Pejabat dan Sepakbola

Pejabat dan Sepakbola

- Sepakbola
Kamis, 29 Sep 2005 21:54 WIB
Pejabat dan Sepakbola
Jakarta - Kompetisi Liga Djarum Indonesia 2005 telah tuntas. Persipura Jayapura menasbihkan diri sebagai tim yang layak diberi julukan "Mutiara Hitam"'. Dengan permainan yang memang lebih mengkilap, Persipura berhasil menjinakkan "Macan Kemayoran" di babak final dengan skor 3-2.Sebelum babak final digelar, publik sepakbola terpaksa harus geleng-geleng kepala dengan "keputusan politis" Bambang DH yang menginstruksikan Persebaya agar mundur dari babak 8 Besar. Lepas dari alasan mengapa Persebaya harus mundur, pantas dipersoalkan apakah instruksi Bambang DH itu instruksi sebagai ketua umum Persebaya atau instruksi sebagai Walikota Surabaya?Inilah rumitnya sepakbola Indonesia. Boleh dibilang, sejak zaman Orde Baru, sepakbola tak pernah bisa lepas dari campur tangan birokrasi. Untung rugi terjun ke dunia sepakbola tentu sudah diperhitungkan betul oleh para pejabat dan politikus. Meski prestasi sepakbola kita "senin-kemis", toh sepakbola masih jadi sosok seksi yang memikat para pejabat dan politikus. Ini tak lepas dari popularitas olahraga ini.Saya mencatat, dari delapan tim yang lolos ke babak 8 besar Liga Djarum Indonesia 2005, tujuh tim di bawah kendali orang nomor satu di kota di mana kesebelasan itu berasal. MR Kambu (walikota Jayapura), Bambang DH (walikota Surabaya), Sukawi Sutarip (walikota Semarang), Sutiyoso (gubernur DKI), Abdillah (walikota Medan), Ilham Arief Sirajuddin (walikota Makassar), HA Maschut (walikota Kediri) adalah ketua umum dari tujuh tim yang lolos Babak 8 besar.Satu-satunya tim yang relatif bebas dari pengaruh pejabat dan politisi adalah Arema Malang. Secara historis, Arema memang bukan eks-tim perserikatan. Sementara tujuh tim di atas adalah eks-perserikatan. Di luar tujuh tim di atas, masih ada puluhan tim eks-perserikatan yang "pejah gesang nderek bupati/walikota", baik itu yang berlaga di Divisi utama, Divisi I atau Divisi II.Tentu tidak sulit menebak mengapa banyak tim yang masih tergantung pada para pejabat. Selama ini pejabat pemda melalui APBD menggelontorkan dana milyaran rupiah untuk tim-tim yang berlaga di kompetisi Liga Indonesia. Selain mendapat suntikan dana dari ABPD, tim-tim ini juga mendapat subsidi dari PSSI dan masih dipersilakan mencari sponsor tambahan. Masih ada pemasukan lain: uang dari tiket penonton dan uang dari hak siar tayangan televisi. Betapa manja tim-tim ini!Para pemain menikmati gaji yang cukup -- untuk ukuran rata-rata penghasilan orang Indonesia. Para pejabat memetik popularitas dari sepakbola secara gratisan. Rakyat Indonesia tidak mendapat apa-apa dari sepakbola, selain prestasi klub dan timnas yang begitu-begitu saja. Padahal rakyatlah yang secara tidak langsung membiayai sebagian besar hidup pemain yang berlaga di Kompetisi Liga Indonesia. Ya itu tadi, melalui dana APBD bukan melalui kocek pribadi para pajabat, birokrat, atau politisi.Dengan demikian, sepakbola telah berhutang banyak pada rakyat dan bangsa ini. Tapi citra yang muncul adalah sepakbola berhutang pada "kebaikan pejabat dan politisi". Karena atas jasa DPRD-Gubernur/Walikota/Bupati-lah dana APBD untuk sebuah tim bisa gol.Menarik bila kita cermati illustrasi berikut ini. Sepakbola Italia tidak hanya menyumbangkan prestasi gemilang di lapangan hijau. Dunia sepakbola Italia juga "menyumbangkan" Silvio Berlusconi, pemilik AC Milan, untuk menjadi PM Italia saat ini. Dan Berlusconi sama sekali tidak mengandalkan APBN untuk menangguk popularitas di sepakbola dan kemudian di dunia politik. Dia merogoh kocek dan integritas pribadi dalam-dalam untuk bisa dikenal sebagai tokoh sepakbola dan politik.Goerge Weah juga tidak perlu "licik" dengan berpura-pura menjadi dewa penolong sepakbola Liberia untuk kemudian menjadi calon presiden. Dia adalah Pemain Terbaik Dunia 1993. Artinya, sepanjang hidup yang dilaluinya memang untuk sepakbola. Dan kini setelah memberikan hidupnya untuk sepakbola, dia ingin menyumbangkan hidupnya untuk rakyat Liberia melalui jalur politik.Dan semua orang tahu siapa Pele tanpa harus menjelaskan apa dan siapa dia. Setelah menyumbangkan bakat terbaiknya di dunia sepakbola, kemudian Pele terjun ke dunia birokrasi sebagai Menteri Olahraga di awal 90-an. Oleg Blokhin adalah pemain terbaik Eropa tahun 1975. Bersama Dynamo Kiev, dua kali Blokhin mempersembahkan dua gelar Piala Winners. Wajar saja kalau perjuangannya memeras keringat di kemudian hari mengantarkannya ke kursi Parlemen Ukraina melalui Partai Demokratik Sosial. Apalagi sekarang Blokhin berhasil membuat sejarah dengan mengantarkan Ukraina ke putaran final Piala Dunia 2006.Dan, orang pun mahfum seandainya pada tahun 1991 Bernard Tapie menjadi pejabat setingkat Gubernur di wilayah Cote d'Azur (yang membawahi kota Marseille). Prestasi Olympique Marseille pada awal dekade 90-an memang luar biasa. Mereka berhasil maju ke babak final Piala Champions dan hanya kalah adu penalti 3-5 dengan Red Star Beograd. Tapi semua orang Prancis tahu, Tapie adalah pemilik Olimpique Marseille dan telah memberikan segala-galanya bagi sepakbola Prancis.Kini sepakbola kita menghadapi ulah walikota yang tidak jelas apa jasanya buat sepakbola negeri ini. Jabatan walikota Surabaya plus ketua umum Persebaya, rupanya dianggap sebagai legitimasi untuk menarik mundur timnya. Padahal para pemain dan pelatih sudah sangat ingin bertanding melawan Persija. Di luar itu, harapan PSM dan PSIS untuk melaju ke final Liga Djarum Indonesia 2005 langsung buyar.Untunglah Sukawi Sutarip dan Ilham Arief Sirajuddin tidak latah mengikuti langkah Bambang DH. Mungkin mereka berdua sadar belum memberikan apa-apa di dunia sepakbola, jadi lebih baik tidak ikut-ikutan merusak sepakbola kita.Kita pantas iri. Di belahan dunia lain, orang yang sudah memberikan segalanya untuk bangsa lewat sepakbola masih ingin berjuang di bidang lain. Di negeri ini, orang yang numpang "pamor" secara gratisan di ajang sepakbola dan belum memberikan apa-apa kepada bangsa ini melalui sepakbola, malah sudah terlebih dahulu merusak sepakbola.Dan kabar terkahir, Sutiyoso menolak bertanggung jawab terhadap kerusuhan yang dilakukan suporter Persija sesaat setelah Persija kalah dari Persipura. Sutiyoso malah meminta pihak pengelola Gelora Bung Karno bertanggung jawab. Itulah mental pejabat kita. Mau gratisan populer lewat sepakbola, ketika ada masalah lempar tanggung jawab.**** Penulis lahir 13 Agustus 1976 di Jepara. Sejak kecil menjadi pendukung berat Persijap Jepara. Setelah mengundurkan diri sebagai reporter wartawan Majalah Trust, penulis berwiraswasta dengan tetap mengikuti perkembangan sepakbola dalam dan luar negeri. Penulis bisa dihubungi di email: neva022@yahoo.com dan saat ini tinggal di Depok.** Redaksi menerima sumbangan tulisan bersifat opini dari pembaca yang bisa dikirim melalui imel ke redaksi@detiksport.com. Sertakan keterangan singkat biodata anda, dan kalau ada sisipkan foto. Redaksi berhak mengedit setiap naskah yang masuk dan akan dipublikasikan. (a2s/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads