Perang Bintang Oke, Munaslub?

Perang Bintang Oke, Munaslub?

- Sepakbola
Kamis, 06 Apr 2006 09:52 WIB
Semarang - Proyek Perang Bintang Liga Indonesia 2006 terhitung cukup sukses. Namun kesuksesan tersebut tidak membuat publik lupa akan kondisi terakhir di rumah sepakbola nasional bernama PSSI. Betulkah?Sudah menjadi rahasia umum jika PSSI memiliki dosa besar, terutama untuk Arema Malang dan Persipura Jayapura. Apa itu? Apalagi jika bukan menggagalkan ambisi kedua tim tersebut berlaga di Liga Champions Asia musim ini.Hanya kesalahan sepele sebenarnya, yaitu telat mengirimkan berkas aplikasi pemain dan persyaratan adminsitrasi lainnya. Namun kesalahan sekecil itu memiliki pengaruh yang teramat besar. Arema dan Persipura harus didiskualifikasi dari LCA 2006.Memang sih PSSI sudah menyatakan permohonan maafnya dan berjanji untuk membayarnya di musim depan (menjamin Arema bisa berlaga di LCA 2007), namun apakah masalah tersebut berakhir dengan sendirinya?Tentu saja tidak. Musyawarah nasional luar biasa (munaslub) pun menjadi efek samping berikutnya yang muncul seputaran kesalahan PSSI itu. Pengda-pengda PSSI daerah menyatakan keseriusan niatan untuk menggelar munaslub sesegera mungkin. Bahkan Pengda PSSI Jawa Barat sudah menyatakan kesediaannya untuk menjadi tuan rumah jika jadi digelar.Namun seiring berjalannya waktu isu-isu tersebut mulai mereda. Kencangnya tiupan angin munaslub mulai berhembus sepoi-sepoi. PSSI pun sepertinya memiliki cara tersendiri untuk mengalihkan perhatian publik, termasuk menggelar Perang Bintang.Sukseskah usaha PSSI itu? Terserah publik untuk menjawabnya. Namun yang pasti publik terlihat menikmati suguhan PSSI tersebut. Lihat saja jumlah Short Message Services yang diterima pihak penyelenggara. Tercatat SMS yang masuk untuk pemain wilayah barat hingga 1 April lalu berjumlah 15.707 SMS. Sementara di wilayah timur hanya terkumpul 4.256 SMS. Jadi total SMS yang masuk berkisar 19.963 SMS.Sebuah usaha yang cukup bagus, baik dalam hal promosi maupun pelaksanaan di lapangan, meskipun masih ada sedikit masalah teknis di lapangan. Kondisi di lapangan juga cukup impresif. Penonton yang memenuhi Jatidiri, Semarang, juga merasa terhibur dengan sajian proyek PSSI itu.Tapi apakah publik akan terus terbuai oleh proyek jangka pendek PSSI itu? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Yang pasti PSSI terus dituntut untuk lebih baik dari sebelumnya.Salah satu hal yang sedikit menyita perhatian adalah, apakah munaslub akan tetap digelar. Tidak sedikit Pengda-Pengda PSSI yang setuju memfasilitasi terjadinya munaslub tersebut. Namun semuanya kembali pada sikap otoriter PSSI dan ketuanya Nurdin Halid. Jika tidak ada niatan dari pusat untuk berubah ke arah yang lebih baik, desakan pengda-pengda PSSI akan sia-sia.Bercermin pada Perang BintangTujuan utama dari munaslub tentunya untuk mereformasi tubuh PSSI secara keseluruhan. PSSI saat ini dinilai gagal dalam mengakomodasi perkembangan sepakbola Indonesia, termasuk di dalamnya penanganan timnas Indonesia, di mana skuad Merah Putih menjadi tulang punggung bangsa di kancah dunia.Laga Perang Bintang kemarin bisa menjadi patokan tersendiri. Untuk pemain lokal, mereka tampil cukup bagus. Bahkan beberapa nama seperti Ismed Sofyan, Firman Utina, Mahyadi Panggabean, Harry Salisbury, Rahmat Rivai dan beberapa nama lain tampil cukup impresif dan mengundang decak kagum penonton.Setidaknya ada satu hal yang bisa diambil kesimpulannya. Pilihan penonton terhadap pemain-pemain tersebut tidak salah. Mereka terlihat tidak kalah dalam segi skil kemampuan dengan pemain asing seperti Ronald Fagundez, Emmanuel de Porras, Zah Rahan dan beberapa pemain lainnya.Bukti bahwa demokrasi memang perlu dikedepankan. Pilihan masyarakat luas mengenai siapa yang terbaik bisa menjadi patokan tersendiri keberhasilan sebuah tujuan.Hal yang sama juga untuk PSSI. Masyarakat luas berharap untuk segera melihat perubahan besar dan struktural di tubuh PSSI. Toh, semuanya juga untuk kejayaan Indonesia.Bagaimana, PSSI?==*) Penulis adalah wartawan detiksport. Isi tulisan tidak mewakili opini redaksi.**) Redaksi menerima sumbangan tulisan bersifat opini dari pembaca yang bisa dikirim melalui imel ke redaksi@detiksport.com. Sertakan keterangan singkat biodata anda, dan kalau ada sisipkan foto. Redaksi berhak mengedit setiap naskah yang masuk dan akan dipublikasikan. (ian/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads