PSSI: Berdosa, Berbohong, Lalu?
Senin, 20 Mar 2006 07:40 WIB
Jakarta - Ada banyak dosa yang sudah dilakukan PSSI. Mulanya satu persatu dosa itu terus dimaklumi sehingga pengurus PSSI tidak merasa berdosa. Bahkan dengan enteng mereka sering menganggap suara para kritikus, pengamat sepakbola hingga para suporter jalanan hanya suara-suara yang tak perlu diperhatikan. Pengurus PSSI digaji dari uang rakyat, membawa amanat rakyat dan seharusnya bertanggung jawab kepada rakyat. Tapi tindak-tanduk dan segala macam kebijakan seolah-olah urusan internal PSSI semata. Saat PSSI mendapat kritik dan cacian atas kegagalan Arema Malang dan Persipura mengikuti Liga Champions Asia (LCA), dengan enteng Sekjenl Noegraha Besoes bilang: "ini adalah urusan internal dan kami akan membicarakan secara internal." Asumsinya, orang lain (di luar PSSI) tak punya hak untuk bicara soal kebijakan PSSI.Sangat panjang jika kita menjumlah ulang daftar dosa PSSI. Akumulasi dosa yang kini telah menjadi dosa-besar itu berbuah buruknya prestasi sepakbola di negeri ini. Analoginya, sebuah prestasi olahraga di era moderen harus ditopang oleh organisasi profesional, diisi oleh orang-orang cakap dan benar-benar mencintai sepakbola, mencintai bangsanya berprestasi di dunia Internasional dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Di berbagai negara yang maju olahraganya, organisasi yang mengurus sepakbola semua memakai landasan dasar di atas. Artinya, pengurus yang tidak kompeten atau dinilai buruk moralnya karena korupsi atau kejahatan yang lain dipastikan mendapat perlawanan dari publik.Perlawanan tak harus berbentuk demo besar-besaran sampai menungu korban jiwa lalu para pengurus baru menyadari harus undur diri. Perlawanan bisa saja sekadar berbentuk kritik konstruktif melalui media massa, jajak pendapat atau komentar orang-orang independen. Di negeri yang sudah sadar akan "hukum partisipasi publik" pejabat yang melakukan kesalahan akan menjadikan kritik orang lain sebagai tantangan dirinya untuk bersikap bijak. Jika memang benar-benar salah, dengan sendirinya ia langsung mengundurkan diri. Mengutip pelatih Arema Malang Benny Dollo, "Tanpa disuruh pun seharusnya pengurus PSSI mengundurkan diri." Tapi pejabat di negeri ini memang aneh. Kritik tidak akan dianggap sebagai bagian dari evaluasi, melainkan dipandang sebagai musuh yang harus dilawan balik. Logika feodal tampaknya masih kuat bercokol di otak pejabat kita, termasuk pejabat PSSI. Rakyat adalah abdi, sementara pejabat adalah raja yang harus dilayani.Logika ini jelas bertentangan dengan hukum organisasi modern di mana pejabat organisasi publik seperti PSSI harusnya melayani masyarakat, bukan sebaliknya. Karena otak feodal tersebut, jangan heran kalau PSSI sampai kini tidak punya sikap yang jelas atas dosa besarnya; gagal meraih prestasi sekadar di tingkat Asia Tenggara. Kalau dosa besar kegagalan meraih prestasi saja tidak disadari sebagai dosa, bagaimana pula dengan dosa gagalnya registrasi Arema dan Persipura masuk LCA yang sebenarnya memang urusan sepele? Ya, mungkin saja PSSI menganggap urusan itu sepele, toh sekadar soal keterlambatan sehari mengirim formulir. Orang juga mafhum kalau itu urusan sepele. Sayangnya, dampak dari hal yang sepele itu berbuah fatal, kekecewaan publik sepakbola nasional. Tampaknya masyarakat negeri ini memang berada dalam situasi sial. Di berbagai organisasi non-olahraga birokrasinya sudah membusuk. Tragisnya bidang olahraga yang seharusnya berjalan di atas rel sportivitas, kejujuran dan nilai-nilai luhur kehidupan sosial ikut-ikut membusuk! Kebusukan dalam kasus Arema dan Persipura juga sangat transparan kita lihat. Setelah jelas-jelas PSSI membuat dosa besar, sang ketua harian, Agusman Efendi dengan enteng berjanji "akan berusaha mengikutsertakan Arema Malang dan Persipura di LCA 2007." Janji itu diungkapkan saat kantor PSSI digeruduk ratusan suporter Aremania. Ini adalah jawaban klise, asal bunyi dan jelas diniatkan untuk sekadar melegakan kemarahan para demonstran.Kita semua tahu tidak mungkin janji itu terealisasi. Arema mendapat tiket LCA 2006 karena berhasil memenangi Copa Indonesia 2005, sedangkan Persipura mendapat tiket ikut serupa setelah menjuarai Liga Indonesia 2005. Lalu bagaimana dengan janji Agusman tersebut? Bukankah tahun 2006 ini ada kompetisi liga dan Copa?Mungkin tidak ada persoalan jika Arema dan Persipura mengulang prestasi tersebut di musim ini. Jika tidak? Bisakah Indonesia mengirimkan empat klub untuk ikut serta LCA? Atau jika Arema dan Persipura tidak menjadi juara salah satu kompetisi di Indonesia, maukah klub yang menjadi juara Liga dan Copa Indonesia diganti Arema dan Persipura di LCA?PSSI mungkin saja bisa menjamin Arema dan Persipura mendapat tiket LCA 2007. Namun itu hanya dengan satu syarat, yakni merekayasa Arema dan Persipura menjadi juara Liga dan Copa 2006. Kalau ini benar-benar dilakukan, maka kiamat sudah dekat! Dan setelah itu akan lebih baik jika tidak ada kompetisi yang diselenggarakan PSSI.Sekarang, situasi semakin runyam. Sikap PSSI setelah berbuat dosa malah membuat janji palsu. Ibaratnya, satu kebohongan hanya bisa dihindari dengan kebohongan lagi. Itulah sikap PSSI yang sebenarnya. Mengeluarkan kebijakan bohong yang kemudian ditidaklanjuti dengan sejumlah kebohongan. Dan ini adalah kesengajaan, kebijakan yang membabi-buta, tak pakai akal sehat.Kita tidak bisa lagi berharap perubahan dari tubuh PSSI sendiri. Analognya, "mana mungkin orang gila sadar dirinya gila?" Lagi pula sangat naif jika restrukturisasi pengurus dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya direstrukturisasi. Seandainya dilakukan, toh sifatnya hanya tambal sulam. Yang kita butuhkan sekarang adalah sikap pemerintah dan DPR secara serius untuk membongkar kebusukan dan kemunafikan di tubuh PSSI. Presiden melalui Menegpora harus segera mengambil sikap. Jangan lamban! Saya berharap supaya presiden sadar bahwa sepakbola perlu diperhatikan. Jangan sampai hanya karena Presiden hobi voli dan Menegpora gemar bulutangkis lantas sepakbola diabaikan.Kita butuh perubahan mendasar di PSSI. Mari kita bongkar rumah tua yang sudah rapuh itu. Segera renovasi agar publik sepakbola nasional merasa nyaman dan optimis mencapai prestasi di bawah atap PSSI yang baru, PSSI yang jujur, profesional dan punya visi untuk bangsa ini.====* Penulis adalah pecinta Sepakbola** Redaksi menerima artikel atau tulisan bebas dari pembaca yang bisa dikirim melalui imel ke redaksi@detiksport.com. Sertakan keterangan singkat biodata anda, dan kalau ada sisipkan foto. Redaksi berhak mengedit setiap naskah yang masuk dan akan dipublikasikan. (a2s/)











































