Kejutan yang Takkan Lama

Kejutan yang Takkan Lama

- Sepakbola
Senin, 14 Nov 2005 10:47 WIB
Jakarta - Dalam artikel yang berjudul Kenapa Mesti Liverpool? karya Hendri Budi Satrio ("Umpan Silang" 8 November 2005), penulis menyatakan bahwa kemampuan memberikan kejutan bagi penonton adalah keunggulan yang dimiliki Liverpool.Hal itu benar. Kejutan adalah pesona dan inti dari sepak bola. Saat kita menonton sepak bola, kita tidak akan mengetahui hasil akhir pertandingan sebelum peluit panjang berbunyi. Kalaupun kita yakin salah satu tim akan keluar sebagai pemenang, kita tidak tahu berapa gol yang akan terjadi dalam pertandingan tersebut. Kita juga tidak tahu bagaimana kemenangan itu akan datang. Bukti paling sahih dari pesona kejutan adalah comeback yang luar biasa yang ditunjukkan Manchester United dan Liverpool di partai puncak Liga Champions (1999 dan 2005). MU mencetak dua gol kemenangannya di 120 detik terakhir, sementara Liverpool mencetak tiga gol pembakar semangat hanya dalam waktu 5 menit. Kejutan dalam pentas Liga Champions bukan itu saja. Dalam enam tahun terakhir, empat kali partai final menghadirkan tim underdog yaitu Valencia (musim 1999/00 dan 2000/01), Bayer Leverkusen (2001/02), FC Porto, dan AS Monaco (keduanya berhadapan di musim 2003/04)Sepakbola dunia juga tak berhenti menghadirkan berbagai macam kejutan. Dalam kurun waktu 15 tahun terakhir saja, banyak fakta di lapangan yang menunjukkan bagaimana "kekuatan kejutan" mempercantik sepak bola. Tahun 1990, pada pertandingan pembukaan Piala Dunia Kamerun mengalahkan juara bertahan Argentina. Kejadian ini terulang saat pertandingan perdana Piala Dunia 2002 di mana juara bertahan Prancis dikalahkan Senegal yang baru pertama kali ikut Piala Dunia. Daftar itu masih bisa ditambah dengan kesuksesan Kroasia menyabet perunggu di Piala Dunia 1998 dan Korea Selatan yang menembus babak semifinal Piala Dunia 2002.Di tingkat Eropa dalam kurun waktu 15 tahun terakhir juga tak absen menghadirkan kejutan. Pada Euro 1992 Denmark yang tampil sebagai pengganti Yugoslavia (yang dilarang ikut Euro 92 karena perang saudara) malah menjadi juara. Tahun 1996, Republik Ceska menjadi juara kedua. Sementara tahun 2004 Yunani menjadi Raja Eropa. Liga Indonesia rupanya tak mau ketinggalan. Di daftar juara Liga Indonesia terdapat nama Petrokimia Gresik (2002) dan Persik Kediri (2003), dua tim semenjana (underdog). Bahkan kesuksesan Persik Kediri terbilang fenomenal karena status mereka saat itu adalah tim promosi. Memasuki bulan Oktober 2005, posisi empat besar liga-liga domestik Eropa juga ditempati oleh tim-tim non-unggulan. Osasuna memimpin klasemen sementara Liga Spanyol. Wigan Athletic berada di posisi kedua Premiership. Sementara Fiorentina berada dalam tiga besar Serie A Italia. Pertanyaan UsangKiprah para tim kejutan selalu diiringi oleh pertanyaan usang, yaitu "sampai kapan mereka bertahan?" Pertanyaan ini kedengarannya memang sinis, namun relevan. Ternyata walaupun kejutan menjadi pesona dari sepak bola, suatu saat kejutan itu akan berhenti juga.Ada sebuah slogan yang dibentangkan suporter Liverpool di tribun Stadion Attaturk dalam final Liga Champions 2005. Slogan tersebut bertuliskan Form Is Temporary, Class Is Permanent (BOLAVaganza, No. 44/Juni 2005). Jika diterjemahkan secara bebas maka slogan ini berarti "bentuk adalah sementara, kelas adalah abadi." Spanduk ini bermaksud menegaskan bahwa status Liverpool adalah klub kasta atas Eropa. Status tersebut dibuktikan dengan menyingkirkan Chelsea di semifinal, klub yang lebih banyak dijagokan karena memiliki pemain-pemain lebih top daripada Liverpool. Namun yang seakan terlupakan adalah prestasi Liverpool yang lebih baik di kancah Eropa, terutama Liga Champions, daripada Chelsea. Lebih jauh, slogan itu menerangkan bahwa sepak bola tidaklah terlalu ramah terhadap para kejutan. Sepak bola tetap memilih para "pemain lama" sebagai peraih gelar. Dalam Piala Dunia 2002, kiprah Korea Selatan yang kurang selangkah lagi mencapai final, dikandaskan oleh juara dunia tiga kali Jerman. Valencia yang dua kali berada di final Liga Champions (musim 1999/00 dan 2000/01) dua kali pula takluk di tangan lawannya yang merupakan "kekuatan utama" Eropa: Real Madrid dan Bayern Muenchen. Yunani, raja Eropa 2004 malah gagal lolos ke Piala Dunia 2006. Kejutan memang salah satu pesona sepak bola. Hanya sayangnya hingga saat ini kiprah para tim kejutan jarang yang berakhir manis. Pada akhirnya sepak bola tetaplah milik tim-tim "kekuatan utama". Lewat fakta-fakta tersebut, kita dapat meramalkan bagaimana nasib dari Ukraina, Ghana, Togo, Angola, Pantai Gading, Ukraina, dan Trinidad Tobago atau Bahrain di Piala Dunia 2006 kelak.====*) Penulis adalah mahasiswa semester VII FISIP Komunikasi Universitas Atmajaya Yogyakarta. Saat ini tinggal di Yogyakarta. (a2s/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads