Tak Ada Perang di Sepakbola

Tak Ada Perang di Sepakbola

- Sepakbola
Jumat, 13 Jan 2006 13:28 WIB
Tak Ada Perang di Sepakbola
Jakarta - Sepakbola punya dunia sendiri. Bahkan ancaman senjata nuklir pun takkan mampu memancing perang di dunianya.Isu program nuklir Iran sedang panas-panasnya dibicarakan saat ini. Negara-negara Eropa, Amerika Serikat hingga Dewan Keamanan PBB gencar memberikan tekanan kepada Iran untuk segera menghentikan program nuklirnya. Dikhawatirkan program tersebut disalahgunakan untuk membuat senjata pemusnah.Siapa yang salah atau benar, boleh atau tidak, masing-masing pihak punya opini. Saat pemerintah Iran mengatakan programnya dengan alasan demi kepentingan sumber energi nasional, mayoritas rakyatnya tentu mendukung. Tetapi saat Amerika dan Eropa mengecam dengan kekhawatiran akan bahaya yang mungkin ditimbulkan jika nuklir sudah menjadi senjata, masyarakat internasional was-was.Nuklir benar-benar membuat dunia resah. Tetapi sehebat apapun keresahannya, sebatas itu merupakan opini tidak akan berpengaruh pada dunia sepakbola.Klub Liga Jerman, Bayern Munich menjadi contoh terkini betapa sepakbola tidak bisa diintervensi oleh kepentingan politik. Di saat negara-negara Eropa termasuk Jerman mengecam Iran, Munich justru berkunjung ke negara pimpinan Mahmoud Ahmadinejad itu untuk melakukan pertandingan persahabatan.Tentu saja Jerman geram dengan tindakan Munich. Jumat (13/1/2006) dini hari, Jerman bersama dua negara lain yakni Prancis dan Inggris baru saja melakukan pembicaraan serius di Iran, meminta penghentian program nuklirnya. Namun selang beberapa jam kemudian, sekitar 100 ribu warga Iran akan berkumpul di stadion Azadi untuk menoton Michael Ballack cs bertanding melawan klub lokal Persepolis.Secara politis, keberadaan Munich di Teheran tentu saja bisa didefinisikan sebagai bentuk dukungan. Tetapi sepakbola bukan politik. "Dalam hal ini komunikasi sangat penting, bukan konfrontasi. Kami bermain untuk penonton, jadikanlah ini menjadi soal sepakbola semata," ujar Direktur Olahraga Munich, Uli Hoeness dalam situs resmi Munich.Tokoh-tokoh politisi Jerman sudah lama mengkampanyekan agar Iran dicekal di Piala Dunia 2006. Tetapi apa bisa? Tidak! Munich yang adalah bagian dari rakyatnya sendiri tidak "tersentuh", apalagi orang lain.Sejarah memang mencatat bahwa Piala Dunia sebagai hajatan terakbar sepakbola, dua kali batal terlaksana karena perang yakni tahun 1942 dan 1946. Itu terjadi karena memang tidak mungkin menggelar pertandingan besar di bawah hujan peluru dan bom. Tetapi saat perang masih merupakan isu, sepakbola justru menjadi alat komunikasi yang sangat efektif.Di Piala Dunia 1994, Amerika Serikat yang bertindak sebagai tuan rumah sempat memancing isu program nuklir untuk menjegal Iran. Namun negara yang terjun langsung di perang teluk tahun 1991 itu justru mendapat kecaman. FIFA dengan tegas menolak. Dunia sepakbola hanya punya satu bahasa, sportifitas.Pasca Piala Dunia 1994, masih terjadi beberapa ketegangan lain. Isu paling panas terkait perang saudara di Korea Selatan dan Korea Utara yang juga memiliki reaktor nuklir. Tetapi tetap saja konfrontasinya hanya berkembang di ruang politik. Saat orang bosan berperang, sepakbola menjadi alat komunikasi yang efektif. Perang tidak akan bisa mempengaruhi sepakbola, karena perang tidak ada di dunia sepakbola. Tetapi dunia yang sedang berperang, bisa damai karena sepakbola.Sumber foto: (Warlog).====*)Penulis adalah wartawan detiksport. Isi tulisan tidak mewakili opini redaksi.**) Redaksi menerima sumbangan tulisan bersifat opini dari pembaca yang bisa dikirim melalui imel ke redaksi@detiksport.com. Sertakan keterangan singkat biodata anda, dan kalau ada sisipkan foto. Redaksi berhak mengedit setiap naskah yang masuk dan akan dipublikasikan. (lom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads