Agum: Atlet Lebih Menyenangkan Ketimbang Politikus

Agum: Atlet Lebih Menyenangkan Ketimbang Politikus

- Sport
Selasa, 20 Apr 2004 15:58 WIB
Yogyakarta - Agum Gumelar adalah sosok yang dikenal di dunia politik maupun olahraga. Namun ia mengaku lebih senang berbicara dan bergaul dengan para atlet ketimbang dengan politikus.Kenapa? Karena dalam olahraga kemenangan dapat diterima dengan rasa syukur, kegembiraan, dan kepuasan. Tapi jika kalah pun harus bisa diterima dengan lapang dada dan kebesaran jiwa. Para atlet terbiasa menyandang sikap sportif, bahwa lawan mungkin memang lebih baik atau keberuntungan belum berada di pihaknya. Demikian dikatakan Agum selaku ketua umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pusat saat berbicara dalam acara workshop Ikatan Sarjana Olahraga Indonesia (ISORI) bertema "Pengembangan Tatanan Kelembagaan Olahraga Indonesia" di Hotel Inna Garuda Jalan Malioboro Yogyakarta, Selasa (20/4/2004).Saat pertama kali menjabat posisi tersebut Agum melihat kondisi olahraga Indonesia tidak jauh berbeda atau sama dengan kondisi kehidupan bangsa Indonesia secara umum, yakni memprihatinkan. Karena dari segi prestasi jelas turun, sementara kondisi seperti itu semestinya tak bisa dibiarkan. Contohnya di SEA Games lalu kontingen Merah-Putih hanya menduduki posisi tiga besar, kalah dari β€œanak kemarin sore” Vietnam. "Menurut saya itu tidak boleh terjadi, tapi inilah potret kondisi kita," kata Agum. Yang harus dilakukan, sambungnya, adalah bagaimana semua komponen, mulai dari pengurus KONI sampai masyarakat, sama-sama bertekad bangkit dari keterpurukan. "Di masa depan olahraga harus kembali kepada khittahnya dengan ditumbuhkannya kembali jiwa sportivitas."Untuk meningkatkan sumber daya manusia yang kompetitis, lanjut Agum, saat ini KONI terus berupaya agar undang-undang olahraga segera keluar. Soal pendanaan yang selama ini selalu jadi kendala, ia mengaku sudah berbicara dengan Presiden Megawati agar BUMN-BUMN bersedia membantu beberapa cabang olahraga dengan cara menyisihkan beberapa persen keuntungan mereka. Program bapak angkat juga mesti digeliatkan, misalnya pada setiap ulangtahun sebuah instansi dilakukan kejuaraan cabang olahraga tertentu. Tujuannya adalah meningkatkan frekuensi pertandingan bagi atlet agar pengalamannya bertambah."Masak ada cabang olahraga yang baru menggelar tiga kali kejuaraan nasional selama 12 tahun. Minimal satu tahun harus ada empat kali kejurnas," ujarnya.Agum juga menteri perhubungan RI itu mengaku tahun lalu telah diajak berbicara dengan Presiden Megawati mengenai kemungkinan dimunculkannya lagi kementerian olahraga tanpa pemuda. Mengapa tanpa pemuda? "Sebab kegiatan pemuda itu lebih banyak muatan politisnya," katanya yang disambut tepuk tangan meriah oleh peserta workshop. Ketika ditanya moderator mengenai kepemimpinan nasional, Agum mengatakan saat ini harus ada kepemimpinan yang kuat, tetapi jangan diartikan militer. "Saya sedih kampanye dengan cara menuduh dan saling mencaci-maki dan seorang pemimpin yang kuat itu tanpa haru gembar-gembor dan caci-maki, sebab nanti yang kasihan adalah rakyat," demikian imbuh mantan Danjen Kopassus yang akhir-akhir ini diberitakan masuk bursa calon wakil presiden RI itu. (bgs/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads