Guru Terbaik Evan Dimas dan Timnas Indonesia

Guru Terbaik Evan Dimas dan Timnas Indonesia

- Sepakbola
Sabtu, 21 Feb 2015 13:52 WIB
Guru Terbaik Evan Dimas dan Timnas Indonesia
ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo
Jakarta -

Pengalaman adalah guru terbaik, apalagi pengalaman pahit. Seorang remaja bernama Evan Dimas Darmono, ingat betul itu.

Memikul beban berat agar tampil menawan untuk memenuhi target semifinal Piala Asia U-19 di Myanmar, Evan gagal. Begitu kalah 0-1 oleh Australia di pertandingan kedua babak grup, langkah Indonesia dipastikan kandas.

Tidak peduli lagi bahwa dirinya kapten tim, bintang tim, pemain asal Surabaya ini tak kuasa membendung air mata. Beban itu, tanggung jawab itu, terasa menyakitkan di dada setiap penggawa timnas U-19, tak terkecuali bagi Evan Dimas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak adil memang. Usianya belum juga genap 20 tahun, tapi kepercayaan pecinta sepakbola di tanah air yang rata-rata usianya lebih tua darinya—seperti kita—terlalu besar untuk dipikul Evan. Ibarat kita menyerahkan tanggung jawab seorang kakak yang selalu gagal, namun kemudian memaksakan sang adik untuk berhasil.

Kita yang tidak pernah mampu memberi contoh yang baik melalui kompetisi dalam negeri maupun prestasi tim nasional senior, kita yang hanya tahunya mengritik ini-itu-ini-itu, dan kini kita hendak menumpahkan kegagalan kita sendiri di atas pundaknya kemudian mengatakan bahwa ini semua adalah kegagalannya. Maka pertanyaannya; pantaskah kita.

Untungnya, beberapa bulan kemudian, “sang kakak” memanggil “sang adik” untuk bermain bersama. Pelatih tim nasional senior, Alfred Riedl memastikan Evan termasuk pemain yang diboyong timnas di Piala AFF 2014 . Sebuah anugerah bagi remaja kelahiran 13 Maret 1995 ini. Bermain bersama idola-idolanya di masa kecil, Evan menyadari sesuatu, kegagalannya di timnas U-19 bukanlah beban, namun merupakan sebuah pelajaran berharga yang bakal—semakin—mendewasakan dirinya.

Kedewasaaan yang lebih daripada rekan-rekan seusianya sudah ia buktikan dalam dua hal. Pertama, Evan jadi satu-satunya alumni pemain timnas U-19 yang dipercaya memperkuat tim senior—ini menunjukkan mentalitasnya sebagai seorang pemain profesional sudah teruji, paling tidak di mata Riedl.

Kedua, ketenangannya dalam mengorvesi peluang menjadi gol ketika debutnya bersama timnas senior melawan Timor Leste beberapa pekan lalu menunjukkan bahwa ia juga merupakan pemain yang komplet. Tidak hanya memiliki visi bermain, ia juga tajam dalam urusan mencetak gol.

Kehadiran Evan mengingatkan kita pada sosok Boaz Salossa di Piala AFF 2004 (saat itu masih bernama Piala Tiger). Baru berusia 18 tahun saat itu—setahun lebih muda daripada Evan Dimas—namun, kontribusi Boaz begitu menawan. Terutama kala membalikkan keadaan dari kekalahan di Jakarta 1-2, menjadi menang 4-1 melawan Malaysia di Kuala Lumpur pada babak semifinal.

Oke, terlalu buru-buru memang mengatakan langkah pemanggilan Evan sebagai titik keberhasilan—seperti halnya suksesnya keputusan Peter Withe memanggil Boaz pada Piala Tiger 2004. Pemain ini belum memberikan apa-apa untuk tim nasional senior. Namun di sisi lain kita juga harus sadari, bahwa dipercayanya seorang pemain berusia tak lebih dari 20 tahun untuk memperkuat tim senior jelas bisa dianggap sebagai perubahan paradigma baru. Paradigma yang lebih baik tentu saja.

Naturalisasi pemain asing memang bukan langkah yang haram. Akan tetapi proggress pemain seperti Evan harusnya menyadarkan petinggi PSSI bahwa bibit-bibit unggul masih banyak yang tersebar seantero negeri. Tinggal bagaimana mereka mau menanam, menyemai, merawat, dan menjaganya.

Ini semacam kegagalan bangsa mengelola sumber daya alam yang kaya di negeri ini. Indonesia dibilang sangat kaya akan bahan mentah, tapi buruk dalam pengolahannya. Jangan sampai kemudian kegagalan kita di pengelolaan sumber daya alam juga merambat ke pengelolaan sumber daya manusia, terutama sumber daya pemain sepakbola—seperti yang terjadi selama ini.

PSSI harus benar-benar mulai menggalakkan kompetisi yang ketat di usia dini dalam berbagai jenjang serta diiringi dengan keseriusan menangani tim nasional junior—seperti keseriusan yang ditunjukkan Indra Sjafri, mantan pelatih timnas U-19, dengan konsep blusukan-nya yang dipuji banyak kalangan.

Secara prestasi, Indra memang tidak cukup sukses—meskipun sebenarnya jelas lebih sukses daripada pelatih-pelatih timnas senior yang sekali saja tak pernah memenangi Piala AFF sepanjang sejarah. Kegagalannya di pentas Piala Asia U-19 seharusnya bukan ukuran kegagalan seorang pelatih tim junior.

Target yang diusung memang lolos Piala Dunia U-20, namun ternyata untuk sekadar bermain imbang di babak grup saja kita tidak mampu. Nah, di sinilah kemudian prestasi tim tidak jadi patokan utama, tapi bagaimana perkembangan pemain muda terhadap keberlanjutan timnas senior yang mumpuni harus lebih diprioritaskan.

Bukankah keberadaan timnas junior adalah sebuah “sekolah” untuk melahirkan bibit-bibit pemain baru yang lebih berprestasi bagi tim nasional senior di masa depan? Jad,i tak mengapa tim nasional junior gagal asal selalu sukses menyuntikkan pemain baru yang lebih bermutu daripada pemain seniornya. Meskipun—tentu saja—jika bisa berprestasi akan jauh lebih bagus lagi, tapi—sekali lagi—prestasi bukanlah tujuan utama.

Kita bisa belajar dari fakta timnas Myanmar U-19 yang luar biasa di Piala Asia U-19 kemarin. Anak-anak muda Myanmar itu begitu luar biasa, mereka mencatatkan diri sebagai satu-satunya wakil Asia Tenggara di Piala Dunia U-20 Selandia Baru. Sejarah juga mencatat, timnas muda Myanmar adalah pengoleksi gelar terbanyak Piala Asia U-19 kedua setelah Korea Selatan dengan 7 gelar. Jauh mengungguli koleganya di Asia Tenggara seperti Thailand yang baru dua kali dan Indonesia yang hanya sekali (1961).

Sayangnya, prestasi mereka hanya ada di tingkat junior. Begitu pemain-pemain ini memperkuat tim senior prestasi mereka malah melempem. Paling tidak, Myanmar tak pernah tercatat sekalipun lolos sampai final sepanjang penyelenggaran Piala AFF.

Kalau boleh memilih, saya akan lebih memilih Evan Dimas gagal di Piala AFC U-19 tapi berprestasi di tingkat senior daripada sebaliknya. Dan dalam waktu dekat ini potensi itu ada di Piala AFF 2014—dengan harapan jadi juara tentu saja, atau minimal menembus final dulu.

Keberadaan Evan di timnas U-19 lalu tak lebih merupakan pertapaan di “Kawah Candradimuka” dan kegagalan yang menyakitkan di Piala AFC U-19 adalah vaksin yang menguatkan sistem imunitas mentalnya sebagai seorang manusia sekaligus sebagai pemain sepak bola.

Pengalaman Buruk yang Menguatkan

Dalam esainya yang berjudul, Melawan Rasialisme dengan Mimikri, Editor Pandit Indonesia, Zen RS mengutip salah satu pernyataan Frederich Nietzsche yang fenomenal; “Apa yang tak bisa membunuhmu, akan memembuatmu jadi lebih kuat.” Dan dalam ilmu medis, hal itu memang lantas berlaku. Malah ada tambahannya; “Jika tidak pernah ada yang mencoba membunuhmu, maka itu justru melemahkanmu.”

Tambahan ini berangkat dari laporan National Geographic yang ditulis Judith Newman pada Mei 2006. Laporan ini diberi judul (dalam bahasa Indonesia) Sengsara Tiada Akhir: Epidemi Modern Bernama Alergi. Alergi—dalam laporannya tersebut—terjadi karena sistem imunitas pada seseorang tidak pernah “dilatih”. Artinya sistem imunitas ini belum pernah dicoba untuk “bertarung” melawan virus atau bakteri.

Yang terjadi kemudian, sistem imunitas tersebut tidak mampu mengenali mana zat yang berbahaya dan mana yang tidak. Asma, gatal-gatal, dan bahkan dalam beberapa kasus sampai mengakibatkan kematian, sebenarnya merupakan upaya sistem kekebalan tubuh melindungi diri. Hanya sayang, reaksinya jadi berlebihan terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak berbahaya dan malah menyakiti diri sendiri.

Newman kemudian sampai pada kesimpulan bahwa pola hidup yang terlalu higienis dituding sebagai penyebab meningkatnya angka penderita alergi di negara-negara maju dan berkembang. Hal ini semakin ditegaskan fakta bahwa grafik negara miskin dan negara maju terbanding terbalik dengan angka penderita alergi.

Semakin maju sebuah negara maka akan semakin higienis warganya, dan akan semakin banyak penderita alergi di sana. Sebaliknya, semakin miskin sebuah negara maka akan semakin jorok warganya, dan penderita alergi akan bisa ditekan sampai titik terendah.

Hal yang semakin membenarkan jargon sebuah produk sabun cuci; “Nggak kotor nggak belajar.” Dan itulah sebabnya, banyak juara yang lahir dari sebuah pengalaman buruk, bahkan mungkin yang terburuk.

Belajar dari pengalaman terburuk terkesan memang sepele, tapi tidak jika kita menanyakannya pada Carlo Ancelotti kala pertandingan kedua semifinal Liga Champions 2013/2014 lalu antara Real Madrid verus Bayern Munich.

Banyak yang menyangsikan keputusan Ancelotti tetap memainkan Xabi Alonso. Ia sudah mengantongi akumulasi satu kartu kuning dari pertandingan sebelumnya. Artinya satu kartu lagi, Alonso out di pertandingan final.

Celakanya, yang ditakutkan terjadi. Sudah unggul agregat 4-0, pemain yang kini malah memperkuat Bayern itu melanggar Bastian Schwinsteiger di menit ke-39, Wasit Pedro Proenca memberikan kartu kuning. Gawat. Kartu kuning tersebut serasa kartu merah. “Saya pikir tidak adil sebuah kartu kuning menghalangi saya bermain di final,” sesal Alonso kemudian.

Kritik memang mampir, tapi Ancelotti bergeming. Bagi Ancelotti, tim asuhan Josep Guardiola masih memiliki waktu yang sangat banyak meskipun pada babak pertama Madrid menang 3-0—waktu yang dalam persepektif Ancelotti lebih dari cukup untuk bisa membalikkan keadaan.

Semua tahu cerita akhirnya, Madrid lolos ke final tanpa Alonso, dan dalam sebuah pertandingan dramatis Madrid melengkapi gelar La Decima-nya di Lisabon. Ancelotti tidak mendapatkan kemenangan itu dengan mudah—sama sekali tidak dalam pengalamannya sebagai pelatih. Dalam ingatannya, tragedi Final Istanbul 9 tahun yang lalu sangat membekas. Dan kadang masih melukai begitu dalam.

“Pertandingan berada di jalur yang tepat ketika kami unggul 3-0, tapi itu belum selesai. Saya ingat kalah di final ketika sempat unggul 3-0,” ujar Don Carletto kemudian.

Pengalaman pahit itu tidak sia-sia, kejadian yang “hampir membunuh” Ancelotti tersebut justru membawanya semakin kuat. Semakin membuatnya disegani sebagai salah satu pelatih terbaik Eropa.

Hal yang sama juga kita harapkan untuk punggawa timnas kita di ajang Piala AFF esok. Tidak hanya dalam vaksin yang sudah diterima Evan Dimas dengan pengalaman buruknya di Piala AFC U-19 lalu, tapi juga pengalaman buruk sebagai tim yang paling sering menjadi runner-up (4 kali) di ajang Piala AFF. Baik untuk pemain-pemain senior seperti Boaz, Firman Utina, Christian Gonzalez, maupun untuk Alferd Riedl sebagai pelatih di ajang yang sama empat tahun lalu saat kandas dari Malaysia di final.

Semoga pengalaman buruk tersebut bisa menjadi guru terbaik—dengan hasil gelar juara pertama tentunya. Semoga.


===

*) Penulis adalah mahasiswa Media and Cultural Studies Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), editor Penerbitan Indie Book Corner (IBC), Yogyakarta. Biasa berselancar di akun twitter: @khadafi_14

(a2s/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads