Sepakbola adalah Agama

Sepakbola adalah Agama

- Sepakbola
Jumat, 02 Sep 2005 20:01 WIB
Sepakbola adalah Agama
London - Sepakbola adalah agama. Kalimat seperti itu sering digunakan untuk menggambarkan kefanatikan para pendukung sepakbola di beberapa negara seperti Brasil dan Inggris.Dan menyaksikan apa yang terjadi di Inggris, secara sosiologis mungkin kalimat sepakbola adalah agama bisa dibenarkan. Cobalah Anda saksikan setiap hari Sabtu atau Minggu, saat pertandingan sepakbola digelar. Stadion-stadion sepakbola di Inggris selalu ramai dipenuhi oleh penonton. Mereka yang tak sempat menonton, kalau pertandingan itu disiarkan di televisi, akan memenuhi pub-pub atau tempat minum untuk menontonnya. Atau kalau tidak, menonton dari rumah masing-masing.Kalaupun tak sempat menonton, mereka akan mendengarkan radio, atau menyaksikan potongan pertandingan serta analisisnya yang disiarkan beberapa jam setelah pertandingan usai.Bukan itu saja, mereka juga tak segan untuk menelpon radio, televisi atau klub yang bersangkutan untuk ikut urun rembuk, mengungkapkan kekecewaan, menyatakan kepuasan atau menyampaikan unek-unek apapun yang ada di hati mereka.Sebuah ketaatan yang luar biasa. Persis dengan bagaimana umat beragama jaman dulu memenuhi rumah peribadatan masing-masing. Siklus kehidupan penggemar bola berpusat pada peribadatan di stadion, menonton pertandingan bola.Di Inggris haruslah diakui gereja telah tersubstitusi oleh stadion sepakbola. Sementara setiap minggu gereja melompong, silakan saja datang ke stadion sepakbola untuk melihat sebaliknya.Dalam siklus kehidupan selama satu minggu maka penantian untuk ke stadion sepakbola atau menunggu pertandingan bola adalah klimaksnya. Semua daya upaya kehidupan, stadion sepakbola adalah klimaksnya. Yang lain adalah penting, tetapi sepakbola adalah yang terpenting.Bayangkan stadion tersebut sebagai rumah ibadah, maka khotbahnya adalah drama yang terjadi di lapangan sepakbola. Pertandingan sepakbola adalah sebuah representasi cerita kehidupan. Nilai-nilai kehidupan, kebenaran, yang buruk dan yang baik, semuanya bisa tercerminkan dalam sebuah pertandingan sepakbola.Tentu saja masing-masing kepala akan memaknainya secara berbeda, menafsirkan kejadian secara berbeda, tergantung sudut pandangan maupun kesebelasan mana yang didukung. Tetapi bukankah agama juga demikian. Satu agama saja seringkali mempunyai penafsiran ajaran yang berbeda, apalagi yang berbeda agama.Itulah sebabnya para penganut (satu) agama seringkali mempunyai aliran-aliran dan kelompok-kelompok di dalamnya. Di samping mempunyai ketaatan terhadap agama, mereka ini mempunyai ketaatan terhadap aliran-aliran dan kelompok ini. Coba bandingkan dengan bagaimana para penggemar sepakbola mempunyai klub-klub yang mereka dukung dengan berbagai alasan mereka sendiri.Ketaatan dan kesetiaan para penggemar sepakbola Inggris terhadap sepakbola dan klub yang mereka dukung ini tak kalah dengan ketaatan para penganut agama yang taat.Dari segi materi tak jarang, para penggemar sepakbola Inggris ini menghabiskan sebagian besar uang mereka untuk menghapus dahaga ketaatan mereka. Semua atribut yang menunjukkan mereka anggota pendukung sebuah klub dipenuhi, karena itulah salah satu tanda ketaatan mereka.Tentu saja tidak seperti agama yang sesungguhnya, yang juga berbicara tentang nilai-nilai transendental dan kebenaran hakiki yang dikatakan akan ditemukan setelah kematian, ukuran kebenaran hakiki sepakbola berakhir pada kemenangan dan apakah satu klub atau kesebelasan menjadi juara atau tidak. Sangat profan.Manajer sepakbola tak ubahnya penggembala umat. Besar dan tidaknya sebuah klub sepakbola tergantung bagaimana sanga manajer mengelola kesebelasannya.Semakin sukses sebuah klub bola semakin banyak pendukungnya. Semakin bisa manajer membawa klub meraih kemenangan, tanah yang dijanjikan, "surga", semakin banyak umatnya.Manajer adalah nabi-nabi, pemain adalah pendeta-pendeta dan pendukung adalah umat.----*) Penulis adalah kontributor detikcom di London, pemerhati sepakbola khususnya Liga Inggris.**) Redaksi menerima sumbangan tulisan bersifat opini dari pembaca yang bisa dikirim melalui imel ke redaksi@detiksport.com. Sertakan keterangan singkat biodata anda, dan kalau ada sisipkan foto. Redaksi berhak mengedit setiap naskah yang masuk dan akan dipublikasikan. (a2s/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads