan haruslah ke klub Eropa.

"Dalam dua menit, saya sudah melihat kecepatan yang ia miliki, juga kemampuannya, kami langsung mengontraknya," tukas Carles Rexach, direktur teknik Barcelona kala itu. Maka seorang bintang baru Albiceleste pembawa harapan yang terang-benderang pun lahir.

***




BEBAN tanggungjawab begitu besar di pundaknya inilah yang dikuatirkan oleh banyak pengamat bola bakal mempengaruhi performa Messi. Apalagi mengingat ia sudah mengoleksi 350 gol di Barca dan meraih sederet piala bersama tim Catalan tersebut.

Akibatnya—sebagaimana yang diberitakan sejumlah media—saat menjalani sesi latihan bersama timnya sebelum turun laga menghadapi Bosnia-Herzegovina di stadion Maracana, Rio de Janeiro, Senin (16/6) pagi WIB lalu lalu, ia muntah-muntah. Konon itu merupakan kejadian yang kesekian kalinya musim ini. Maret lalu ketika menghadapi Rumania dalam uji coba, Leo juga dilaporkan muntah. Demikian juga saat melakoni uji coba dengan Slovenia, 7 juni silam, ia mengaku mual.

"Tidak ada misi paling sulit di kolong langit ini selain meraih trofi Piala Dunia," akunya kepada pers. Dan tim medis Argentina yang memeriksa kesehatan fisiknya pun menyimpulkan bahwa muntah-muntahnya La Pulga memang dikarenakan faktor psikologis yang sering dialami seseorang yang mendapatkan tekanan berat.

"Aku ingin melepaskan semua energi dari waktu lain ketika hal-hal tak berjalan dengan baik (dengan timnas). Selalu menyenangkan mencetak gol dengan tim nasional," begitulah ujar Messi selepas mencetak gol penentu kemenangan Argentina atas Bosnia, yang notabene adalah gol keduanya selama dua kali mengikuti turnamen World Cup.

Menjadi "si suci" dalam sepakbola mungkin tak selama waktu yang diperlukan untuk menjadi santo dalam Gereja Katolik Roma. Untuk dinobatkan sebagai seorang santo di lapangan rumput seringkali cukup lewat sebuah kemenangan dramatis dan gol gemilang. Tapi ya itu tadi, untuk menepis keraguan seperti yang pernah dilontarkan Mennoti, Messi haruslah mampu mengantar tim Tango menjuarai Piala Dunia.

Bila tidak, julukan "Messidona" hanya akan tinggal harapan dan impian belaka dari rakyat Argentina yang begitu haus trofi. Sehingga nukilan cerpen "Borges and I" ini pun bakal cocok dipetik buat dirinya: "Bertahun lampau aku mencoba membebaskan diri darinya, serta berpindah dari kisah-kisah pinggiran kota yang kumuh ke permainan waktu dan ketakterhinggaan, namun kini permainan itu milik Borges, dan aku mesti memikirkan hal lain lagi. Begitulah hidupku memang suatu diri dan bayangan, sejenis fuga, serta sesuatu yang tertinggalkan—dan segalanya berakhir lenyap dariku, dan segalanya jadi terlupakan, atau hengkang ke genggaman si orang lain. Aku tak tahu siapa di antara kami tengah menulis halaman ini."

Ya, kita tak tahu—belum tahu, bisakah Messi menyamai sang legenda. Kita hanya bisa menunggu. Atau paling tidak, bermain-main dengan (barangkali) semacam prediksi.



===

*) Sunlie Thomas Alexander, perenung sepakbola tinggal di Yogyakarta. Facebook: Sunlie Thomas Alexander/ Twitter: @SunlieThomas77.

(a2s/roz)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com