Liga Eropa Dimulai, Sepakbola Indonesia?
Senin, 22 Agu 2005 09:33 WIB
Jakarta - Dua dari empat kompetisi terbaik di dunia (Liga Jerman dan Liga Inggris) sudah bergulir, sedangkan dua lainnya, yakni Liga Spanyol dan Liga Italia, akan menyusul minggu depan.Saya yakin bahwa kita, fans di Indonesia, akan ikut sibuk mengikuti perkembangan liga-liga tersebut sampai pertengahan tahun depan. Belasan pertandingan di layar kaca setiap minggu rasanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan akan sepakbola.Maka segala informasi yang menyangkut klub atau pemain kesayangannya, sampai berita-berita lain seputar liga tersebut, akan dicari lewat berbagai cara: mulai dari melahap koran, majalah atau tabloid, mengakses internet, sampai membicarakannya dengan teman atau rekan sejawat.Liga Eropa memang layak menjadi candu, sampai-sampai orang rela mengurangi jam tidurnya untuk menonton pertandingan tengah malam. Dengan sentuhan industri dan kemasan sisi entertainment, sepakbola mancanegara punya daya magis yang mampu menyedot pecandunya begitu dalam.Sejujurnya, saya tidak mau "merusak" pembahasan sepakbola Eropa dengan mengaitkannya ke dunia sepakbola Indonesia. Toh pembandingan yang akan muncul selalu dipastikan berujung pada kondisi ironi. Seorang teman saya selalu menghindari menonton pertandingan Liga Indonesia di hari Minggu setelah di malam sebelumnya menyimak laga Liga Inggris, agar tidak melangkah mundur. "Abis nonton Premiership, nonton Ligina. Kebanting banget, deh," seloroh dia.Tapi apa boleh buat, saya tinggal di negeri ini, yang jutaan penduduknya sangat menggemari dan mencintai sepakbola. Saking gemarnya, sebagian dari mereka malah menjadikan sepakbola dalam negeri menjadi permainan yang mengerikan.Lihatlah betapa hampir setiap minggu ada saja kabar tentang tawuran antarsuporter, penyerbuan penonton ke lapangan, pelemparan terhadap wasit, atau pemukulan terhadap pemain. Itukah bukti kecintaan fans pada sepakbola? Kalau ya, cinta macam apa itu?Celakanya, para pelaku di lapangan juga bertingkah tak kalah sangar. Perkelahian antarpemain dan aksi mendorong wasit menjadi "bumbu penyedap" yang sesungguhnya membuat nilai sepakbola kita menjadi pahit getir. Profesionalisme kayak apa sih yang mau mereka jalankan?Soal wasit, saya tak tahu apakah mesti sering-sering bersimpati ataukah memaki. Bagaimanapun, diumpat, didorong, atau bahkan dipukul bukanlah perlakuan yang mengenakkan, malah bikin sakit. Tapi memang harus diakui dan disesali bahwa kualitas korps pengadil lapangan ini tak kunjung membaik.Sebenarnya saya cenderung lebih sering bersimpati karena biar bagaimanapun "wasit juga manusia". Namun mereka memang bernasib malang karena tak pernah mendapatkan jaminan bisa tenang dalam memimpin pertandingan. Tengok Liga Inggris -- duh, pembandingan itu akhirnya terlontar juga. Musim ini FA telah mengeluarkan kebijakan baru untuk melindungi para wasit dari makian dan umpatan pemain. Jika si pemain melontarkan ucapan yang dianggap menghina, maka sang wasit berhak mengusirnya dari lapangan. Itu baru kata-kata, apalagi kalau kaki atau tangan yang bermain.Celakanya, PSSI bukanlah FA, karena persoalan di tubuh organsisasi itu justru menjadi bagian dari masalah besar sepakbola nasional. Bahkan untuk mencari pimpinan yang bisa bekerja di luar jeraji besi pun lamanya minta ampun. Sudah hampir setahun Ketua Umum PSSI Nurdin Halid berstatus sebagai tahanan dan sejak bulan ini dikukuhkan menjadi penghuni lembaga pemasyarakatan, setelah divonis hukuman penjara 2,5 tahun dari kasus impor beras ilegal.Tapi begitulah. Kesempatan memperbaiki citra pun tidak direspons dengan cepat oleh pengurus PSSI. Hingga kini musyarawah luar biasa (munaslub) belum jelas kapan akan diadakan. Tak heran jika nasib kehidupan sepakbola di negeri ini selalu dalam keadaan tidak jelas.*) Penulis adalah redaktur pelaksana detiksport.com, namun isi tulisan tidak menggambarkan sikap/pendapat institusi tempat penulis bekerja. **) Redaksi juga menerima sumbangan tulisan bersifat opini dari pembaca yang bisa dikirim melalui imel ke redaksi@detiksport.com. Sertakan keterangan singkat biodata anda, dan kalau ada sisipkan foto. Redaksi berhak mengedit setiap naskah yang masuk dan akan dipublikasikan. (a2s/)










































