Wartawan PON, Wartawan Popmie
Jumat, 10 Sep 2004 01:03 WIB
Palembang - Romantisme wartawan, hambatan di lapangan merupakan konsekuensi dari perburuan atas kecepatan dan keakuratan sebuah fakta. Maka, kondisi alam selama PON XVI bukan menjadi keluhan, seperti cuaca yang cukup panas dan berdebu. Namun, hampir setiap hari, selalu saja ada wartawan di Media Center PON XVI berteriak. "Malangnya nasib wartawan Popmie!" Lo? Ya, ini lantaran para wartawan yang membuat laporan di Media Center yang cukup megah itu, disodori panitia pelaksana PON XVI dengan Popmie. Keluhan ini sebenarnya tidak berlebihan. Menurut wartawan Sinar Harapan, Muhammad Nasir, mereka sebenarnya bukan mau fasilitas yang lebih dari panitia pelaksana. "Kami sih bukan minta nasi bungkus. Popmie itu sudah cukup buat kami, tapi, ya itu, setiap hari tubuh kami beratnya turun. Nggak ada gizi," kata Nasir. Memang, di Media Center PON XVI, para wartawan tidak punya pilihan lain untuk makan kecuali Popmie dari panitia. Uniknya lagi, terkadang para wartawan harus berebut dengan puluhan "wartawan dadakan" Infokom. Mereka adalah ratusan mahasiswa yang direkrut Infokom Sumsel untuk meliput di setiap venues. Di sekitar Media Center PON XVI tidak ada warung makan. Jika ingin membeli nasi, wartawan harus keluar dari Jakabaring. Situasi ini tentu saja tidak menguntungkan para wartawan yang berburu dengan laporannya. Di Media Center PON XVI memang ada warung makan. Tetapi, sore, saat wartawan baru datng dari meliput di venues-venues, warung makan itu justru tutup. Ironinya lagi, nasi di warung makan itu selain dijual cukup mahal juga sedikit sekali pilihan menunya. Artinya, pembeli mengikuti selera penjualnya. "Kami mau kok membeli, bukan gratis. Coba panitia memfasilitasi soal ini. Jangan melulu makan Popmie. Habis PON, habis pula raga kami," kata Nasir, yang selama sepekan pelaksanaan PON XVI ini sudah terserang sakit flu dan sakit gigi.Wartawan Peliput PON XVI Renungan untuk Korban BomNamun, di tengah kesibukan membuat laporan hasil pertandingan PON XVI pada hari ini, puluhan wartawan melakukan renungan untuk korban peledakan bom di Kedubes Australia, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Kamis (9/9/2004) pagi tadi.Renungan itu dipimpin Bangun Lubis dan Agus Baharuddin dari Suara Pembaharuan, mengatasnamakan 846 wartawan yang meliput PON XVI, dan dilakukan di press room Media Center PON XVI, Jakabaring, Palembang."Semoga keluarga korban yang ditinggalkan dikuatkan oleh Tuhan YME, dan semoga para pelakunya dapat ditangkap serta dihukum seberat-beratnya," kata Agus saat memimpin renungan atas kejadian yang memilukan tersebut. (key/)











































