Beberapa Kesalahkaprahan Mengomentari Sepakbola

Beberapa Kesalahkaprahan Mengomentari Sepakbola

- Sepakbola
Senin, 27 Mar 2006 16:52 WIB
Jakarta - Ada beberapa kesalahkaprahan pada masyarakat dalam kaitan persepakbolaan. Berikut ini penulis sampaikan tiga di antaranya : Menjagokan-MendambakanSebagian penonton tampaknya susah membedakan antara "menjagokan" dan "mendambakan" saat ditanyai seputar prediksi sebuah pertandingan, seolah-olah kedua kata itu sama, padahal jelas berbeda. Mendambakan biasanya bersifat "subjektif-irasional" serta terbentuk akibat faktor emosional seorang fans terhadap tim kesayangannya. Jadi kurang mempersoalkan realitas kekuatan. Sedangkan menjagokan cenderung bersifat "objektif- rasional". Orang memilihnya berdasarkan hasil pengamatan yang kemudian dianalisis sampai menghasilkan kesimpulan -- meskipun sering juga dipengaruhi faktor emosi.Logikanya begini: misalkan berlangsung duel persahabatan Indonesia versus Italia di tempat netral. Apakah kita sebagai warganegara akan mendambakan Indonesia menang? Rasanya, ya. Tanyalah pada setiap diri kita, akan terbayang sebuah kepuasan, konfidensi, atau kebanggaan bila itu menjadi kenyataan. Tetapi kalau mau jujur, pikiran kita cenderung menjagokan Italia. Karena kita tahu peta kekuatannya jauh sekali, termasuk dilihat dari peringkat dunia. Kecuali kalau kita tak mempunyai informasi/referensi sama sekali. Ya mungkin saja selain mendambakan juga menjagokan negeri ini. Kacamata matematika Saya beberapa kali mendengar pernyataan komentator sepakbola di televisi: "Sepakbola tidak bisa dilihat dari kacamata Matematika". Terus terang, itu menunjukkan sikap pasrah, seolah-olah kedua bidang tersebut dikotomis. Yang benar bukan "tidak bisa", tetapi "sangat komplek". Seperti diketahui, salah satu sifat pertandingan sepakbola ialah banyaknya variabel seperti keterampilan, kesehatan, kekuatan, kecepatan, sampai ketahanan. Setiap tim mempunyai ukuran masing-masing. Meskipun sifatnya kuantitatif, tetapi dengan membandingkan antartim satu sama lain, akhirnya bisa juga dihasilkan daftar dalam bentuk angka. Nah untuk mencari kesimpulan mau tidak mau berbagai bentuk hitungan harus dilibatkan. Berarti 'kan matematika sudah terlibat di dalamnya? Justru kalau kita mau merenungkan masalah itu lebih mendalam akan diperoleh berbagai pertanyaan seperti mengapa terkadang terjadi suasana lingkaran mengalahkan pada sebuah grup kompetisi sepakbola, seperti pada Piala Dunia : A kalahkan B; B kalahkan C; C kalahkan D; dan D kalahkan A. Di negara maju fungsi matematika dalam analisis sepakbola bagi tim nasional sangat diandalkan meskipun tampaknya kurang dipublikasikan. Kualifikasi prediksi Dalam perbincangan sepakbola sering timbul kesan: menilai suatu perkiraan dengan kenyataan. Bila tepat dianggap akurat, kalau salah dituduh gampangan. Itu kesan yang salah kaprah. Bagaimanapun wajarnya "perkiraan" terhadap hasil pertandingan, hal tersebut tidak bisa menjamin menghasilkan kenyataan, tapi tetap harus diakui dan dihargai. Misalkan sebuah perkiraan "Indonesia akan kalah dari Jerman" tapi faktanya terbalik. Kita harus tetap menghormati perkiraan tersebut sebagai bobot intelektual berkualitas karena memang datanya mengisyaratkan demikian. Bila banyak perkiraan meleset, berarti adanya data terabaikan atau terlupakan sehingga tidak menjadi input menjelang mengambil keputusan. Bisa saja sang komentator tidak tahu bahwa dua hari menjelang pertandingan, misalnya, rombongan tim Jerman pergi ke restoran, kemudian makan sesuatu yang membuat semua pemainnya mulas-mulas, sehingga mempengaruhi tingkat stamina tubuhnya masing-masing. Sedangkan sang manajer tidak mau mengumumkan keadaan tersebut agar tidak menjadi momen kesempatan bagi tim Indonesia. Sebaliknya, perkiraan jitu belum tentu mencerminkan kualitas intelektual. Seorang anak kecil disuruh menebak, siapa pemenang antara Jerman dan Italia? Lalu memberi jawaban tanpa analisis terlebih dulu dan ternyata betul. Apakah bisa dikatakan anak itu mempunyai kualitas intelektual jempolan serta pantas menjadi komentator pada acara televisi? ======* Penulis adalah pemerhati sepakbola dari aspek sains matematika teknologi, tinggal di Bandung. Untuk berhubungan atau korespondensi bisa mengirim imel ke acu@bdg.centrin.net.id ; Homepage : http://bdg.centrin.net.id/~acu** Redaksi menerima artikel atau tulisan bebas dari pembaca yang bisa dikirim melalui imel ke redaksi@detiksport.com. Sertakan keterangan singkat biodata anda, dan kalau ada sisipkan foto. Redaksi berhak mengedit setiap naskah yang masuk dan akan dipublikasikan. (a2s/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads