Kesejahteraan atlet jelas bukan satu-satunya masalah yang menyelimuti olahraga nasional saat ini. Semrawutnya pembinaan juga jadi pe er yang tak kunjung terselesaikan oleh pemerintah melalui Mennegpora dan KONI.
Kondisi inilah yang ditengarai menjadi akar masalah minimnya prestasi olahraga di tanah air. Masyarakat cenderung enggan berpartisipasi dengan menjadi atlet misalnya, maka tak heran kalau perbandingan jumlah penduduk dengan prestasi masih sangat timpang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fakta menyedihkan soal nasib kesekahteraan atlet jelas bukan barang baru. Sudah sejak lama masalah ini mengemuka meski tak kunjung ditemukan solusi yang tepat.
Apa yang menimpa mantan juara dunia tinju Ellias Pical dan mendiang Rachman Kilikili adalah contoh nyata betapa atlet yang pernah berjaya mengharumkan nama Indonesia kemudian terlunta-lunta di masa tuanya.
"Pemerintah lebih tau soal ini (kesejahteraan atlet), tapi paling tidak ada semacam dana pension untuk atlet," lanjut kakak Pia Zebadiah ini.
Selama ini dukungan dari pemerintah, baik pusat maupun daerah juga terbilang minim. Tak hanya dari segi materi, tapi pembangunan sarana dan prasarana juga baru mulai digalakkan, seperti pusat cedera atlet yang sedang dibangun di Cibubur.
Soal minimnya orang yang ingin berprofesi sebagai atlet sekarang ini, Mennegpora, Adhyaksa Dault punya pendapat yang berbeda. Publik disebutnya kini lebih tertarik pada dunia politik.
"Semenjak reformasi, orang lebih tertarik masuk ke dunia politik. Nggak dokter, pengusaha, semua berbondong-bondong jadi politisi. Sehingga olahraga kita jadi kayak gini," ucapnya.
"Buat pemerintah, sudah saatnya olahraga jadi politik luar negeri. Seperti yang Cina dan Australia sudah lakukan. Mereka menjadikan olahraga sebagai politik luar negeri," tegasnya.
(lin/din)











































