Mau Apa di Babak 8 Besar?

Mau Apa di Babak 8 Besar?

- Sepakbola
Rabu, 14 Sep 2005 11:01 WIB
Mau Apa di Babak 8 Besar?
Yogyakarta - Saya sempat heran dengan perilaku teman sekantor saya tentang hobinya pada sepakbola. Setiap membolak-balik tabloid olahraga terkenal Indonesia, ia akan melewatkan suplemen sepakbola nasional yang berjumlah delapan halaman itu. Anehnya, hal tersebut berulang lagi untuk edisi berikutnya dan lagi dan lagi."Emangnya ada apa sih dengan sepakbola nasional?" tanya saya kepadanya. Ia pun memberi alasan bahwa sepakbola kita tidak menarik, banyak rusuhnya dan semua tentang wasit yang dipukuli atau pesta protes tentang keputusan wasit.Mau tak mau saya pun menerima subyektivitas fans PSMS Medan ini. Tapi benarkah sepakbola Indonesia tidak lagi menarik?Jika melihat skil teknis pemain-pemain Ligina dan membandingkannya dengan liga-liga Eropa, saya setuju dengan hal itu, namun tidak sepenuhnya sepakat. Saya melihat bahwa ada 'ciri khas' tersendiri dari permainan tim-tim di Indonesia yaitu terkadang memiliki pola permainan, terkadang tidak. Hal itulah yang membuat hasil pertandingan di Liga Indonesia sulit ditebak.Dukungan suporter juga menjadi salah satu faktor yang membuat suasana pertandingan menjadi menarik, dengan catatan 'tidak berlebihan'. Nyanyian penambah semangat, crowd waving, tabuhan tamborin atau drum untuk mengiringi pemain berlaga membuat stadion menjadi semarak.Sayangnya alasan teman saya yang mengatakan sepakbola Indonesia tidak lagi menarik lebih dominan mewarnai liga kita. Aksi pemukulan dan kekerasan, sikap pemain yang kekanak-kanakan, anarkisme, banyaknya keputusan wasit yang kontroversial, stadion yang tidak memadai, panpel yang tidak becus bahkan sikap Komdis PSSI yang tidak tegas menjadi penguat kondisi 'tidak menarik' itu.Ya, inilah fenomena sepakbola Indonesia. Penuh kontroversi minim inovasi. Akankah ini berjalan terus?Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Namun ada nada harapan bahwa kondisi tersebut sedikit lebih baik untuk pagelaran akbar sepakbola Indonesia paling dekat, yaitu babak delapan besar.Terobosan demi terobosan dibuat PSSI untuk mengurangi kondisi 'tidak menarik' tersebut, salah satunya adalah mengubah tempat pertandingan Grup C dari Lebak Bulus (kandang Persija Jakarta) ke Gelora Bung Karno. Langkah tersebut untuk meminimalisasi potensi kerusuhan antarsuporter tiga tim yang terkenal ganas, yaitu Bonek (Persebaya), Panser Biru (PSIS Semarang) dan The Jak (Persija).Langkah lain adalah memilih wasit yang dianggap paling adil dalam memimpin pertandingan. Ini mungkin sedikit lebih sulit karena penilaian PSSI tentang wasit yang berkompeten untuk memimpin pertandingan tidak diamini oleh sebagian delapan tim yang berlaga di delapan besar. Tapi setidaknya usaha untuk menjadi lebih baik sudah dilakukan, tinggal bagaimana pelaksanaannya.Satu lagi yang harus dilakukan. Nilai-nilai fair play seharusnya disematkan kepada seluruh subyek yang bersentuhan dengan sepakbola. Siapa saja mereka? Sedikitnya ada delapan unsure: wasit, pemain, jajaran manajemen tim, pendukung, pihak keamanan, panpel, bahkan PSSI sendiri. Mengapa demikian? Karena di tangan merekalah kondisi masa depan sepakbola Indonesia ditentukan.Lupakan dulu komersialisasi dan mengindustrikan sepakbola Indonesia. Yang harus dilakukan untuk saat ini adalah mengorganisir, mendidik dan mendewasakan karena faktor itulah yang hingga saat ini belum dimiliki insan sepakbola Indonesia. Mungkin langkah-langkah tersebut bisa membuat sepakbola Indonesia lebih menarik lagi. Seperti era Galatama dan Perserikatan, di mana sepakbola adalah sarana olahraga dan hiburan, tempat sambung rasa dan silahturahmi. Mungkinkah itu terjadi lagi?Semoga saja, saya juga ingin melihat teman sekantor saya membuka halaman sepakbola nasional kita dengan bangga dan berdiskusi mengenai prestasi tim kita di tingkat dunia, bukan tentang kerusuhan dan kontroversi. ===*) Penulis adalah reporter detiksport yang kecintaannya pada Persebaya masih jauh di atas tim asing favoritnya, Liverpool. Isi tulisan tidak menggambarkan sikap/pendapat institusi tempat penulis bekerja. **) Redaksi juga menerima sumbangan tulisan bersifat opini dari pembaca yang bisa dikirim melalui imel ke redaksi@detiksport.com. Sertakan keterangan singkat biodata anda, dan kalau ada sisipkan foto. Redaksi berhak mengedit setiap naskah yang masuk dan akan dipublikasikan.. (a2s/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads