Indonesia di Tanah Asal Olimpiade
Jumat, 13 Agu 2004 15:02 WIB
Jakarta - Untuk pertamakali Olimpiade kembali ke tanah kelahirannya Yunani. Banyak hal yang berubah, tetapi ada juga yang tetap bertahan. Bagaimana dengan kontingen "Merah Putih"?Athena dipercaya untuk menyelenggarakan Olimpiade pertama tahun 1896. Setelah diselenggarakan selama seratus tahun lebih, pesta olahraga sedunia kembali ke tanah kelahirannya, dengan berbagai perubahan.Pada Olimpiade pertama peserta dibatasi hanya kaum pria saja. Dari 14 negara yang mengikuti, 11 diantaranya memperoleh medali. Amerika Serikat keluar sebagai juara dengan 11 emas, 7 perak dan 2 perunggu. Atlet AS James Connolly juga sukses menjadi peraih emas pertama dari nomor lompat jingkat dengan jarak 13.71 meter.Namun seiring perjalanan waktu jumlah peserta serta cabang olahraga yang diperlombakan semakin banyak. Pada Olimpiade 2004 ini negara yang berpartisipasi mencapai 202 negara dan jumlah atletnya mencapai 10.500 orang.Namun ada satu hal yang tidak berubah sejak jaman Olimpiade kuno hingga Olimpiade modern saat ini. Yaitu kecurangan, baik yang dilakukan atlet, ofisial maupun pengurus. Pada jaman Olimpiade kuno dahulu, Kaisar Nero diceritakan menyogok wasit agar memenangkan jagoannya dalam pacuan kereta. Padahal saat itu jagoan Nero terjatuh dan tidak berhasil menyelesaikan lomba. Ditambah pada kereta tunggangannya dilengkapi "perlengkapan ilegal" berupa besi tajam yang bisa merontokkan roda kereta lawan.Hal seperti itu hingga saat ini masih terjadi. Hingga hari ini saja sudah banyak atlet yang terbukti menggunakan doping. Contoh terbaru ialah atlet balap sepeda Inggris David Millar dan pelari AS Torri Edwards. Uniknya penggunaan doping bukanlah mutlak kehendak atlet. Tetapi sering kali hal itu dilakukan atas anjuran dari pelatih.Bahkan di dalam tubuh Komite Olimpiade Internasional (IOC) kecurangan juga bisa terjadi. Contohnya kasus anggota IOC asal Bulgaria Ivan Slavkov yang menghadapi tuduhan penggelapan dana IOC sejak tahun 1997.Memanfaatkan momen Athena, IOC berusaha tampil sebagai "Hercules" dan membersihkan ketidakberesan yang menyangkut Olimpiade. Anggota yang bermasalah dipinggirkan termasuk Bob Hasan dari Indonesia.Tapi Indonesia bukanlah Bob Hasan. Kita masih patut berbangga karena hingga saat ini atlet Indonesia masih memiliki jiwa sportivitas yang cukup tinggi. Meskipun prestasi yang dicatatkan tidak sebanyak jumlah penduduknya, tetapi nilainya cukup tinggi karena tidak dinodai tindakan "kotor".Indonesia sudah memiliki tradisi emas dari cabang bulutangkis sejak Olimpiade Barcelona 1992. Ketika itu Susi Susanti dan Alan Budikusuma mempersembahkan dua emas. Di Olimpiade Atlanta 1996 tradisi emas diteruskan ganda putra Ricky Subagdja/Rexy Mainaky. Terakhir tahun 2000 di Sydney, giliran pasangan Candra Wijaya/Tony Gunawan yang mempersembahkan emas.Tetapi di Olimpiade tahun kali ini peluang Indonesia seakan kurang meyakinkan. Cabang bulutangkis yang menjadi andalan terlihat sedang menurun prestasinya. Contoh terakhir ialah kegagalan tim "Merah Putih" mempertahankan Piala Thomas beberapa waktu lalu. Belum lagi kekisruhan yang terjadi di PB PBSI sendiri.Memang ada cabang lain yang memberikan harapan besar, yaitu angkat besi putri. Lisa Rumbewas yang empat tahun lalu meraih medali perak, kali ini diharapkan bisa mengulang sukses tersebut, bahkan kalau mungkin meningkatkannya menjadi emas. Sayang, keberangkatan Lisa ke Athena sempat tersendat. Atlet Papua ini sempat "ngambek" dan keluar dari pelatnas karena PB PABBSI tidak menyetujui keinginannya agar ibunya ikut mendampingi ke Athena. Namun akhirnya Lisa jadi berangkat setelah keinginannya dipenuhi. Meskipun demikian tentunya kita tidak akan membiarkan 39 putra-putri Indonesia berjuang sendiri di Athena. Doa dan harapan kita tentunya tetap mengiringi usaha mereka, mengharumkan nama bangsa dan meneruskan tradisi emas. Sayangnya masyarakat Indonesia akan kesulitan mengikuti perkembangan Olimpiade yang akan resmi dibuka tengah malam (Jumat, 13/8/2004) nanti. Pasalnya tidak satupun televisi swasta yang menayangkan siaran langsung Olimpiade, kecuali melalui TV kabel yang konsumennya tentu lebih terbatas. (lom/)











































