PSSI, Tanggung Jawab, Dong!
Senin, 27 Feb 2006 08:30 WIB
Jakarta - Keterlaluan! Itulah kalimat pertama begitu mengetahui Arema Malang dan Persipura tidak bisa ikut dalam Liga Champion Asia 2006. Alasannya, PSSI telat mendaftarkan pemain ke AFC dari deadline 12 Februari lalu -- alasan yang tidak bisa diterima dalam iklim sepakbola profesional. Lantas apakah dengan kasus ini PSSI dan Badan Liga Indonesia (BLI) akan bertanggung jawab?Terus-terang, saya menyangsikan sikap bertanggung jawab kedua lembaga pengelola sepakbola nasional itu. Untuk itu, jangan pernah mencoba berharap mendapat jawaban yang memuaskan dari kasus ini. Tidak perlu menuntut PSSI atau BLI bertanggung jawab karena hanya kekecewaan yang diperoleh.Demo Aremania seperti diwartakan Detiksport (25/2/2006), mungkin akan menjadi tekanan bagi kedua lembaga ini. Tapi bersiaplah menghadapi kekecewaan. Bukan artinya demo sia-sia. Karena bagaimanapun, aksi itu paling tidak bisa menginformasikan kepada khalayak "siapa itu PSSI".Tidak salah pula kalau ada sebuah media nasional yang menulis "Champions Asia, Menanti Tanggung Jawab PSSI dan BLI". Ya, itu berarti sebuah penantian tanpa akhir.Permohonan maaf memang dapat dengan mudahnya meluncur dari PSSI dan BLI. Tinggal mengumpulkan sejumlah wartawan dalam konferensi pers. Beres perkara. "Ini adalah kelalaian lembaga". Dengan renyahnya kalimat itu menghiasi sejumlah media dan dinilai sebagai bentuk penyesalan PSSI dan BLI. Tapi apakah itu menjamin adanya perubahan sikap PSSI dan BLI ke depan?Lantas ke mana kita berharap? Sulit mencari solusi kalau hanya berharap ke PSSI dan BLI. Untuk melengserkan Ketua Umum PSSI Nurdin Halid yang kini mendekam di penjara Salemba saja tidak bisa. Selalu ada pembenaran atas tindakannya. Dengan posisinya sebagai Ketua Umum, Nurdin Halid yang divonis 2,5 tahun oleh PN Jakarta Utara masih mengendalikan PSSI di selnya.Kalaulah ada sedikit harapan mungkin diarahkan kepada menteri olahraga dan olahraga (Menpora). Bagaimanapun kasus ini telah mencoreng nama baik bangsa Indonesia. Satu tindakan tegas akan menyelamatkan harga diri dunia olahraga. Saya merasa Menpora atau KONI mempunyai kuasa untuk membekukan sementara PSSI atau BLI. Kementerian Olahraga atau KONI seharusnya sudah tidak memberi toleransi lagi kepada PSSI. Apalagi, Presiden AFC Mohamed bin Hammam sudah menyatakan perang terhadap pelaku sepakbola yang amatiran.Tapi menggantungkan perubahan kepada Menpora atau KONI juga rasanya sulit. Keduanya seakan tidak berdaya ketika menghembuskan angin perubahan ke tubuh PSSI. Suara menteri dan Ketua KONI hanya dianggap angin lalu ketika mereka meminta adanya perubahan mendasar, pergantian ketua umum.Kalau begitu, lupakankah sikap PSSI, BLI, KONI atau Menpora. Kini, yang patut ditunggu adalah sikap dari Persipura dan Arema. Yang jelas, Juara liga dan copa ini berhak menuntut kompensasi atas semua potensi pendapatan dari ajang ini. Misalnya, pendapatan dari penjualan tiket, subsidi sponsor, atau bantuan AFC untuk partai tandang.Setelah itu, Saya menyarankan kedua klub ini mundur dari kompetisi Liga Indonesia. Saya kira langkah ini akan menjadi shock therapy yang ampuh -- mungkin.Arema dan Persipura ada di pihak benar. Keputusan mundur keduanya akan menjadi pengalaman berharga dalam proses pembelajaran profesionalisme sepakbola nasional. Saya yakin keputusan itu akan mengharumkan nama keduanya.Memang keputusan mundur akan membawa dampak besar, misalnya masa depan sejumlah pemain dan ofisialnya. Tentunya, klub juga harus berani bertanggung jawab terhadap nasib pemain, paling tidak memberikan pesangon.Menurut saya, pemain adalah seorang profesional yang bisa menapaki karir di mana saja, seperti Bambang Pamungkas yang bermain di Malaysia. Atau kalau mau, banting setir Arema atau Persipura bisa menampung pemain menjadi pegawai pemerintahan. Saya rasa langkah ini tidak terlalu sulit mengingat pengelola kedua klub itu pejabat teras di wilayahnya masing-masing.Saya pribadi masih menginginkan kompetisi berjalan. Tapi kalau pengelolaannya seperti sekarang, lebih baik diberhentikan sementara. Paling tidak sampai gelaran Piala Asia 2007 berlangsung. Kalau dibiarkan, Saya khawatir Indonesia juga akan didiskualifikasi sebagai tuan rumah Piala Asia 2007. Semua masih bisa terjadi!===*) Penulis adalah pemerhati sepakbola tinggal di Pandeglang.**) Redaksi menerima sumbangan tulisan bersifat opini dari pembaca yang bisa dikirim melalui imel ke redaksi@detiksport.com. Sertakan keterangan singkat biodata anda, dan kalau ada sisipkan foto. Redaksi berhak mengedit setiap naskah yang masuk dan akan dipublikasikan. (a2s/)











































