Catatan Piala ASEAN U-20
Ruang Belajar yang Tidak Teroptimalkan
Selasa, 23 Agu 2005 21:14 WIB
Jakarta - Pada Abad 21 ini sepakbola merupakan sosok yang sangat populer. Dia lebih populer dari sejumlah tokoh politik atau budaya. Bahkan, saya percaya sepakbola lebih dihormati dan dipatuhi oleh semua orang di muka bumi ini dibandingkan sebuah kepercayaan. Dalam menikmati sepakbola semua orang menanggalkan identitasnya, status sosialnya, serta jenis kelaminnya. Tegasnya, bila dilakukan pemungutan suara, saya yakin setengah penduduk Palembang menyukai sepakbola.Baru-baru ini selama dua pekan, 5-19 Agustus 2005, masyarakat Palembang disodorkan event sepakbola yang langka --mungkin kali pertama-- yakni Piala ASEAN U-20. Piala ini diikuti semua negara Asia Tenggara, kecuali Myanmar, plus satu tim tamu dari Asia Selatan yakni Maladewa.Sejak awal, para pengamat maupun penikmat sepakbola memperkirakan Thailand, Singapura, Indonesia, Malaysia atau Vietnam yang meraih gelar juara. Di penyisihan grup, kelima negara tersebut diyakini akan menghabisi tim-tim underdog dengan mudah.Ternyata, di lapangan sepakbola Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, prediksi itu hancur. Laos dan Myanmar yang sebelum turnamen dipandang sebelah mata justru menjadi juara grup. Laos bahkan selama penyisihan grup tidak pernah kalah dan hanya satu kali seri. Sedangkan dua tim yang dipersiapkan jauh-jauh hari --bahkan sempat berlatih di Eropa-- yakni Thailand dan Singapura tersingkir dalam penyisihan grup. Indonesia sebagai tuan rumah, yang didukung ribuan penonton setiap kali bertanding, juga turut tersingkir.Babak semifinal hanya menempatkan dua tim favorit lainnya yakni Malaysia dan Vietnam. Namun yang terjadi selanjutnya Malaysia ditekuk Myanmar 0-1 di partai final (di penyisihan grup Myanmar menang 2-1) dan Vietnam dibantai Laos 4-1.Dengan fakta di atas, ada hal yang mengejutkan persepakbolaan Asia Tenggara yakni bangkitnya "si anak bawang" Laos yang selama ini menjadi ladang gol setiap kali diadakan turnamen sepakbola di Asia Tenggara. Sementara Myanmar yang sempat terpuruk sekian tahun sebagai kekuatan sepakbola Asia Tenggara, kini bangkit lagi.Oke, kira-kira mengapa sepakbola Laos bangkit, padahal negara ini mungkin kondisinya tidak bedanya dengan Timor Leste yang baru merdeka.Tampaknya pemerintah dan masyarakat Laos sangat sadar negara mereka tertinggal dari negara-negara lain di Asia Tenggara. Baik di bidang ekonomi maupun olahraga. Selama ini negara yang kehidupan masyarakatnya tergantung Sungai Mekong mungkin jarang sekali dikutip dalam pemberitaan di Indonesia. Bahkan, bukan tidak mungkin, di antara kita sama sekali tidak tahu bagaimana bentuk bendera negara yang dijajah Prancis dan menyatakan kemerdekaannya pada 1 September 1945.Sadar dengan kekurangan itu, "negeri sejuta gajah" itu mencoba memanfaatkan sepakbola untuk memperbaiki citra dan harga diri di tingkat international. Dengan modal seadanya --berdasarkan pengakuan pelatih tim sepakbola Laos Saysana Savatdy --seperti dana, fasilitas, pengetahuan, Pemerintah Laos membangun proyek masa depan sepakbola Laos. Ketekunan dan kerja keras telah membuktikan proyek itu. Tim Laos merupakan anak-anak muda yang pantang menyerah, bertenaga, tapi fair play, tidak seperti para pemain Malaysia atau Vietnam yang terkesan licik di lapangan sepakbola.Meskipun turnamen ini tidak begitu besar, tapi sekali lagi, sebuah kado kemerdekaan yang manis buat Laos dan kado pahit buat Indonesia. Ruang BelajarPertanyaan pentingnya, apakah para penikmat sepakbola di Palembang mengikuti bagaimana tim Laos bermain. Tampaknya tidak semuanya. Sebab Stadion Gelora Sriwijaya nyaris sepi setiap kali tim dari negara lain bertanding, kecuali menjadi lawan Indonesia.Dilihat dari rasa nasionalisme, sikap ini merupakan sikap positif. Tetapi, sebagai ruang belajar, tampaknya sikap ini sangat merugikan. Terbukti, tidak semua penikmat sepakbola melihat bagaimana tim underdog seperti Laos menjadi tim yang solid meskipun bermain di kandang lawan. Ironisnya pula, para pelajar tidak teroptimalkan dalam memanfaatkan turnamen itu sebagai ruang belajar.Minimnya para pelajar SMP maupun SMA, yang usianya tak lebih dari 20 tahun seperti juga para pemain sepakbola yang tengah bertanding, sebenarnya bukan semata tidak berminatnya mereka pada sepakbola. Sejumlah pihak menilai itu semua sebagai kegagalan sekolah dan departemen pendidikan dalam memobilisasi pelajar ke Stadion Gelora Sriwijaya --sebagaimana tradisi turnamen di Indonesia.Namun, bila Pemerintah Palembang ingin mengubah tradisi mobilisasi dalam menyelenggarakan sebuah turnamen olahraga, juga terasa gagal. Magnet turnamen yang hanya menyodorkan sepakbola tentu saja bukan suatu jaminan. Survei soal kemampuan pelajar membeli karcis -- meskipun harga tiket lebih murah dibandingkan konser musik-- terasa tidak ada. Panitia terkesan dengan menurunkan harga tiket dari Rp 7.500 menjadi Rp 5.000 sudah cukup menjamin pelajar mau menonton sepakbola.Panitia seakan tidak sadar, bahwa lokasi Stadion Gelora Sriwijaya yang berada di Jakabaring -- kendaraan umum masih jarang dan harga makanan dan minuman relatif lebih mahal -- menyebabkan penonton harus mengeluarkan biaya lebih besar.Sentuhan hiburannya pun kurang. Terlalu kaku. Baleho kampanye piala ini yang menampilkan sosok Gubernur Sumatra Selatan Syahrial Oesman dan Walikota Palembang Eddy Santana Putra dengan pakaian dinasnya, terkesan sangat kaku. Mengapa sih tidak menampilkan sosok mereka sambil menendang atau memegang bola dengan mengenakan pakaian olahrga, sehingga terkesan sportif, ringan dan fun seperti seleranya para pelajar, kata seserorang.Selain itu, pendekatan keamanan yang terkesan berlebihan juga menyebabkan penonton pelajar "takut" menonton sepakbola. Aparat keamanan seperti tidak mengerti "begitulah orang muda menonton sepakbola". Seharusnya aparat keamanan membuat nyaman para penonton, bukan memancing penonton (terutama pelajar) bereaksi atas sikap berlebihan itu.Cobalah belajar dari para pelatih maupun manager tim sepakbola Laos dan Myanmar yang memperlakukan penonton sebagai raja dan penuh hormat.Sebenarnya Pemerintah Palembang maupun Sumatra Selatan sudah sadar bahwa sepakbola adalah alat kampanye yang efektif buat pembangunan. Hanya, mereka harus banyak belajar dari Italia, Brasil, Inggris, Jerman atau Jepang bahwa sepakbola merupakan proyek kebudayaan, bukan jamuan makan buat investor saja. *) Penulis adalah wartawan detikcom yang sehari-harinya bertugas di Palembang. Selain sebagai jurnalis, ia juga aktif menulis karya sastra seperti puisi, novel, dan skenario drama. Novel terakhirnya yang telah terbit tahun ini berjudul Juaro.**) Redaksi juga menerima sumbangan tulisan bersifat opini dari pembaca yang bisa dikirim melalui imel ke redaksi@sdetiksport.com. Sertakan keterangan singkat biodata anda, dan kalau ada sisipkan foto. Redaksi berhak mengedit setiap naskah yang masuk dan akan dipublikasikan. (a2s/)











































